
Oki mengemudikan mobil, sementara Okan dan Ayu duduk di belakang memperhatikan Metha. Ayu berusaha menyadarkan Metha dengan minyak kayu putih yang selalu dia bawa di dalam tasnya.
Metha terbatuk, dia mulai mengerjapkan mata, tapi demam yang tinggi membuat matanya susah terbuka, badannya juga masih menggigil.
"Syukurlah dia sudah sadar Yu!"
"Iya Kak, tapi tubuh Mbak Metha panas sekali."
"Cepat Ki."
"Iya ini juga sudah cepat, kakiku belum pulih benar aku takut jika terlalu kencang kita semua bisa celaka, kasihan kan pengantin baru," ucap Oki, sengaja dia ngomong kuat agar Metha mendengarnya.
"Kamu! situasi gini serius dong?"
"Siap Pak Bos!"
Mereka pun tiba di rumah sakit, Oki meminta brankar kepada seorang perawat, lalu mereka mengangkat tubuh Metha ke atas brankar dan mendorongnya ke ruang UGD.
Okan segera meminta dokter untuk memeriksa Metha dan dia meminta Oki untuk mengurus administrasi untuk perawatan Metha.
Dokter memasang cairan infus ke tangan Metha, lalu memberikan suntikan. Dokter mengatakan jika Metha terlalu lama di tempat dingin hingga dia masuk angin dan demam.
Okan segera menjelaskan bahwa mereka menemukan tubuh Metha tergeletak di kamar mandi dengan pakaian basah kuyup.
Mengenai masalah memar dan bercak darah di ****** ***** Metha tidak Okan bicarakan, biar itu nanti Metha sendiri yang bicara jika dia mau bercerita.
Metha tertidur lagi setelah mendapatkan suntikan dari dokter, sementara Okan, Oki dan Ayu menunggu di dalam ruangan sambil ngobrol.
"Ki...kamu hubungi Mama gih, bilang tentang kondisi Metha, aku malas, nanti Mama ngomong macam-macam."
"Oke deh."
Oki pun segera menelephone Mama, menceritakan semua yang terjadi, Mama sangat terkejut lalu beliau segera memberitahukan kejadian ini kepada Mama dan Papa Metha.
__ADS_1
Mama Metha menangis, dan Sutan pun sangat khawatir kepada putrinya. Berhubung ini sudah tengah malam mereka memutuskan akan terbang ke Medan besok pagi degan pesawat pribadi keluarga besar Sutan Raja.
Mama Metha meminta Okan agar memvideokan keadaan Metha agar dia bisa melihat putrinya yang sedang sakit.
keempat orang tua, malam ini tidak bisa tidur begitu juga dengan Okan, Oki dan juga Ayu. Ayu mengompres Metha, dia berharap demamnya bisa segera turun.
Okan melihat ketelatenan Ayu, diapun ikut membantu mengambilkan air untuk mengompres.
Menjelang pagi, Ayu tertidur, Okan segera membuka jaketnya dan menutupkannya ke tubuh Ayu sedangkan Oki tetap terjaga menemani sang kakak.
Metha sadar, dia membuka matanya, begitu melihat Okan dan Oki dia berteriak, "Pergi kaluan!Pergi! Aku kotor...kotor... hiks...hiks...hiks."
Setelah berteriak, diapun menangis. Okan meminta Oki untuk memanggil dokter jaga, sementara dia berusaha menenangkan Metha. Metha duduk, dia menutup wajahnya dan tubuhnya gemetar, dan dia selalu mengucapkan jika dirinya kotor.
Okan jadi berkesimpulan, apa yang Ayu bilang ternyata benar. Saat ini Metha sedang syok dan jiwanya terpukul akibat suatu kejadian.
Dokter memberikan suntikan penenang agar Metha bisa istirahat. Sementara Ayu yang terbangun mendengar teriakan Metha segera mendekati Okan dan bertanya, "Bagaimana keadaan Mbak Metha Kak?"
"Mungkin benar yang kamu katakan Yu, tentang pemerkosaan itu."
Pagi ini, Oki menjaga Metha, sedangkan Okan akan mengantar pulang Ayu agar bersiap ke sekolah dan Okan pun harus ke rumah sakit tempatnya bekerja. Okan harus membereskan tugas-tugasnya sebelum hari keberangkatannya tiba.
Ayu membersihkan diri untuk bersiap ke sekolah sedangkan Okan juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Okan mengantar Ayu terlebih dahulu barulah menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
Sementara Orangtua Metha bersama orangtua Okan sudah berangkat dengan pesawat pribadi milik keluarga besar Sutan Raja. Selama dalam perjalanan, Mama Metha terlihat sangat cemas tapi Mama Okan selalu menenangkannya.
Mereka tiba di Bandara Kualanamu, langsung naik taksi menuju rumah sakit. Metha sudah bangun, tatapan matanya kosong, Oki tidak berani mendekat, dia takut Metha menjerit-jerit seperti tadi malam.
Begitu turun dari taksi, Mama Metha langsung berlari menuju ruangan yang telah Okan informasikan kepada mereka. Saat melihat Metha terbaring sang Mama langsung memeluknya sambil menangis.
"Met, kenapa kamu Nak? Apa yang terjadi? ini Mama Nak?"
Metha tidak bereaksi, hanya air mata saja yang menetes dari kedua sudut matanya. Mama Metha lalu mengelap air mata Metha dan menciumi putrinya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi Ki?" tanya Sutan papa Metha.
"Kami juga belum jelas Om, aku dan Okan menemukannya di apartemen dalam keadaan tidak sadarkan diri dan basah kuyup. Hanya Metha yang bisa menjelaskan apa yang terjadi karena tidak ada saksi mata atau bukti, hanya kamarnya berantakan, barang banyak yang pecah sepertinya sengaja di pecahkan. Tapi semuanya sudah kami bereskan, takut mengenai kaki saat menolong Metha."
"Lantas Okan kemana sekarang Ki, kenapa tidak menunggui Metha?" tanya Mama.
"Tadi malam dia juga menginap di sini tapi pagi ini dia harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, sebab sebentar lagi dia kan sudah akan berangkat Ma."
"Anak itu, selalu pekerjaan, pekerjaan terus yang dia pikirkan."
Sutan Raja dan Mama Metha segera menghadap dokter, mereka ingin tahu kondisi Metha. Dokter pun menjelaskan bahwa Metha demam tinggi dan sepertinya sedang trauma atas suatu kejadian serta saat dibawa tadi malam masih tercium bau alkohol dari mulutnya.
"Apa Dok! anak kami bukan peminum, dia anak baik-baik, pasti ini jebakan teman-temannya," ucap Mama Metha.
"Begitulah Bu, pergaulan anak muda sekarang, terkadang di depan kita mereka menunjukkan sikap baik, dibelakang kita aneh-aneh yang mereka kerjakan."
"Tapi benar Dok, putri kami anak baik-baik," bela Sutan Raja.
Ya mudah-mudahan memang ini cuma jebakan temannya ya pak. Nanti Saya akan coba periksa lagi sebenarnya dek Metha kenapa, bila perlu kita akan datangkan psikolog.
Setelah bertemu dokter, Sutan dan istrinya lalu mendekati Oki dan bertanya, "Nak Oki, boleh kami bertanya? Apa selama tinggal di Medan, Metha suka mabuk-mabukan?"
Oki diam, dia takut salah ucap. "Jujur Nak, kami hanya ingin tahu?"
"Sebenarnya aku juga kurang dekat dengan Metha Om, tapi memang aku pernah lihat dia bersama ketiga teman wanitanya mabuk di sebuah cafe. Ya mungkin sekedar iseng kali."
"Kenapa kamu tidak pernah cerita ke Mama Ki?"
"Mana mungkin Mama percaya! Mama selalu menganggap Metha itu anak baik dan selalu memandang Oki sebagai anak berandalan, anak jalanan. Apa mungkin Mama percaya jika saat itu Oki bicara tentang perbuatan Metha?"
Mama merasa tertohok, benar selama ini yang dia percaya hanyalah Okan dan Metha, sedangkan terhadap Oki yang dia lakukan hanyalah marah, marah dan selalu marah.
"Maafkan Oki Ma, yang selama ini bisanya hanya membuat Mama marah dan kesal."
__ADS_1
🌻 Selamat berakhir pekan
SEE YOU ♥️♥️♥️