
Papa mau tanya, "Memangnya kalian dari mana? Kok bisa-bisanya kecelakaan di sana?"
"Nggak ada apa, hanya dari jalan-jalan saja, habisnya aku bosan di rumah saja, makanya ajak Tiara putar-putar, ya kan Tiara?"
"I-iya Om, aku yang salah, bawa kenderaan nggak hati-hati, jadi ketika ada truk yang hampir nyerempet kami, aku elakkan,.eh kaminya jadi nyungsep."
Andres hanya mencebikkan bibir, dia curiga mereka berbohong, karena dia tadi melihat mereka keluar dari kebun tempat nenek dukun. Tapi dia tidak mau ikut campur, itu urusan Papa dan anak. Jika Metha berbohong kepada orangtuanya pasti ada alasannya.
"Jadi bagaimana ini Pa? tampaknya kaki putri kita terkilir, coba lihat kakinya semakin membengkak."
"Maaf Tuan, saya mengerti sedikit tentang urat, bolehkah saya urut kaki Metha agar tidak semakin membengkak?"
"Tidak! kamu mau buat kaki aku cacat ya? jangan sembarang, aku tidak mau jadi bahan percobaan."
"Ya, jika Metha keberatan juga nggak masalah, aku hanya ingin menolong. Aku tadi tidak berani melakukannya karena belum izin sama orangtua kamu."
"Tolong Nak! obati kaki putri kami?" pinta Mama Metha."
"Iya Nak, kami mohon!" pinta Papa Metha.
"Kamu tenang Met, berdoa saja Andres bisa menyembuhkan kakimu, jika menunggu kita mencari tukang urut lagi bakal lama sampainya dan bisa-bisa kakimu sebesar tuh! tabung oksigen," ucap Tiara sembari menyeringai.
"Ya sudah, tapi awas ya! jika kamu macam-macam dan curi-curi kesempatan hanya karena ingin memegang kakiku," tuduh Metha.
Andres menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata, "Jika ingin macam-macam nggak perlu susah aku bawa kamu kesini, lebih baik aku bawa kamu ke tempat lain yang orangtua dan temanmu itu tidak tahu."
Metha pun terdiam, sejenak dia berpikir, benar yang dikatakan Andres, mungkin dia saja yang terlalu berprasangka buruk terhadapnya.
"Ayo Nak, silahkan!" ucap Sutan Raja.
Andres meminta tolong agar Tiara membelikan minyak urut di kantin rumah sakit atau di toko terdekat dekat gerbang rumah sakit. Tiara segera pergi setelah Sutan Raja memberinya uang, karena dia sendiri tadi terburu-buru hingga lupa membawa uang.
Sambil menunggu kedatangan Tiara, Andres melihat kaki Metha sambil membacakan sebuah doa yang di dengar oleh mereka yang hadir disana. Andres sengaja membacanya sedikit kuat agar mereka tidak salah paham.
Andres dan orangtuanya memang termasuk yang taat beribadah, makanya setiap melakukan pekerjaannya selalu diawali dengan do'a.
Tiara pun tiba dengan membawa minyak urut, dia segera memberikannya kepada Andres. Dengan cekatan Andres segera memainkan jari tangannya untuk memijat.
Metha menjerit, tapi Andres menyabarkannya untuk menahan rasa sakitnya barang sebentar karena dia sedang membenarkan letak urat yang salah. Ternyata benar yang dikatakan oleh Andres, setelah itu Metha merasa nyaman dan tidak sakit lagi.
"Tuan, nyonya, aku sudah selesai, tapi untuk membantu mengurangi bengkak kaki Metha, sebaiknya siapkan buah pala bubuk yang diberi sedikit minyak kelapa, lalu balurkan ke bagian yang membengkak. Mengenai lukanya, dokter sudah memberi obat dan mudah-mudahan dalam beberapa hari kedepan akan segera mengering," ucap Andres.
"Apa profesimu Nak? aku lihat kamu mahir dalam mengurut," tanya Sutan Raja.
"Saya hanya membantu Ayah saja Tuan, saat pasiennya banyak."
__ADS_1
"Oh ternyata memang bidang kamu. Terimakasih Nak Andres. Oh ya, boleh minta alamat kamu? mana tahu suatu saat kami membutuhkan tukang urut, jadi tinggal ke sana saja tanpa harus susah mencari."
"Ini Tuan," ucap Andres yang mengeluarkan dan mengulurkan sebuah kartu nama bertuliskan balai pengobatan milik ayahnya.
"Oh...kalau ini saya sering dengar, orang-orang mengatakan banyak sembuh berobat ke tempat ini."
"Kesembuhan hanya milik Allah Tuan, kami hanya perantara saja."
Sutan Raja beserta yang lain mengangguk, mereka salut terhadap Andres.
"Kalau begitu saya permisi ya Tuan, Nyonya, karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukan."
"Sebentar Nak!"
Sutan Raja, mengeluarkan dompetnya dan dia menarik selembar kertas, "Ambillah, ini cek yang sudah aku tandatangani, kamu bisa menuliskan berapapun jumlah yang kamu mau. Kami sangat berterimakasih karena kamu telah menolong Metha."
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menerimanya. Saya ikhlas kok membantu putri Tuan," ucap Andres sembari mengembalikan cek tersebut ke tangan Sutan Raja.
Akhirnya Sutan Raja nggak bisa memaksa Andres untuk menerimanya karena dia langsung pamit meninggalkan ruangan itu. Sutan berjanji, setelah Metha sembuh dia akan berkunjung ke rumah Andres.
Kini Metha sudah tertidur, pengaruh obat yang di suntikkan oleh dokter dan rasa nyaman di kakinya yang sudah tidak terasa sakit membuat Metha mengantuk.
Para orangtua membiarkan Metha beristirahat, mereka memutuskan akan duduk di teras ruangan sambil menunggu Metha terbangun, sedangkan Tiara memilih tetap berada di dalam ruang rawat Metha karena dia masih merasa bersalah terhadap sahabatnya itu.
Memang tadi pagi Ayu berangkat sendiri ke sekolah karena Okan sudah pamit berangkat lebih pagi ke rumah sakit karena ada keadaan darurat yang membutuhkan bantuannya makanya mereka belum sempat berbicara.
Sisil yang melihat sahabatnya gelisah jadi penasaran, dengan berbisik, diapun bertanya, "Ada apa Yu? Aku lihat sejak tadi kamu gelisah, selalu melihat jam, sepertinya tidak sabar ingin cepat pulang."
Ayu tidak berani menjawab, dia kembali pokus mengikuti pelajaran, tapi dia menuliskan suatu pesan di dalam kertas bahwa nanti saat pulang sekolah barulah dia akan cerita.
Sisil akhirnya, ikut pokus juga mengikuti pelajaran sampai akhirnya bel tanda jam sekolah berakhir.
__ADS_1
Para murid berhamburan keluar, setelah guru mempersilakan mereka pulang. Tapi beliau berpesan bahwa Ayu di tunggu Pak Robi dan Bu Lexi di ruang guru, ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
Ayu dan Sisil akhirnya saling pandang, kemudian Ayu meminta Sisil untuk pulang duluan karena tidak enak dengan ibu Sisil yang sudah menunggu.
Sementara Ayu langsung menuju ke ruang guru, di sana dia melihat Pak Robi dan Bu Lexi sudah menunggu. Diapun mengucap salam, lalu berkata," Bapak dan Ibu memanggil Saya?"
"Iya Yu, silahkan duduk," pinta Bu Lexi.
"Begini Yu, kami melihat kamu berbakat dalam hal menulis, jadi kami sepakat akan membimbing kamu hingga bisa menjadi seorang penulis, mengenai pasilitas, insya Allah Bapak bisa bantu kamu."
"Benar Yu, menulis sekarang bisa dilakukan dengan menggunakan ponsel, tidak seperti dulu yang hanya bisa menggunakan komputer atau laptop. Jadi hal ini bisa memudahkan bagi seorang pemula yang ingin belajar."
"Alhamdulillah, Bapak ada rezeki sedikit dari hasil penjualan buku, dan bapak telah berjanji akan memberikan kepadamu agar bisa membeli ponsel sebagai pasilitas menulis. Tapi maaf ya Yu, kami bukan bermaksud merendahkanmu, karena dewan guru sudah memperhatikan bahwa kamu tidak memiliki ponsel makanya kami memanggilmu kesini."
"Alhamdulillah, terimakasih atas niat Bapak dan Ibu serta dewan guru yang telah memperhatikan Ayu. Ayu beruntung sekali memiliki guru-guru baik, tapi maaf sebelumnya Pak, Bu, sebenarnya Ayu sudah memiliki ponsel," jawab Ayu sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Ini juga hadiah dari teman Pak, Bu. Dia ingin membantu Ayu dan insya Allah sudah ada beberapa Bab yang Ayu tulis di aplikasi Noveltoon, mohon bimbingannya ya Pak, Bu?"
Ayu pun menunjukkan hasil tulisannya kepada Pak Robi dan Bu Lexi, mereka tersenyum, ternyata mereka telat. Namun mereka senang melihat hasil karya Ayu, seorang pemula bisa menghasilkan karya yang menurut mereka sudah sangat bagus.
🌻Selamat pagi sahabat semua...ayo semangat dan jangan lupa untuk tersenyum ya...
Terimakasih atas semua dukungan dan jangan lupa aku tunggu lho dukungan selanjutnya 🙏😉
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️