
"Siapa Nek perempuan itu?" tanya Metha yang masih penasaran.
"Sulit di lihat, tapi sepertinya dia banyak yang melindungi."
"Yang penting Nek, aku mau luluhkan hati Okan. Mengenai perempuan itu, aku yakin bisa mengatasinya setelah Okan berada dalam kendaliku."
"Kamu jangan terlalu yakin, aku mellihat ada kekuatan gaib melindunginya."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan Nek?"
"Pasrah dengan takdirmu! Aku hanya bisa membantu tidak bisa menjamin."
"Ya sudah Nek, nggak apa-apa, yang penting sekarang Okan-nya aja dulu, masalah gadis itu aku pikirkan belakangan."
"Nama lengkapmu!"
"Metha Diandra."
Kemudian si Nenek komat-kamit membaca mantra menyebut nama Okan dan Metha, setelah itu dia mengambil suatu bungkusan dan menyerahkan kepada Metha, "Gunakan untuk kamu mandi, tujuh hari berturut-turut, mengenai laki-laki itu aku yang akan mengerjakannya dari sini."
"Jadi apalagi yang harus aku kerjakan Nek?"
"Rubah sifat mu, dia tidak suka dengan gadis manja."
Metha hanya terdiam mendengar hal itu, dia memang terbiasa hidup manja karena dia satu-satunya putri di keluarga Sutan Raja.
Sejak kecil orang tua dan kedua kakak laki-lakinya selalu memanjakannya. Sekarang kedua kakaknya tinggal di luar negeri, satu orang dokter dan satunya lagi pengusaha.
Kalau masalah uang, Metha tidak pernah kekurangan, sampai dia dewasa sang Kakak selalu mentransfer uang berapapun yang Metha minta.
"Kamu dengar ucapanku!" hardik nenek dukun.
I-iya Nek, aku dengar. Aku akan berusaha berubah demi Okan.
"Sekarang kalian boleh pulang, tapi sebelum itu aku minta perhiasan yang kamu pakai sebagai bayaran untukku. Dan jika berhasil, kamu wajib datang kesini lagi untuk menutup obatnya, kalian paham?"
"Iya Nek," Metha pun langsung melepas semua perhiasan yang dia pakai, baginya tidak masalah karena dia masih bisa membelinya lagi.
Jika orangtuanya bertanya, paling Metha akan bilang jika dia di rampok saat pergi dengan Tiara.
__ADS_1
Setelah memberikan perhiasan tersebut, Metha dan Tiara pun pamit, mereka langsung pulang, sesuai janji sebelum makan siang keduanya sudah harus sampai di rumah.
Nenek dukun tersenyum puas, hari ini dia mendapat mangsa yang besar. Dengan tertawa terbahak-bahak dia memakai semua perhiasan yang tadi di berikan oleh Metha.
Eh...dasar ya readers ternyata si Nenek dukun matre atau mungkin dukun gadungan. Kita tunggu saja kedepannya, apakah yang dia berikan kepada Metha dan janjinya untuk meluluhkan hati Okan terbukti atau tidak.
Tapi tentu saja, setiap melakukan perbuatan yang tidak benar, pasti akan menuai hasil yang buruk pula.
Metha dan Tiara sudah meninggalkan tempat itu, di perjalanan Tiara berkata, "Gila kamu Met, kenapa kamu berikan semua perhiasan itu, pasti harganya sangat mahal, jika tidak berhasil bagaimana?" tanya Tiara.
"Tenang saja, perhiasan itu tidak seberapa nilainya, aku langsung bisa dapat gantinya sekarang juga bila mau, tinggal telephone kedua kakak ku selesai."
Tiara menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan betapa di manjanya Metha dalam keluarganya dan betapa kaya kedua kakak serta kedua orangtua Metha.
"Kamu yakin Met, nenek itu bukan dukun gadungan? aku jadi ragu lho? temanku yang merekomendasikan tidak pernah cerita jika bayarannya sebanyak itu."
"Tapi kamu dengar sendiri kan? apa yang di omongkan nenek itu tentang Okan dan sifatku semua benar. Tinggal aku membuktikan apa benar Okan memiliki pacar seorang gadis buruk rupa atau tidak."
"Iya sih."
"Ya sudah jangan kamu pikir-pikir lagi, ntar kamu sakit kepala, aku yang memberikan perhiasan itu saja bisa santai."
Masih dalam pikirannya yang linglung, Tiara di kejutkan oleh teriakan Metha, "Awas Tiara!"
Tiara kaget langsung membelokkan motor yang di kendarainya ke arah kebun orang, hampir saja sebuah truk menyerempet mereka. Keduanya nyungsep di rerumputan.
Metha menangis saat kakinya tertimpa sepeda motor, betisnya tergores dan berdarah. Tiara juga terhimpit tubuh Metha hingga dia yang panik ingin menolong Metha malah tidak bisa bangkit.
Akhirnya ada seorang pemuda yang lewat di sana dan menolong keduanya. Pemuda itu merasa kasihan melihat Metha yang kakinya berdarah, lalu mengoyak kemejanya dan segera membalut luka di betis Metha.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu kepada Tiara.
Tiara menggeleng, "Tolong bawa saja temanku ke rumah sakit, lukanya harus segera diobati. Aku akan nyusul, setelah memberi kabar kepada orangtua Metha."
"Oh, namanya Metha."
"Iya maaf, perkenalkan aku Tiara dan dia Metha."
"Aku Andres. Baiklah, aku akan bawa temanmu ke rumah sakit," ucap Andres yang tidak tega melihat Metha meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ayo Met, aku bantu kamu berdiri dan naik ke motor Andres," ucap Tiara sambil memapah Metha.
"Sudah, biar kita berangkat," ucap Andres.
"Iya," jawab Metha lirih.
Kemudian Andres melajukan motornya menuju rumah sakit terdekat, sementara Tiara berencana pergi ke rumah orangtua Metha, lalu pulang sebentar untuk memberitahu ibunya bahwa dia akan ke rumah sakit ingin menemani Metha.
Andres dan Metha sudah tiba di rumah sakit, kemudian Andres hendak memapah Metha, tapi Metha menolak hingga membuat Andres bingung.
Diapun membiarkan Metha yang keras kepala, hendak berjalan sendiri, Metha hampir saja jatuh ketika melangkahkan kakinya dan dia menjerit kesakitan, untung saja Andres sigap menahannya hingga tidak tersungkur ke tanah.
"Kamu bandel! tuh lihat kakimu bengkak, aku rasa terkilir dan coba lihat darah semakin banyak keluar dari lukamu."
Andre langsung menggendong Metha, lalu membawanya ke ruang UGD. Metha tidak bisa membantah lagi karena memang kakinya susah untuk digerakkan.
Dokter dan suster segera memeriksa Metha lalu membersihkan lukanya, sementara Andres menunggu kedatangan orang tua Metha dulu untuk mengurus administrasi agar Metha bisa di rawat.
Dia sebenarnya sanggup mengurusnya, tapi Andres tidak ingin di salahkan, jika dirinya dengan lancang menandatangani tanpa persetujuan orangtua Metha.
Tidak menunggu lama, orang tua Metha pun sampai. Sutan Raja, papa Metha langsung mengurus administrasi untuk perawatan putrinya.
Terimakasih Nak Andres, sudah menolong putri kami," ucap Sutan Raja.
"Sama-sama Tuan, Saya kebetulan lewat dan melihat mereka tertimpa sepeda motor. Karena luka Metha banyak mengeluarkan darah, saya putuskan untuk mengantarnya ke rumah sakit."
Sutan Raja pun mengajak Andres untuk melihat Metha yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Di sana, Mama Metha, Mama dan Papa Okan serta Tiara beserta ibunya, sudah berkumpul menemani Metha.
Metha yang tidak tahan sakit, merengek dalam pelukan Mamanya dan ketika melihat Sang Papa masuk diapun melakukan hal yang sama.
"Eh...ternyata gadis manja," gerutu Andres lirih dan terdengar di telinga Tiara.
Tiara membulatkan mata, namun Andres membalasnya dengan tersenyum. Dia tidak sadar ternyata ada yang mendengar gerutuannya tadi.
🌻 Selamat malam, selamat beristirahat kepada seluruh pembaca dan kita ketemu lagi dalam up berikutnya, Insya Allah besok. Semoga author dan para pembaca tetap di beri kesehatan. Aamiin...
Jangan bosan ya...jika aku selalu minta dukungannya karena keberhasilan kami dan juga semangat kami semua berkat dukungan kalian. 🙏♥️
SEE YOU ♥️♥️♥️
__ADS_1