TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 60. TIBA DI TANAH KELAHIRAN


__ADS_3

Seperti biasa Ayu bangun subuh, menjalankan ibadah lalu membantu Ibu, setelah itu dia bersiap akan berangkat ke bandara.


"Sudah semua Yu, nggak ada yang tertinggal," tanya Ibu.


"Sudah Bu, liontin, kaos kaki saat aku kecil dan alamat orangtuaku semua sudah Ayu masukkan ke tas."


"Iya Nak, itu jangan sampai hilang, karena benda itu semua penghantar untuk bisa menemukan orang tuamu."


"Bagaimana Yu, sudah siap kita berangkat," tanya Okan yang muncul di ambang pintu.


"Iya Kak, aku sudah siap."


"Kami permisi dulu ya Bu, doakan agar Ayu bisa segera menemukan mereka dan cepat kembali ke sini," ucap Ayu sambil memeluk Ibu.


Okan juga pamit dan Ibu berkata, "Tolong jaga anak Ibu ya Nak, Ibu percayakan Ayu sama Nak Okan."


"Iya Bu, kami berangkat ya Bu," ucap Okan sambil mencium tangan Bu Nita.


Okan dan Ayu segera menuju mobil yang di dalamnya sudah duduk Oki sebagai supir, sedangkan Mama dan Papa Chandra juga mengantar kepergian mereka.


Ayu dan Okan pun pamit kepada Mama Papa, mereka berharap Ayu dan Okan segera kembali dengan membawa kabar gembira.


Oki yang sudah siap melajukan mobil pun berkata, "Ayo Tuan dan Nyonya Okan, apakah kita sudah siap untuk berangkat," ucap Oki sambil tertawa.


"Oke Pak sopir," jawab Okan membalas candaan Oki.


"Berarti ntar pulang dari sana aku bakalan dapat tambahan uang saku nih, tambah profesi sebagai sopir pribadi," balas Oki lagi.


"Siap...mau berapa, seperangkat perhiasan buat melamar Sisil cukup Pak sopir?"


"Lebih dari cukup Bos! Dengan senang hati aku terima," ucap Oki sambil menaik turunkan alisnya hingga membuat Ayu tertawa.


Semenjak kedatangan Ayu, saudara kembar itupun semakin akrab, mereka jadi lebih sering bercanda, hal ini membuat Okan bersyukur, Ayu bukan hanya membawa kebahagiaan baginya tapi bagi keluarganya.


"Oh ya Yu, jika nanti sudah bertemu dengan orangtuamu jangan lupakan aku ya, si anak miskin ini. Keluarga besar orangtuamu 'kan kata Bu Aisyah, orang terpandang dan kaya di sana."


"Kak Oki ada saja, aku saja belum tentu diakui Kak! Miskin ataupun kaya, Ayu tetaplah Ayu, si gadis buruk rupa."

__ADS_1


"Yang penting hati dan ketegaran dalam menghadapi hidup, itu yang membuat aku jatuh cinta pada si gadis buruk rupa ini," sahut Okan.


"Setuju, aku juga, jika saja Okan bukan saudaraku, aku siap bersaing untuk merebutmu," ucap Oki sambil tertawa, dia sengaja ingin menggoda saudaranya.


"Aku siap kok, bersaing dengan siapa saja, Ayu hidupku, sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankannya dari siapapun yang ingin merebut cintaku termasuk kamu," ucap Okan lagi.


"Nah! Kamu dengar Yu, itulah cinta saudaraku terhadapmu, jadi jangan pernah ragu dengan ketulusan cintanya."


"Iya Kak, aku percaya kok, Kak Okan juga cinta sejatiku, jadi sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan Kak Okan," ucap Ayu sambil tersenyum ke arah Okan.


"Terimakasih Sayang," jawab Okan tanpa malu-malu.


"Ayo turun! Kita sudah sampai. Nanti kalian ketinggalan pesawat. Ntar, sayang-sayangannya dilanjutkan di dalam pesawat ya!" pinta Oki sembari menyeringai.


"Kan! Jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh ya?"


"Siap Pak Sopir, kami pergi dulu ya Ki. Jangan apelin Sisil terus ntar di suruh cepat nikah lu."


"Oke Bos, sudah sono masuk!"


Okan dan Ayu pun segera masuk dan mengikuti prosedur keberangkatan, sementara Oki berniat nanti siang menjemput Sisil di sekolah untuk mengantarnya pulang, mumpung mobil Okan nganggur.


Hati Ayu mulai berdebar-debar, membayangkan seperti apa dan bagaimana tanggapan orangtuanya nanti saat bertemu dengannya.


"Kenapa Yu? sedari tadi aku lihat kamu diam saja, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu takut?" tanya Okan.


"Iya Kak, takut dengan apa yang bakal terjadi."


"Tenang, jangan takut, semua bakal baik-baik saja kok!" ucap Okan sembari menggenggam tangan Ayu.


Mereka tiba di bandara Minangkabau, Okan segera memanggil taksi bandara untuk mengantarkan mereka ke penginapan terdekat. Besok pagi baru mereka akan mulai mencari alamat yang di tuliskan oleh Bu Nita.


"Kita hari ini istirahat saja ya Yu, besok pagi baru kita jalan."


"Terserah Kakak, aku nurut saja."


Mereka diantar ke hotel terdekat, lalu Okan memesan dua kamar berdekatan untuk mereka, Okan kemudian mengantar Ayu ke kamarnya, barulah dia kembali ke kamarnya sendiri untuk meletakkan pakaian.

__ADS_1


Berhubung hari masih siang, mereka berniat jalan-jalan sambil bertanya apa alamat yang mau mereka cari dekat atau jauh dari tempat mereka menginap sekarang.


Setelah meletakkan tasnya, Okan kembali mengetuk pintu kamar Ayu dan Ayu pun sudah bersiap keluar, mengganti sepatu dengan sendal jepit, menurut Ayu sendal lebih nyaman di pakai untuk berjalan-jalan.


"Ayo kita berangkat," ajak Okan.


"Siap Kak, kita mau kemana Kak?"


"Keliling di sekitar sini saja sambil cari informasi."


Mereka pun berjalan sambil menikmati pemandangan indah di sana. Okan segera menghampiri security hotel sambil menunjukkan alamat yang di berikan oleh Bu Nita.


Lalu security menjelaskan bahwa alamat tersebut terletak di Nagari Sialang, kecamatan kapur 9 kabupaten Lima puluh kota, dari bandara sekita 4 jam perjalanan.


Berarti besok mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar bisa cepat sampai ke sana. Setelah mengucapkan terimakasih, Okan mengajak Ayu untuk makan siang di resto yang ada di hotel tempat mereka menginap. Selesai makan, Ayu mengajak Okan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.


Malam ini Okan dan Ayu hanya menghabiskan malam dengan duduk santai menikmati secangkir kopi sambil ngobrol tentang rencana mereka besok pagi.


Keesokan pagi, Ayu dan Okan sudah bersiap, mereka sengaja meminta pihak hotel agar menyediakan fasilitas kenderaan yang bisa mengantarkan mereka kemana saja yang ayu dan Okan inginkan dengan bayaran setimpal.


Kini Okan menunjukkan alamat kepada Pak Sopir, lalu Pak Sopir pun membawa mereka ke tempat sesuai catatan tersebut.


Mereka tiba di kecamatan kapur 9 lalu Ayu mulai bertanya tentang orang terpandang di nagari Sialang sekitar 17 tahun silam kepada salah satu penduduk. Tapi karena penduduk itupun pindahan dari tempat lain makanya dia tidak mengenal keluarga Ayu.


Ayu dan Okan terus berjalan bertanya ke beberapa orang tapi mereka juga tidak tahu. Akhirnya Okan mengajak Ayu untuk ke kantor desa, ingin bertanya kepada perangkat desa, dengan harapan ada orang lama yang masih hidup dan bisa memberikan info.


Mereka pun sampai, lalu Okan menemui kepala desa, ingin menanyakan tentang orang terpandang disini sekitar 17 tahun silam.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan dan Nona?" tanya kepala desa.


Maaf Pak, kami ingin mencari keluarga yang ada di alamat ini. Kepala desa pun membaca dan mengingat lalu dia bertanya kepada perangkat desa yang tertua di kantor ini.


"Apakah Bapak mengenal keluarga besar Sutan Raja Ameh?"


"Oh...sudah pindah Pak, sekitar 5 tahun lalu. Sejak Sutan Raja Ameh meninggal, semua keluarga itu pindah ke kota Padang karena ingin mengurus bisnis mereka yang pokus di sana. Sementara anak-anak perempuannya di bawa pindah oleh suaminya ke daerah masing-masing. Tinggal seorang anak laki-laki yang aku dengar memiliki dua putra yang tinggal di luar negeri, berprofesi sebagai dokter dan pengusahaan."


"Bapak tahu alamat lengkap tempat tinggal mereka sekarang di kota Padang?"

__ADS_1


'Sebentar ya Non biar kami cari dulu berkas kepindahan mereka," ucap perangkat desa itu.


Ayu dan Okan berharap, akan segera mendapatkan titik terang dari perangkat desa itu tentang data keluarga Ayu, dimana tepatnya mereka tinggal saat ini.


__ADS_2