TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 33. RAHASIA SAHABAT


__ADS_3

"Ma... Mama dengar Okan?"


Panggilan pun terputus, Okan mengira signal yang terganggu padahal sang Mama sengaja mematikan panggilannya karena tidak enak dengan Sutan Raja temannya, Papa Metha.


"Ada apa Na? Apa Okan tidak bisa kesini untuk menjenguk Metha?"


Mama Okan yang malu karena calon besannya telah mendengar percakapannya dengan Okan pun hanya mengangguk.


"Ya sudah, jangan dipaksa, lagi pula sebentar lagi Metha pasti sembuh. Metha juga mau kedua kakaknya pulang, tapi ya gitu deh...sama dengan Okan, mereka juga sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi yang dokter, istrinya sedang hamil tua."


"Wah sebentar lagi kamu bakal punya cucu, enak dong?"


"Iya sih, tapi tetap saja kesepian. Anak-anak tetap memilih berkarir di sana. Beginilah nasib orang tua, banyak anak pun akhirnya tinggal berdua."


"Aku juga belum tahu Tan, bagaimana nasibku nanti, mungkin saja nasib kita sama, setelah menikah, anak-anak akan meninggalkan kita, menata hidup mereka masing-masing."


"Makanya aku ingin Metha menikah dengan Okan, putra kamu. Biar mereka tidak tinggal jauh dari kita."


"Belum tahu juga Tan! dua minggu lagi, hasil keputusan pengajuan bea siswa Okan kuliah ke Amerika keluar. Dia akan memperdalam keahlian bedah kulit di sana, bisa jadi kan dia betah di sana dan memutuskan untuk menetap."


"Anak sulung ku juga bertugas di sana, dia Dokter spesialis kandungan."


"Boleh juga tuh kasi alamatnya, mana tahu Okan bisa mampir kesana dan tentunya Metha juga bisa kan tinggal di tempat kakaknya, jadi mereka bisa terus berdekatan."


"Aku dengar tadi putramu sudah menemukan wanita yang akan dia jadikan pendamping, lalu bagaimana nasib putriku, hatinya pasti terluka jika mendengar hal ini."


"Entahlah Tan, akupun bingung, anakku keduanya keras kepala. Okan dari dulu tidak mau diatur jodohnya, nah Oki malah seperti itu, lebih suka ugal-ugalan di jalan daripada menata masa depannya."


"Coba nanti aku bicarakan lagi dengan Okan tentang Metha, aku juga tidak ingin memiliki menantu sembarangan. Aku ingin Metha jadi istri Okan."


"Aku sangat berharap Na, kita bisa berbesan, agar pertemanan kita semakin dekat. Walau seperti yang kau tahu Metha bukan putri kandung kami tapi dia adalah kesayangan keluarga ini."


"Jadi bagaimana kabar tentang putri kandungmu?"


"Entahlah Na, sejak dia di bawa pergi, kami tidak pernah mendengar kabarnya, apa dia masih hidup atau sudah tiada. Sejak Papaku meninggal, aku sudah coba meminta orang kepercayaan ku untuk mencari berita tentangnya tapi nihil, mereka seperti di telan bumi."


Sejenak Sutan Raja terdiam, lalu melanjutkan ucapannya, "Istriku belakangan ini sering bermimpi didatangi oleh pria tua bersorban putih yang mengabarkan bahwa dia masih hidup."


Sutan Raja menarik napas dalam dan menghempaskannya dengan kasar, lalu kembali berkata, "Karena kesalahan ku dan kejamnya Papaku, putri kami harus menanggung penderitaan. Sebentar lagi usianya genap 17 tahun dan aku pernah mengatakan kepada pengasuhnya agar memberitahukan identitas dan memberikan liontin dari kami sebagai tanda pengenal. Kalau benar yang dikatakan oleh tetua adat ujung pesisir yang pernah aku temui secara diam-diam, kutukan atas kesalahanku akan hilang saat ada seorang pemuda yang benar tulus mencintai dan melamar putri kami tanpa memandang jijik akan rupanya."


"Mudah-mudahan, hal itu benar terjadi ya Tan, hingga dia bisa kembali, berkumpul dengan kalian serta hidup bahagia."

__ADS_1


"Itu yang selalu istriku pinta di setiap do'anya."


"Tapi bagaimana dengan Metha jika putri kalian kembali? Apa dia bisa menerima kenyataan ini, sedangkan kita sama tahu, dia sangat manja dan tidak mau tersaingi."


"Mudah-mudahan saja dia bisa mengerti dan kami tidak akan membedakan keduanya, mereka sama putri yang kami cintai."


"Kedua putramu bagaimana? Apa mereka tahu?"


"Ya, mereka tahu, kami sudah menceritakan semuanya kepada mereka."


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya suatu saat jika Metha tahu, keduanya bisa membantu menjelaskan kepada Metha."


Begitu lama mereka asyik mengobrol, Papa Okan yang baru menyelesaikan urusan bisnisnya di kota pun muncul.


"Wah... asyik benar kedua sahabat karib dengan obrolannya, sampai Papa diabaikan."


"Ah, Papa! bukan diabaikan, Papa saja yang asyik ngurus bisnis melulu. Bantu Mama dong, telephone Okan dan bujuk dia agar mau datang kesini."


"Iya...iya, nanti Papa coba bujuk dia, tapi Papa nggak janji ya bisa berhasil, kita kan sama tahu, anak kamu itu sangat keras kepala."


"Iya, seperti Papanya. Kalau sudah ambil keputusan susah untuk di bujuk."


Ketiga sahabat itupun tertawa, Mama Metha yang baru tiba pun berkata, "Ada apa ini, kok kelihatannya bahagia banget, lagi ngobrol apaan Pa?"


"Tapi itu kan, yang bikin Mbak Ina jatuh cinta?"


"Tahu aja Mama Metha."


Mereka pun kembali tertawa lalu memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Metha.




Okan yang mendapat telephone dari Dokter Ridwan segera mengajak Ayu untuk menemui beliau. Badan Ayu terasa panas dingin, dia takut atas hasil tes yang akan di jelaskan oleh Dokter Ridwan.



Sepertinya hasil pemeriksaan kurang baik, jika melihat dari kerut wajah serius Dokter Ridwan. Okan sudah bisa menebak hal itu, tapi dia berusaha tenang, karena apapun hasilnya tidak akan mengubah cintanya terhadap Ayu.


__ADS_1


"Bagaimana Dok hasilnya?" tanya Okan mulai memecah keheningan.



"Saya belum pernah menemukan kasus seperti ini, biasanya tanda lahir itu seringkali hanya di bagian kulit, jadi dengan operasi bisa hilang. Tapi kasus Ayu beda, tanda seperti sisik ini sampai ke dalam daging dibawah lapisan kulit, jadi jika kita operasi pun di perkirakan bakal tumbuh kembali."



Ayu yang mendengar hal itupun meneteskan cairan bening di kedua sudut matanya, harapannya untuk memiliki wajah normal sirna. Setegar apapun Ayu, dia hanya seorang wanita yang memiliki hati lembut dan bersenjatakan air mata.



Okan tahu bagaimana perasaan Ayu, dia menggenggam tangannya untuk menguatkan hati Ayu, agar jangan putus asa.



Kemudian Dokter Ridwan melanjutkan penjelasannya, "Jadi menurut analisa akan percuma sekalipun dilakukan operasi, tapi semua kita pasrahkan kembali kepada Allah, Dia maha kuasa, tidak ada yang mustahil baginya. Jika Dokter dan Dek Ayu tetap ingin mencoba jalan operasi, saya akan membantu tapi kita tidak bisa menjamin hasilnya."



"Bagaimana Yu, apa kita akan mencoba jalan operasi?" tanya Okan.



Ayu menggeleng, lalu dia berkata, "Nggak usah Kak, mungkin ini memang sudah takdirku, aku ikhlas. Terimakasih Dok, maaf, saya sudah merepotkan dan membuang waktu Dokter."



"Tidak merepotkan, ini memang tugas Saya, kamu yakin tidak ingin mencoba operasi?"



"Iya Dok, saya yakin dengan keputusan ini."



"Kamu akan tetap mencintai dan mendukung gadismu kan Dok, walau dia selamanya akan seperti ini?" tanya Dokter Ridwan kepada Dokter Okan sembari tersenyum.



"Insya Allah Dok, saya akan mencintai dia, dunia dan akhirat," jawab Okan dengan sangat yakin.

__ADS_1



"Kamu dengar Dek, apa kata Dokter Okan. Saya saksinya, Dia tidak akan pernah berpaling darimu walaupun kamu tetap seperti ini. Selamat buat kalian, mudah-mudahan cinta suci kalian akan segera dipersatukan dalam ikatan pernikahan."


__ADS_2