
"Mana nih adik-adikku?" tanya Haris begitu sampai di ambang pintu.
"Kakak...!" seru Metha sambil menghambur ke pelukan Haris, sedangkan Ayu yang masih canggung dan belum mengenal pribadi sang kakak hanya berdiri sambil mengulurkan tangan, siap untuk menyalim Haris dan Andra.
Haris menarik Ayu juga ke dalam pelukannya, sambil berkata, "Kamu adikku, adik kecilku."
Lalu keduanya beralih ke Andra, Andrapun mengelus puncak kepala kedua adik perempuannya dan berkata, "Berbahagialah kalian adik-adikku, kami semua menyayangi kalian. Selamat datang adik kecilku, maafkan kami yang selama 17 tahun telah mengabaikanmu," ucap Andra.
"Semua terjadi bukan karena kemauan kalian Kak, aku bahagia sekarang bisa bersama keluargaku," jawab Ayu.
Setelah itu Ayu dan Metha mengabarkan kakak ipar mereka, Shita dan Arini serta bergantian menggendong baby Dhafa yang sekarang ada dalam gendongan Mama Sintia.
"Ayo kita masuk," ajak Mama Sintia.
Ayu dan Metha pergi ke dapur, mereka membantu Bibi untuk menyiapkan minuman dan cemilan, sementara Bibi menyiapkan makanan agar mereka bisa segera makan bersama.
Siang ini dipenuhi dengan obrolan tentang kehidupan Ayu yang pahit. Mereka semua minta maaf dan berjanji, mulai sekarang dan seterusnya, akan membuat Ayu bahagia.
"Terimakasih Okan, kamu ikhlas menerima dan mencintai adik kami walaupun orang lain telah menganggapnya buruk dan wanita pembawa sial," ucap Andra.
"Aku mencintai Ayu Kak, aku janji akan berusaha terus untuk memberikan kebahagiaan untuknya hingga dia tidak akan mengingat lagi kepahitan hidup yang pernah dia alami."
"Dengar Dek, apa kata Dokter Okan, berbahagialah kalian dan cepat beri kami keponakan ya," ucap Haris sembari memeluk adiknya.
"Kakak dan Kak Arini dulu dong, kasi Papa Mama cucu. Ayu belum boleh ntar di DO pihak sekolah," jawab Ayu.
"Iya benar, kapan kalian akan memberi Mama dan Papa cucu?" tanya Mama.
"Insyaallah akhir tahun ini Arini selesai kuliah Ma, kami akan mulai program untuk mempersiapkan kehamilan," jawab Arini yang merasa bersalah karena telah menunda kehamilan.
"Alhamdulillah," ucap mereka sama-sama.
"Mudah-mudahan kebahagiaan kita semakin bertambah, tinggal nunggu kabar baik nih dari Rendi dan Metha," ucap Sutan.
"Tenang Pa, kami nggak menunda kok! kalau bisa kami ingin memberi Papa dan Mama cucu kembar, ya kan Mas?" ucap Metha yang ingin menggoda Rendi.
Rendi tersenyum mendengar ucapan Metha, dia bersyukur kegagalan rumah tangganya yang lalu kini berbuah manis. Dia perlahan bisa mendapatkan cinta Metha seutuhnya.
"Ayo kita makan, Bibi sudah persiapkan semua," ajak Mama Sintia.
Semua menuju keruang makan, Sutan senang, anak menantu dan cucunya berkumpul hingga membuat rumah mereka menjadi ramai.
__ADS_1
Mama Ina dan Bu Nita sudah mempersiapkan makanan untuk menyambut kedatangan keluarga besan, sementara Oki sedang menjemput Sisil dan ibunya, dia ingin memperkenalkan mereka kepada keluarganya.
Sisil pun sudah bersiap, dia berdandan sangat cantik hingga membuat Oki terpesona, kemudian dia berkata untuk menggoda kekasihnya.
"Aku jadi tidak sabaran nih ingin segera menyusul Okan, menghalalkan kamu Sil," ucap Oki.
"Ah...Kak Oki, punya penghasilan dulu dong? Sisil mau di kasi makan apa? Nggak mau lah mertua yang kasi makan Sisil," ucap Sisil sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya...siap Sayang. Semua sudah beres kok, setelan pernikahan Okan dan sebelum keberangkatannya, bengkel dan toko kita resmi di buka," jawab Oki sambil mengelus puncak kepala Sisil.
"Itu Ibu sudah siap, ayo kita berangkat. Sebentar lagi Okan dan keluarga Om Sutan akan sampai," ajak Oki.
Mereka pun segera berangkat, sementara Okan dan rombongan juga telah sampai di bandara. Okan memesan taksi bandara agar tidak merepotkan Oki. Kasihan jika Oki harus bolak-balik menjemput Sisil dan juga mereka.
Mama mempersilakan Sisil dan ibunya untuk menikmati minuman dan juga cemilan yang telah Bu Nita sajikan.
"Senang sekali kalian bisa hadir, jadi lengkap keluarga ini. Sebentar lagi Okan, Ayu beserta rombongan juga sampai," ucap Mama Ina.
Baru selesai berucap, terdengar suara mobil masuk ke halaman, Mama langsung berdiri melihat siapa yang datang, ternyata Okan dan rombongan sudah sampai.
Mama, Papa Chandra, Sisil, Ibu Sisil, Bu Nita dan Oki pun menyambut kedatangan rombongan keluarga besan.
__ADS_1
Sutan dan Mama Sintia yang melihat Bu Nita segera memeluk beliau. Mama Sintia menangis dalam pelukan Bu Nita, dia sangat berterimakasih karena Bu Nita telah merawat Ayu menjadi gadis yang sangat baik.
Begitu juga Sutan, dia berkata kepada Bu Nita, "Bi Nita... terimakasih telah merawat, membesarkan dan mendidik putriku hingga dia menjadi gadis yang kuat, cantik dan juga baik hati. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan dan pengorbanan Bi Nita selama ini."
"Tuan jangan bilang seperti itu, Saya sangat bahagia, Tuan dan Nyonya telah memberi saya kesempatan untuk menjadi ibunya Den Ayu selama 17 tahun," ucap Bu Nita sungkan.
"Ibu..., kenapa Ibu memanggil Ayu seperti itu, Ayu bukan majikan ibu, Ayu selamanya tetap anak Ibu, tidak ada yang bisa mengubah hal itu," ucap Ayu sambil menangis dan memeluk Bu Nita.
"Benar yang dikatakan oleh Ayu Bi, Bibi tetap Ibunya dan aku Mamanya. Kita orangtua Ayu Bi dan Bibi adalah keluarga kami," jawab Mama Sintia.
Sisil pun mendekati Ayu, kemudian dia memeluknya sambil berkata, "Selamat kembali pulang sahabatku, saudariku. Alhamdulillah, akhirnya kepahitan hidupmu selama ini terbalas dengan banyak kebahagiaan."
"Terimakasih Sil, selama ini mau menjadi sahabat dan juga saudariku, dimana semua teman menjauhiku, tapi kamu dengan ikhlas mau menjadi sahabatku dan sekarang kita menjadi saudara," ucap Ayu sambil memeluk erat Sisil.
Semua merasa haru, Okan dan Oki tersenyum, mereka beruntung mendapatkan gadis baik seperti Ayu dan Sisil.
Mama Ina pun memecah keharuan itu dengan berkata, "Selamat datang kepada kedua calon menantuku dan juga keluarga besan, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku, akhirnya Allah memberiku kesempatan melihat anak-anak ku tumbuh dewasa dan mendapatkan kebahagiannya. Terutama sebentar lagi aku akan menyusul kamu Sutan, kita akan sama-sama menimang cucu."
"Iya Na, ternyata keinginan dan doa kita dikabulkan Allah, bisa berbesan seperti janji kita dulu di masa sekolah," ucap Sutan yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ayo silahkan di minum dan dimakan cemilannya, sambil menunggu Bibi mempersiapkan makanan," ajak Mama Ina.
"Pa...Ma, kami permisi dulu, mau membantu Ibu menyiapkan makanan," ucap Ayu, Metha dan juga Sisil.
__ADS_1
Mereka segera membantu Bu Nita dan pelayan lain menyiapkan hidangan makan malam, sementara Cantika walau masih gadis kecil, dia juga ingin membantu Mamanya menyusun buah ke dalam tempat buah yang telah di sediakan oleh Metha.