
Oki heran kenapa Okan yang begitu pembersih, yang menurutnya tidak pernah bergaul dengan anak jalanan, kenapa malah sebaliknya. Oki tidak pernah menyangka ternyata saudara kembarnya diam-diam melebihi dirinya dalam memperhatikan nasib mereka.
"Kak Dokter! kakak ini siapa? Kok mirip Kak Dokter?" tanya salah seorang anak.
"Iya Dek, benar ini Kak Oki namanya."
"Hallo, salam kenal, aku Kak Oki," sapa Oki.
"Kak Oki ganteng deh sama seperti Kak Dokter," puji salah satu anak perempuan.
"Terimakasih Dek, kamu juga cantik, siapa nama kamu?"
"Puspa, Kak."
"Ayo kembali belajar, biarkan Kak Dokter dan Kak Oki melihat kemajuan kalian dalam belajar."
"Baik Bu," ucap mereka serempak.
Anak-anak itupun membentuk kelompoknya masing-masing, lalu mereka mulai belajar ada yang menggambar, menganyam, memainkan musik dengan alat sederhana seperti seruling dan ada pula yang belajar berhitung.
Oki heran melihat kemandirian mereka, dia menyesal kenapa selama ini hidupnya hanya dihabiskan untuk perbuatan sia-sia. Pantas saja orang tuanya lebih menyayangi Okan ternyata banyak kelebihan Okan yang tidak ada pada dirinya.
Selesai nmengerjakan tugasnya, anak-anak itu kembali berlari ke arah Okan, mereka menunjukkan hasil karyanya satu persatu, lalu Okan memberikan penilaian terhadap tugas mereka.
Mereka bersorak, saat mendapatkan nilai bagus dari Okan. Kemudian Okan meminta mereka untuk berbaris dan menunggu sampai Okan kembali.
Okan keluar menuju mobil, dia mengambil beberapa paper bag dari dalam bagasi, lalu masuk ke dalam barisan sambil membagikan makanan dan juga beberapa alat tulis.
Anak-anak itu bersorak gembira lalu mengucapkan terimakasih kepada Okan. Oki terharu, sebegitu perhatiannya ternyata Okan terhadap nasib anak-anak jalanan.
Setelah mendapatkan hadiahnya masing-masing, ibu meminta mereka agar kembali ke kamar, karena ibu akan membicarakan sesuatu dengan Okan.
Setelah mereka pergi Bu Asih pun bertanya, "Bagaimana Dok? apakah sudah mendapatkan tim pengajar untuk mereka?"
Okan pun mengangguk dan dia berkata, "Bu...tempat yang layak untuk mereka tinggal pun sedang kami persiapkan, insya Allah sebulan lagi selesai di bangun. Jadi ibu dan anak-anak bisa langsung tinggal di sana."
"Alhamdulillah, terimakasih Dok. Semoga senantiasa Allah memberikan kebaikan dan keberkahan rezeki untuk Dokter," doa Bu Asih.
__ADS_1
Terimakasih Bu, ini juga berkat donasi teman-teman seprofesi saya dan ini Bu seperti biasa uang tambahan belanja kebutuhan anak-anak.
Bu Asih menjunjung uang pemberian Okan dan beliau kembali mengucapkan terimakasih. Setelah itu Okan dan Oki pamit, Okan berjanji dua minggu lagi dia akan datang bersama Ayu.
"Titip salam ya Dok untuk Nak Ayu, kata anak-anak, Nak Ayu sangat baik dan cantik."
Okan pun mengangguk sambil tersenyum, mereka meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke sekolah untuk menjemput Ayu. Pada jam istirahat tadi Ayu mengirim pesan kepada Okan via WhatsApp jika hari ini dewan guru akan rapat jadi mereka pulang lebih awal.
"Kan, salut aku melihat kamu. Aku selama ini bodoh, mataku tertutup, hanya iri dan dengki saja menguasai hatiku, ternyata memang pantas orangtua kita lebih menyayangimu. Maafkan aku Kan, aku salah selama ini, salah menilai dirimu."
"Sudahlah Ki, yang penting sekarang tata hidupmu kembali, mau apa dan ingin jadi apa kamu kedepannya, jangan sia-siakan lagi hidupmu seperti yang lalu."
Oki pun mengangguk, kemudian bertanya, "Kan, boleh aku ikut gabung dalam tim pengajar anak-anak itu? mungkin ada ilmuku yang bisa bermanfaat bagi mereka."
"Alhamdulillah, terimakasih Ki, kami memang kekurangan tim pengajar. Aku masih berencana ingin menempatkan Ayu ke dalam tim tapi aku masih berpikir ulang, kegiatan Ayu terlalu banyak, kasihan dia, pasti akan kelelahan."
"Jangan, biar aku saja."
"Siip, satu masalah teratasi," ucap Okan.
Okan terus melajukan mobilnya ke arah sekolah, dan mereka pun sudah sampai, tapi mereka harus menunggu sejenak karena Ayu belum keluar dari kelasnya.
Ayu minta izin kepada Okan agar Sisil ikut naik dan minta tolong agar mengantar Sisil pulang, Ayu merasa kasihan melihat Sisil naik angkot sendirian.
Oki langsung menjawab, "Dengan senang hati Tuan putri, kami pasti akan mengantar kalian."
Okan pun menimpuk kepala Oki pakai bantalan kursi, sifat adiknya yang satu ini memang sulit dihilangkan, terlalu ramah dengan cewek.
Oki mengelak sambil mencebikkan bibir, sementara Okan mempersilakan Ayu dan Sisil untuk naik. Kesempatan ini di pergunakan oleh Oki untuk mengobrol dengan Sisil.
Ternyata mereka berdua cepat akrab, Oki akhirnya berhasil mencatat nomor ponsel Sisil. Ayu dan Okan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat jurus andalan Oki berhasil meluluhkan hati Sisil.
"Hari ini kalian harus singgah ya, Ibu sudah menyiapkan makan siang untuk kalian," pinta Sisil.
"Kok Ibu repot-repot Sil, kasihan kan Ibu sudah lelah mengurus adik yang lagi sakit, malah repot memasak?"
"Ini memang perintah Ibu, jadi kalian tidak boleh menolaknya."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Ayu.
Tiba-tiba Okan menghentikan mobilnya, di depan toko yang menjual aneka buah, lalu dia turun dan membeli bermacam buah-buahan untuk di bawa ke rumah Sisil.
"Sil, ini nanti buat adek kamu yang lagi sakit ya?" ucap Okan.
"Terimakasih Dok," ucap Sisil.
Lagi-lagi, Oki kalah cepat dari Okan. Oki menepuk jidatnya sendiri hingga membuat mereka semua heran.
"Kenapa Kak Oki menepuk dahi sendiri?" tanya Ayu.
"Kalah telak," jawab Oki singkat yang membuat semua bingung.
"Kalah dari siapa? dan memainkan permainan apa Kak?" tanya Sisil.
"Tuh...kalah dari pangeran di depan. Aku selalu kalah cepat. Pangeran itu memang pantas mendapatkan cinta dari siapapun," ucap Oki sambil menunjuk ke arah Okan.
Semua akhirnya tertawa, Okan hanya menimpali, "Kamu kalau ribut saja bagusan turun deh! lebih baik pulang lu sono naik angkot!" perintah Okan.
"Ampun bos," jawab Oki sambil memperagakan bahwa dia mengunci mulutnya.
Mereka pun tiba di rumah Sisil, ibu mempersilakan mereka masuk, lalu meminta mereka langsung menuju ke ruang makan karena ibu tahu mereka pasti lapar.
"Sering-sering ya Bu seperti ini?" canda Oki.
"Boleh Nak, asal kamu jadi menantu ibu," kelakar ibu yang membuat Sisil malu.
"Mampus lu kan?" bisik Okan.
"Nggak apa-apa, tapi lu ya... yang bantu gue ngelamar Sisil," balas Oki di telinga Okan.
"Sudah... jangan berdebat terus, ayo dimakan nanti keburu dingin makanannya kagak enak," ucap ibunya Sisil.
"Baik Bu," ucap Okan dan Oki barengan.
Ayu dan Sisil hanya tersenyum melihat saudara kembar itu saling sikut karena di tegur oleh Ibu Sisil, lalu mereka masing-masing menyerahkan piring kepada keduanya.
__ADS_1
🌻 Jangan lupa dukungannya ya sobat.... terimakasih 🙏
SEE YOU ♥️♥️♥️