TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 59. BERANI


__ADS_3

"Ki...kenapa diam saja?" tanya Okan.


"Kak Oki, pasti gugup nih!" canda Ayu.


"Siapa juga yang gugup, aku bingung aja musti ngomong bagaimana? pasti-kan ada mamanya?"


"Iya sih, nanti coba Ayu bantu ya Kak, mencarikan kesempatan agar Kakak bisa berdua dengan Sisil dan mengatakan semuanya."


"Terimakasih ya Yu, kamu memang calon Kakak ipar yang paling pengertian."


"Eh...hampir saja kelewatan, benar-kan ini rumah Sisil Yu?" tanya Okan yang pokus menyetir.


"Iya Kak, beneran ini."


"Yu, memangnya Papa Sisil kemana? kok nggak pernah kelihatan?" tanya Okan.


"Kata Sisil merantau Kak, pulangnya sebulan sekali."


"Oh... pantaslah, aku pikir sudah berpisah atau meninggal, ternyata merantau, kalau sampai ketepatan ayahnya di rumah bagaimana ya Yu?" tanya Oki.


"Sekalian di lamar lah!" jawab Okan asal.


"Nggak apa-apa jika kamu danain semua kebutuhan pernikahan, aku siap kok, kita bisa nikah sama-sama," jawab Oki sambil turun dari mobil.


"Assalamualaikum," ucap Ayu sambil mengetuk pintu..


Tak lama kemudian ada jawaban salam dari dalam, sepertinya suara Ibunya Sisil. Hati Oki semakin dag dig dug tak karuan saat melihat pintu terbuka, ternyata Sisil yang membukanya.


"Lho...kalian," ucap Sisil malu, karena dia saat ini hanya memakai baju tidur."


"Siapa Sil," teriak Ibu dari arah dapur.


"Teman-teman Sisil Bu," jawab Sisil sembari mempersilakan mereka masuk.


"Silakan duduk, sebentar ya Yu," ucap Sisil sembari masuk ke kamarnya.


Sisil pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menutup aurat lalu dia ke dapur mengambil minuman dan cemilan lalu menyuguhkannya.


"Katanya kamu sakit Sil?" tanya Oki.


"Iya Kak, cuma demam kok."

__ADS_1


"Oh syukurlah."


"Kalian dari mana nih? Ayo dimakan cemilannya," sapa ibu Sisil yang baru datang dari dapur.


"Iya Bu, terimakasih," jawab mereka serempak.


"Kami dari rumah Bu, sengaja ingin menjenguk Sisil, sekalian ada yang ingin saya sampaikan kepada Ibu dan Sisil," ucap Oki yang tiba-tiba memiliki keberanian ingin mengatakan maksud kedatangannya malam ini.


Ayu dan Okan saling pandang, lalu keduanya memandang Oki sambil tersenyum, sementara Ibu dan Sisil merasa penasaran.


"Iya Nak, apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ibu.


"Begini Bu, sebenarnya Oki menyukai Sisil, dan berniat serius, jika ibu dan Sisil tidak keberatan. Oki minta waktu satu tahun untuk bersiap melamar Sisil. Oki akan pokus dulu menggeluti bisnis demi masa depan kami."


Ibu bengong, begitu juga Sisil, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja Oki katakan. Namun ibu langsung menjawab, "Kalau Ibu terserah Sisil saja, dia kan yang akan menjalani hubungan ini. Bagaimana Sil?"


"Kak Oki yakin dengan apa yang Kak Oki katakan? kita kan baru kenal?"


"Aku yakin Sil, aku ingin serius menjalin hubungan denganmu," ucap Oki dengan mantap.


"Baiklah, jika Ibuku setuju aku ikut keputusan beliau. Tapi kita dalam setahun ini bersahabat dulu ya Kak, biar lebih saling kenal. Jika Kakak mau berubah pikiran juga masih boleh kok," ucap Sisil.


"Alhamdulillah, insya Allah nggak Sil. Jadi aku di terima nih?" tanya Oki lagi.


"Aku juga Yu, mudah-mudahan Allah ridho ya dengan hubungan ini."


"Aamiin..." jawab Oki, Okan, Ayu dan juga Ibu.


Sekarang Oki bisa tenang, besok dia akan mulai survei lokasi untuk usahanya agar bisa segera di mulai.


Setelah berbincang-bincang, merekapun pamit pulang. Okan dan Ayu harus bersiap untuk keberangkatan mereka besok ke Sumatera Barat.


Sisil memeluk Ayu, dia akan selalu berdoa agar Ayu berhasil menemukan orang tua kandungnya sebelum acara akad nikah.


"Hati-hati di perjalanan ya Yu! Kak Okan tolong jaga sahabatku Ya!" pinta Sisil


"Aman Sil, kamu juga, semoga cepat sembuh ya."


"Iya Kak, terimakasih ya Kak."


"Aku pulang ya Sil, terimakasih telah menerimaku," ucap Oki.

__ADS_1


Sisil melepas kepergian mereka dengan tersenyum, dia benar tidak menyangka jika Oki akan berani mengatakan perasaannya langsung di hadapan Ibu.


Di perjalanan, Okan mengacungkan jempol kepada adiknya, "Aku tidak menyangka Ki, ternyata kamu berani mengatakan langsung di hadapan ibunya, tadinya aku pikir akan sulit bisa ngomong berdua dengan Sisil sebab ibunya ikut duduk bergabung dengan kita. Eh... ternyata kamu membuat kami terkejut."


"Benar Kak, aku juga kaget," timpal Ayu.


Oki hanya meringis, dia pun tidak mengira jika dirinya punya keberanian seperti itu.


"Oh, ya...besok kalian berangkat jam berapa?"


"Rencana jam sembilan Ki, antar kami ke bandara ya?" pinta Okan.


"Siap, untuk kalian apapun aku siap," jawab Oki.


"Semoga berhasil ya Yu, tetap semangat. Bertemu atau tidaknya dengan orang tuamu, kami tetap menjadi keluargamu Yu."


"Terimakasih Kak. Aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga kalian."


Mereka pun sampai, lalu Okan mengantar Ayu ke paviliun baru dia kembali ke kamarnya. Ibu yang melihat Ayu sampai segera menghampirinya, "Bagaimana Nak, apa Den Oki berhasil?"


Ayu pun mengangguk, Ibu pun ikutan senang. "Oh ya Bu, besok kami berangkat jam sembilan, Kak Oki yang akan mengantar kami ke bandara."


"Yang penting hati-hati di jalan ya! Ibu pasti akan merindukanmu."


"Ayu juga pasti akan merindukan Ibu, selama ini Ayu belum pernah pergi jauh dari Ibu kan? Pokoknya, jika Ayu nanti menyusul Kak Okan, Ibu harus ikut, Ayu mau ibu selalu ada di dekat Ayu."


"Mudah-mudahan ibu tetap di beri kesehatan sampai waktunya tiba. Sudah sana istirahat Yu dan siapkan pakaian yang mau kamu bawa. Ibu juga mau balik ke kamar."


"Iya Bu."


Ayu pun masuk ke kamarnya, dia mengambil koper kecil untuk membawa pakaiannya dan semua kebutuhan yang diperlukan selama di sana.


Setelah itu ayu membuka ponselnya, dia melanjutkan penulisan karyanya. Ayu selalu usahakan sebelum tidur menulis walau hanya satu chapter.


Setelah selesai, dia Up barulah Ayu membalas komentar para pembaca yang masuk. Ayu senang ternyata walau dia baru belajar, banyak pembaca yang menyukai karyanya.


Komentar para pembaca membuat Ayu bersemangat, mereka kadang memberi saran ke Ayu hingga dia bisa memperbaiki bahkan mendapatkan ide dari komentar pembaca.


Sesibuk apapun, Ayu akan tetap menyempatkan diri untuk menulis, lama kelamaan rasa cintanya terhadap menulis membuat dia kadang lupa waktu hingga sering tidur lewat tengah malam.


Okan sering mengingatkan dengan menelephonenya, bahwa Ayu harus istirahat, jangan terus-terusan begadang sampai tengah malam karena tubuh dan pikiran Ayu juga butuh istirahat.

__ADS_1


Ayu yang sudah selesai dengan pekerjaannya, lalu menyimpan ponselnya di atas nakas dan menarik selimut bersiap untuk tidur.


__ADS_2