
"Jadi Ayu bukan anak Ibu?" tanya Okan.
"Iya benar Nak, ibu hanya pengasuhnya yang di amanatkan untuk merawat Ayu. Mereka memberikan Ayu kepada Ibu, bukan karena mereka tidak menyayanginya, justru demi menyelamatkan dia dari hukuman keluarga besar Papanya yang pasti akan dianggap sebagai anak pembawa sial, anak yang dikutuk."
Bu Nita sejenak terdiam, lalu beliau melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya Ayu berasal dari keluarga terpandang di provinsi Sumatera Barat yang masih kental dengan adat istiadat. Kakeknya orang terkaya di sana, memiliki tiga orang putri dan satu orang putra yaitu Papanya Ayu," ucap Bu Nita sambil terbatuk.
Melihat Bu Nita terbatuk, Okan pun mengambilkan beliau segelas air mineral. Setelah itu Bu Nita pun melanjutkan ceritanya.
"Dulu sewaktu Nyonya ngidam, beliau ingin makan ikan yang di ambil langsung dari sungai larangan di sana, itupun beliau musti ikut dan melihat langsung Papa Ayu memang mengambilnya di sungai tersebut. Nyonya yang berasal dari daerah Jawa tidak mengerti adat istiadat di sana dan Papa Ayu yang sekolah dan besar di luar negeri juga menyepelekan larangan adat."
"Saking senangnya beliau ketika tabib kampung mengatakan jika anak ketiganya adalah seorang bayi perempuan, Tuan selalu menuruti semua permintaan Nyonya termasuk mengambil ikan dari sungai larangan. Awalnya tidak ada masalah dengan kandungan Nyonya, tapi saat bayi itu lahir Tuan dan Nyonya sangat terkejut melihat bayinya memiliki keanehan berupa sisik di tubuhnya."
Kembali Bu Nita terbatuk, lalu beliau menghabiskan sisa air minum di gelasnya dan menarik napas dalam sembari mengingat masa lalu.
"Tuan besar murka, dia meminta Tuan muda agar membuang bayinya ke sungai larangan karena menurut adat mempunyai bayi seperti itu merupakan kesialan dan kutukan bagi keluarga yang telah melanggar pantangan serta akan berimbas ke masyarakat sekitarnya."
"Tuan besar yang saat itu terkenal tegas dan kejam, tidak ingin masyarakat tahu jika di dalam keturunannya telah lahir bayi kutukan, maka jika Tuan muda tidak mau membuang putrinya, beliau sendiri yang akan melakukannya."
"Tuan dan Nyonya tidak rela jika putrinya harus mati mengenaskan karena kesalahan mereka, maka beliau secara diam-diam memintaku untuk membawa Ayu pergi dengan membekali kami uang serta perhiasan yang nilainya cukup untuk hidup Ayu sampai dewasa. Beliau juga menitipkan sebuah liontin agar aku berikan kepada Ayu setelah dia berusia 17 tahun dan harus mengatakan asal usulnya."
Bu Nita kembali berhenti berbicara, beliau menarik napas dalam, menghempaskannya perlahan, lalu melanjutkan ceritanya, "Tapi, karena kelalaianku, Ayu harus hidup menderita, uang dan perhiasan kami di ambil pencuri, untung saja liontin ini masih tersisa karena saat itu aku menyimpannya di bawah kasur bayi Ayu."
Ibu terisak saat selesai mengatakan semuanya, kini hatinya plong, rahasia yang 17 tahun dia simpan sudah terbuka.
Ayu memeluk Bu Nita, dia menangis tersedu-sedu, ternyata Ibu yang selama ini menyayanginya, berjuang demi hidup Ayu, bukanlah Ibu kandungnya.
Di sela isak tangisnya, Ayu berkata, "Ibu adalah Ibu Ayu dan selamanya akan tetap menjadi ibuku. Ayu menyayangi Ibu...hiks...hiks...hiks."
__ADS_1
Ibu tak kuasa menahan tangisnya, dia memeluk Ayu erat seakan takut kehilangan. Okan yang melihat Ibu dan anak itupun menangis, tak kuasa menahan air matanya yang menetes.
"Okan salut dengan perjuangan Ibu, Ibu rela mengorbankan hidup sendiri demi membesarkan Ayu," ucap Okan sambil mengelap air matanya.
"Tuan dan Nyonya sangat baik, beliau pernah menyelamatkan nyawa Ibu, saat itu ibu hampir meninggal karena sakit, beliaulah yang merawat, membiayai pengobatan ibu hingga sembuh. Ibu berhutang nyawa kepada mereka. Tapi ibu bersyukur berkat mereka, Ibu jadi bisa merasakan kasih sayang anak yang tidak akan pernah seumur hidup ibu rasakan jika tidak ada Ayu."
"Maksud Ibu? Ibu tidak memiliki anak?" tanya Okan lagi.
"Iya, Ibu sudah dua kali menikah tapi tidak ada keturunan, hingga suami Ibu menikah lagi dan kabarnya mereka memiliki anak dari istrinya setelah Ibu."
"Sudah Bu, Ibu jangan bersedih lagi, Ayu anak Ibu selamanya tetap anak Ibu," ucap Ayu sambil menghapus air mata Bu Nita.
"Kamu memang anak baik Yu, beruntung Ibu memilikimu."
"Pastas ya Bu, sisik itu tidak bisa hilang jika di operasi, bakal tumbuh lagi. Ternyata mistik itu ada, misteri dari sungai larangan."
"Aamiin...mudah-mudahan memang ada keajaiban ya Bu," do'a Okan.
"Jika takdir Ayu tetap seperti ini, Okan nggak masalah kok Bu, yang penting hati bukan rupa. Okan mencintai Ayu bukan karena rupanya tapi karena kecantikan hatinya. Ibu berhasil mendidik Ayu menjadi anak yang baik."
"Terimakasih Kak, sudah terima Ayu apa adanya."
"Iya Nak, terimakasih telah mencintai dan menyayangi Ayu. Kami beruntung bisa bertemu Nak Okan dan keluarga."
"Sama-sama Bu, aku juga beruntung hingga mendapatkan calon istri sebaik Ayu," ucap Okan sambil tersenyum menatap Ayu.
"Jadi kelanjutannya bagaimana Yu? Apakah kamu akan mencari orang tua kandungmu? Pernikahan kita sebentar lagi, barangkali kita bisa menemukan mereka lebih cepat hingga Papamu bisa menjadi wali nikah."
__ADS_1
"Entahlah Kak, Ayu jadi bingung."
"Iya Nak, pergilah! cari mereka. Jika Kakek buyutmu masih hidup dan mengusirmu, kamu telah dewasa dan memiliki Nak Okan yang bisa mendukungmu."
"Benar kata Ibu Yu, jika keluarga besarmu tidak menerima kamu, masih ada Bu Aisyah, aku dan keluargaku. Kami akan selalu mendukungmu."
"Baiklah, kita akan mencoba mencari dan menemui mereka."
"Apakah Bu Nita masih ingat alamat mereka?" tanya Okan.
"Insya Allah ingat Nak, mudah-mudahan mereka masih tinggal di tempat yang lama."
"Iya Bu, minimal ada alamat yang bisa kami tuju. Lusa kita berangkat ya Yu, untuk mencari keluargamu, aku dulu pernah tugas di Sumatera Barat dan mengenal beberapa orang terpandang di sana, mudah-mudahan mereka bisa membantu kita mendapatkan informasi tentang keluargamu."
"Syukurlah Nak! Ibu tidak bisa ikut karena tanggungjawab nggak mungkin ibu abaikan. Kamu harus segera meminta izin ke pihak sekolah Yu?"
"Iya Bu, insya Allah besok Ayu akan minta izin untuk beberapa hari, mudah-mudahan pihak sekolah mengizinkan."
"Alhamdulillah, Ibu merasa lega sekarang, telah menceritakan semuanya. Tadinya Ibu takut, Ayu akan membenci Ibu dan pergi meninggalkan Ibu sendirian di sini. Tapi ternyata Ibu salah."
Ketika mereka selesai berbicara, tiba-tiba Oki nongol sambil mengucek mata, sepertinya dia baru saja bangun tidur.
"Ada berita apa nih, aku mau ikutan dengar, bagaimana Yu? mertua kamu baik-kan? Jika mereka menolak kamu, serahkan sama aku. Aku pasti bisa meluluhkan hati mereka," ucap Oki dengan percaya diri hingga membuat semua tertawa.
Alhamdulillah.... akhirnya selesai up. Jangan lupa dukungannya ya sobat. Terimakasih 🙏😉
SEE YOU ♥️♥️♥️
__ADS_1