TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 36. KONTAK BATIN


__ADS_3

Selesai makan, mereka ngobrol sejenak bareng Ibu sekaligus melihat adik Sisil yang sakit, ternyata sakitnya sama dengan Dilla, tapi tidak separah Dilla. Okan langsung memberi resep obat agar penyakit cacarnya tidak semakin banyak.


Ibu berterimakasih kepada Okan dan mereka juga berterimakasih kepada Ibu juga Sisil yang telah menjamu dengan makanan yang sangat lezat.


Mereka kemudian pamit, Okan akan pulang dulu mengantar Oki sebelum berangkat ke klinik. Dalam perjalanan, Papa menelephone Okan, beliau meminta agar Okan menyusul ke Padang, tapi jawaban Okan tetap sama seperti saat Mamanya yang meminta.


"Aduh...Papa, Mama, nggak jera juga ya Kan maksa kamu. Untung bukan aku yang di paksa kawin," ucap Oki.


"Yu, jaga terus tuh pacar kamu, aku lebih setuju jika kamu yang jadi istri Okan ketimbang Metha. Perempuan manja seperti itu hanya nyusahin saja nantinya," ucap Oki.


"Kak Oki nggak boleh gitu, pasti Mbak Metha juga punya sisi baik. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan aku Kak!"


"Iya, tapi Metha beda dengan kamu. Nanti jika kamu sering ketemu dia bakalan tahu, aku saja yang berandalan begini nggak mau punya istri seperti dia, apalagi Okan, sangat tidak pantas."


"Jangan sesumbar Kak, nanti berjodoh."


"Ih... amit-amit, jangan sampai, mending aku melamar Sisil aja."


"Wah...naksir beneran nih sama Sisil? biar Ayu comblangin Kak?"


"Dengan senang hati Yu!"


"Jangan Yu, biar dia berjuang sendiri, biar seru. Harus jantan, kalau mau dekatin Sisil," ucap Okan.


"Beres, pasti aku bisa dapatkan hatinya Sisil dan juga ibunya."


"Semangat Kak, orang baik pasti dapat jodoh yang baik pula."


"Aamiin...," ucap Okan dan Oki bersamaan.


Okan juga ingin adiknya mendapatkan jodoh yang baik. Sisil teman Ayu, teman pertama di kala orang lain tidak mau mendekatinya, menurut Okan, pastinya Sisil juga gadis baik seperti Ayu.


Mereka akhirnya tiba di rumah, Okan memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum ke klinik. Dia meminta Ayu untuk istirahat juga, nanti Okan akan kabari Ayu jika akan berangkat ke klinik.


Melihat Ayu yang sudah masuk ke paviliun, Okan segera menarik tangan Oki, dia ingin menceritakan tentang hasil laboratorium, Oki pun mendengarkan penjelasan Okan dengan serius.


Oki sedih mendengar tentang berita ini, tapi dia harus bisa menghibur Ayu, membangkitkan semangatnya. Tiba-tiba Oki berkata, "Tapi kamu tidak akan meninggalkan dia kan?"


"Tidak akan pernah," jawab Okan.


"Syukur deh."


"Aku hanya ingin, kamu bantu dia Ki, beri dia semangat."


"Oke...dia gadis baik, Kan. Jadi, Bu Aisyah sudah tahu atau belum berita ini? jika tahu beliau juga pasti sedih."


Okan pun mengangguk, "Aku istirahat dulu ya Ki, nanti harus balik ke klinik."


"Iya deh, ya sudah sana tidur dulu sebentar!"


Okan pun pergi ke kamarnya, dia merebahkan diri tapi pikirannya jadi ragu, apakah dia akan tetap berangkat seandainya pengajuan itu di terima, sementara Ayu masih dalam suasana hatinya yang sedang sedih.


Karena lelah, akhirnya Okan pun tertidur. Begitu juga dengan Ayu, dia masih enggan menyampaikan berita tadi ke ibu. Ayu memilih rebahan, dan akhirnya juga tertidur.



__ADS_1


Metha mencari-cari obat yang di berikan Nenek dukun, tapi dia tidak menemukannya, sementara dia merasa menyimpannya di dalam tas. Kemudian Metha menelephone Tiara untuk menanyakan apakah Tiara melihat atau tidak, ternyata Tiara tidak melihatnya.



"Ah...sial, sial banget aku. Perhiasan ku habis, apapun tidak aku dapatkan, malah celaka yang ada," ucap Metha ngedumel.



Kebetulan sang Mama mendengarnya, "Apa Nak yang kamu katakan? memangnya kemana perhiasanmu?"



"Eh Mama, perhiasan Metha di rampok Ma?"



"Kok kamu baru ini cerita, kenapa tidak dari kemaren? dimana kamu di rampok? anak buah papa kan bisa melacak perampoknya."



"Sudahlah Ma, perampoknya pasti sudah kabur jauh, jadi percuma saja di cari, cuma buang-buang tenaga dan waktu saja," ucap Metha santai.



Mama merasa heran, kenapa putrinya begitu santai kehilangan semua perhiasan yang nilainya ratusan juta. Dia sedikit curiga, tapi tidak mungkin untuk mendesak Metha.



"Met, Mama pulang sebentar ya? kamu berani kan sendirian? Paling sebentar lagi Mama Okan juga sampai untuk menemanimu."




Mama Metha segera meninggalkan ruang rawat, lalu beliau ke parkiran meminta agar sopir pribadinya mengantar pulang.



Sesampainya di rumah, Mama langsung masuk ke dalam kamar, entah mengapa sejak tadi siang perasaannya begitu sedih, tapi beliau sendiri tidak tahu apa penyebabnya.



Mama melihat kalender, dua minggu lagi putri kandungnya ulang tahun yang ke-17. Dia semakin sedih, apakah sang putri masih hidup atau tidak dan jika masih hidup, apakah Bik Nita pengasuh yang membawanya pergi bisa memegang amanah, menceritakan identitas aslinya dan juga menyerahkan liontin tersebut.



Mama menangis, dia mencium kaos kaki kecil putrinya yang sengaja dia simpan, setiap kali dirinya rindu dia selalu mencium kaos kaki tersebut.



Sutan Raja yang masuk ke dalam kamar terkejut saat melihat istrinya menangis sambil menggenggam kaos kaki kecil serta memandangi kalender.



Sutan tahu, pasti istrinya sedang ingat putri kecil mereka, lalu dia merengkuh sang istri ke dalam pelukannya. Mama semakin menangis tersedu-sedu di dalam dekapannya Sutan Raja.


__ADS_1


"Sabar Sayang, jangan menangis terus, putri kita pasti kembali, Papa yakin itu. Nanti setelah usianya 17 tahun dan jika dia mengenakan liontin tersebut kita akan lebih mudah mencarinya."



"Jika tidak bagaimana Pa, bisa saja kan Bik Nita tetap memilih menyembunyikan identitas putri kita?"



"Pasti ada kemungkinan Ma, tapi Papa janji, akan mencarinya lagi, bahkan keluar provinsi."



"Iya Pa."



Kemudian Mama Metha terisak-isak kembali, dia sendiri bingung kenapa hari ini dirinya begitu sedih.



Sutan Raja pun berkata, "Sudah Ma, jangan menangis lagi, nanti jika di lihat besan dan Metha mata Mama bengkak, bagaimana?"



"Iya Pa, entah mengapa sejak tadi siang perasaan Mama tidak enak, rasanya sedih banget, Mama ingin nangis, tapi tidak jelas apa yang membuat Mama sedih."



Sutan hanya membatin, apa mungkin putrinya mengalami hal yang buruk, hingga kontak batin dengan ibunya. Tapi Sutan tidak berani menyampaikan firasatnya itu, dia takut istrinya malah makin sedih.



"Sudah yuk Ma, kita kembali ke rumah sakit, kasihan kan Metha sendirian."



"Iya Pa, sebentar, Mama simpan ini dulu."



Setelah menyimpan kaos kaki kecil tersebut, Sutan Raja beserta istri segera kembali ke rumah sakit, dalam perjalanan Sutan Raja teringat akan Andres, rencananya mereka akan singgah ke rumah Andres dulu sebelum ke rumah sakit.



Sutan Raja membelokkan mobilnya ke sebuah dealer motor, dia ingin membeli motor untuk Andres sebagai ucapan terimakasih. Karena Andres tidak mau menerima uang, Sutan berharap dia mau menerima motor pemberiannya.



Semua kelengkapan surat menyurat kenderaan sudah di urus, kini sebuah motor besar siap di antar ke rumah Andres. Sutan menyerahkan masalah pengantaran kepada pihak dealer dengan memberikan alamat Andres.



Setelah urusan pembelian motor selesai, mereka lalu pergi membeli buah dan kue sebagai oleh-oleh setelah itu barulah Sutan melajukan mobilnya ke rumah Andres.



🌻 Tetap mohon dukungannya ya sobat, terimakasih 🙏

__ADS_1



SEE YOU ♥️♥️♥️


__ADS_2