TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 28. KETAHUAN


__ADS_3

"Yu, siapin obatnya ya, nih untuk masing-masing ke tiga pasien yang sudah selesai di periksa."


"Baik Dok," ucap Ayu.


Memang saat bekerja, Ayu harus bisa berlaku profesional, dia bisa membedakan kapan dia harus bersikap sebagai pacar dan kapan dia musti bersikap sebagai bawahan.


Satu persatu pasien selesai mereka layani, hari ini klinik ramai hingga mereka baru bisa tutup jam setengah sebelas malam.


Okan dan Ayu kembali ke rumah, selama ada Ayu di sana dan hubungannya dengan Oki sudah membaik, Okan jadi malas tinggal di apartemen.


Mereka sampai di rumah pukul setengah dua belas malam, ternyata Oki belum tidur. Dia mendengar suara mobil saudaranya masuk ke halaman rumah. Oki mengintip dari balik jendela kamarnya dan dia terkejut saat melihat Ayu turun dari mobil Okan.


Pikirannya kacau, dia teringat omongan Okan bahwa Oki mengenal gadis yang dicintai oleh Okan dan katanya masih SMA, Oki jadi merasa apakah gadis itu Ayu, wanita yang mulai mengusik hatinya.


Oki menjadi penasaran, malam ini juga dia harus mendapatkan jawabannya, baik dari Okan maupun dari Ayu.


Secara perlahan, Oki berjalan dengan berpegangan tembok, keluar kamar, dia sekarang bisa lebih cepat sampai karena seringnya berlatih.


Oki pun sudah sampai di depan pintu depan dan segera membuka kuncinya, di sana dia melihat Okan mengucapkan selamat malam kepada Ayu dan Ayu membalas ucapan Okan dengan senyumnya yang sangat manis.


Kemudian Oki berdehem hingga membuat kedua sejoli itupun terkejut, lalu menoleh ke asal suara.


"Kalian baru sampai?" tanya Oki.


Okan dan Ayu pun mengangguk, kemudian Ayu bertanya, "Den Oki kok belum tidur?"


"Sengaja, menunggu kalian pulang, ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa itu Den?" ucap Ayu yang sudah mulai risih.


"Apa kalian memiliki hubungan? Apa dia wanita yang kamu cintai Kan?"


Okan pun tidak bisa menghindar lagi, mungkin ini saatnya dia harus jujur kepada Oki. "Benar Ki, dia adalah gadis yang aku cintai dan kami saling mencintai."


Oki sedikit terhuyung, dia hampir saja terjatuh mendengar pengakuan Okan kakaknya. Perasaan yang baru saja mulai tumbuh di hatinya harus terhempas dan patah. Okan menyadari hal itu, adiknya saat ini sedang kecewa.


"Masuklah Yu, kamu harus istirahat, biar aku yang menjelaskan kepada Oki."


"Iya Kak, permisi Den Oki, aku mau ke kamar dulu."


Oki hanya mengangguk, rasa kecewa seperti telah membungkam mulutnya, dia hanya terpaku melihat kepergian Ayu.


"Ayo kita juga masuk Ki, nggak baik kena angin malam, aku akan menjelaskan semuanya, kita ngobrol di kamarmu saja."


Oki pun menuruti permintaan sang Kakak, lalu setelah mengunci pintu mereka berdua masuk ke kamar, "Maaf Ki, kami sebenarnya ingin jujur dan mengatakan kebenarannya, tapi waktunya belum pas. Kami berencana ingin mengatakannya nanti saat Ayu mengajakmu jalan-jalan di hari minggu."

__ADS_1


"Ternyata, persaingan diantara kita tetap terjadi, biasanya aku iri dengan keberhasilanmu, iri dengan kasih sayang Mama papa yang lebih ke kamu, dan sekarang ternyata aku masih harus merasakannya, kalah dalam hal cinta sebelum berperang."


"Kamu nanti pasti akan mendapatkan wanita yang baik dan juga cantik, bersabarlah dan berusahalah untuk sembuh. Masih banyak wanita di luar sana, yang mendambakan cintamu."


"Tapi tidak ada yang seperti Ayu, buktinya kamu sendiri, begitu banyak wanita yang mengejarmu tapi Ayu-kan yang kamu pilih."


Okan tidak bisa menjawab, memang benar yang Oki katakan, tidak ada wanita yang bisa menggetarkan hatinya selain Naura dan Ayu yang memiliki kepribadian hampir sama.


"Tapi kamu tidak tahu-kan apa yang telah Ayu alami sejak dia kecil hingga sekarang usianya yang hampir menginjak 17 tahun? Itu yang akan aku selesaikan. Aku ingin membuat orang-orang yang selama ini telah menghina dan menjauhinya tahu bahwa dia gadis istimewa yang tidak pantas di perlakukan seperti itu."


"Memangnya apa yang telah Ayu alami Kan?"


Okan pun menceritakan semuanya hingga kenapa Ayu sampai pindah ke kota ini.


"Benarkah? kasihan sekali Ayu."


"Keadaanmu belum seberapa di bandingkan perjuangannya, dia dijauhi orang karena mereka menganggap dirinya pembawa sial, tapi dia dan ibunya tetap sabar dan semangat. Itu yang harus kamu jadikan acuan."


Oki terdiam, ternyata dirinya kurang bersyukur, masih banyak yang lebih tidak beruntung dibandingkan hidupnya.


"Bersyukurnya dia dan ibu pindah ke kota ini dan tinggal aman di rumah kita, jadi tidak banyak orang yang tahu. Rencananya, besok aku akan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan agar bisa segera di lakukan operasi."


"Jadi hanya di bagian dahi saja?"


"Kamu harus bisa membantunya Kan? terutama masalah biaya, mungkin selama ini mereka terkendala biaya hingga tidak melakukan operasi sejak lama."


"Sebentar lagi ulang tahun Ayu yang ke-17 tahun, aku ingin bisa membuatnya cantik sebagai hadiah ultahnya."


"Semoga berhasil ya Kan?"


"Nah kamu juga harus memberikan hadiah jika memang kamu peduli dengannya."


"Memangnya hadiah apa yang bagus, Kan?"


"Kesembuhanmu, itu yang paling bagus. Ayu pasti sangat bahagia jika kamu sembuh."


"Baiklah, aku akan rajin terapi dan berlatih berjalan. Aku tidak mau kalah semangat dari Ayu."


Okan tersenyum, dia senang, semangat adiknya telah kembali, "Aku mau mandi dan istirahat dulu ya Ki? Lelah sekali, seharian ini banyak pekerjaan."


Oki pun mengangguk, "Pergilah! Aku juga mau lanjut berlatih, mataku belum mengantuk karena tadi siang kebanyakan tidur."


Okan pun berlalu ke kamarnya, sedangkan Oki semangat berlatih berjalan. Dia melepaskan pegangannya dari tembok dan berjalan tertatih menuju kamarnya.


Sementara Ayu masih kepikiran tentang kedua saudara kembar itu, dia tidak mau keduanya bertengkar gara-gara dirinya.

__ADS_1


Ayu gelisah hingga membuat Ibu penasaran ingin tahu apa yang membuat putrinya belum juga tidur.


"Yu, Ibu lihat sejak tadi kamu gelisah, memangnya ada apa? Apa ada masalah di sekolah atau di klinik?"


"Tidak ada Buk, hanya masalah Okan dan Oki, Oki sudah tahu semua. Tadi saat pulang dia memergoki kami, sepertinya dia kecewa melihatku dekat dengan Okan. Aku harap Okan bisa menjelaskan hingga Oki tidak salah paham."


"Ya sudah jangan dipikirin lagi, Nak Okan pasti bisa menyelesaikan, Ibu tahu, dia orang yang bijaksana."




Metha sembari berbaring, terus memandang foto Okan yang ada di dalam ponsel, dia besok akan mulai menjalankan rencananya. Sekembali dari Padang, Okan sudah harus tunduk dan bersedia menikah dengannya.



Dia akan keluar rumah dengan diam-diam dan pergi menemui dukun yang dia dengar masih mau melakukan praktik gasing tengkorak yaitu praktik untuk mengganggu, menganiaya, dan menarik hati orang lain lewat bantuan jin.



Praktik ini sangat terkenal sehingga dikisahkan dalam lagu berbahasa Minangkabau bertajuk Gasiang Tangkurak. Dalam lagu ini yang diceritakan adalah persoalan cinta yang ditolak sehingga orang yang kasihnya bertepuk sebelah tangan menggunakan gasing tengkorak untuk menundukkan hati orang yang dicintainya.



Jika di dunia dukun ala Jawa dikenal Jaran Goyang, maka di ranah Minang ilmu pelet cinta yang paling sadis dikenal dengan gasiang tangkurak.



Dari cerita yang beredar, uniknya sang dukun tidak langsung menerima bayaran. Sang dukun akan meminta sejumlah emas sebagai ‘gadaian’. Jika sukses, maka emas tersebut akan menjadi milik dukun. Pabila gagal, maka emas kembali kepada ‘si peminta’, sang dukun tidak akan mendapatkan apa-apa.



Cinta telah membutakan hati Metha, hingga dia kehilangan akal sehat dan ingin menggunakan cara yang salah, yang sangat di tentang oleh agama.



🌻 Jangan lupa dukungannya ya sobat, vote, like, coment dan rate bintang limanya, agar author bisa lebih semangat Up.



Terimakasih atas semua dukungannya, selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga sehat, bahagia dan sukses selalu buat kita semua 🙏♥️



SEE YOU ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2