
"Jangan melamun lagi, ayo semangat Yu. Aku tidak suka melihatmu seperti ini.
"Iya Kak."
Okan terus melajukan mobilnya ke klinik, mereka banyak diam di sepanjang perjalanan. Sebenarnya Okan juga memikirkan masalah yang di katakan Ayu tadi. Okan tahu, Metha bisa melakukan hal yang nekat jika dia sampai tahu Ayu adalah saingannya.
Namun Okan tidak mau Ayu tahu, jika dia juga sedang gelisah memikirkan hal ini. Untuk menghilangkan kegelisahan mereka Okan memutar lagu romantis hingga membuat suasana lebih santai.
Dengan menggenggam tangan Ayu dan tangan kanannya memegang stiur, Okan ikut bernyanyi. Suaranya yang merdu membuat Ayu sangat menikmatinya.
Tidak terasa mereka pun sampai, pasien yang mendaftar kemaren sudah antri, Okan segera melayani mereka sambil menunggu datangnya sholat ashar. Malam ini mereka pasti akan pulang terlambat melihat banyaknya pasien yang mengantri.
Saat sedang sibuk melayani pasien, ponsel Okan berdering, dia melihat Metha yang memanggil. Okan membiarkan ponselnya terus berdering hingga pasien memberinya kesempatan untuk mengangkat telephone.
Okan memberikan ponselnya kepada Ayu, agar ayu mengangkatnya dan mengatakan bahwa Okan sedang sibuk melayani pasien.
Ayu mengangkat panggilan video dari Metha, dia langsung mengarahkan kepada pasien yang antri, lalu tanpa memperlihatkan wajahnya Ayu pun berkata, "Jangan telephone lagi suamiku, dia sedang sibuk."
Mendengar kata suamiku, Metha meradang, berbagai pertanyaan dia cecarkan. Metha penasaran ingin melihat wajah perempuan yang sedang berbicara dengannya sekarang.
Tapi Ayu malas meladeninya lagi, kemudian dia menonaktifkan ponsel Okan. Hari ini hatinya lagi kacau maka Ayu berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan dampak atas ucapannya tadi.
Metha mendesak Mama Papanya agar mengizinkannya pulang ke Medan hari ini juga, padahal kakinya belum sembuh benar dan urusan bisnis Papa Okan di Padang juga belum kelar.
Mama Okan yang mendapat telephone dari Sutan malah bingung, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Metha buru-buru ingin balik ke Medan. Pasti ada hubungannya dengan Okan, makanya sang Mama mencoba menghubungi ingin meminta penjelasan dari Okan.
Metha sudah memesan tiket penerbangan malam ini juga, hal ini membuat Papa dan Mamanya tidak bisa menahannya lagi. Mereka hanya bisa menghela napas, sembari berdo'a tidak akan terjadi apa-apa dengan Metha.
Mama Okan berulang kali menelephone Okan tetap ponselnya tidak aktif, akhirnya Mama menelephone Oki dan Oki mengatakan jika Okan sedang berada di klinik.
Papa dan Mama Metha mengantarnya ke bandara, mereka berjanji akan datang ke Medan setelah urusan Papanya selesai.
__ADS_1
Metha yang tidak bisa menghubungi Okan semakin uring-uringan, dia mencoba menghubungi Oki tapi Oki sengaja tidak mau mengangkatnya.
Dengan kesal Metha naik ke pesawat, dia berencana akan menghubungi Okan lagi saat sudah sampai di bandara Kualanamu.
Ayu baru ingat jika dia mematikan ponsel Okan, sebelum mengembalikannya dia pun menghidupkannya kembali. Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Mama Okan dan juga Metha.
Yang paling mengejutkan adalah sebuah pesan masuk dari Metha yang mengatakan bahwa dia sudah terbang ke Medan dan ingin segera bertemu dengan istri Okan.
Mata Ayu membulat, tangannya gemetar lalu dia mengembalikan ponsel Okan sambil berkata, "Kak...maafin aku, ini lihat. Tadi aku asal ucap saja, karena dia nyerocos terus, mana hatiku lagi tidak enak, aku bilang deh jangan telephone suamiku lagi. Nah ini lihat! dia langsung terbang ke sini. Bagaimana ini Kak? bagaimana jika dia melabrak kita?"
Okan bukannya marah, dia malah tertawa terbahak-bahak, hingga membuat Ayu bingung. Okan pun menghentikan tawanya saat melihat Ayu membulatkan mata lalu mencubit lengannya.
"Kamu sih usil, coba lihat hasil perbuatanmu tapi nggak apa-apa deh, aku mau saat ini juga jadi suamimu," ucap Okan sambil tersenyum.
"Kak Okan serius dong? aku takut, bagaimana jika Mbak Metha langsung ke sini?"
"Biarin aja, kita pura-pura saja sudah menikah gampang kan?"
"Langsung kita nikah besok dan minta surat nikahnya sekalian, nah selesai, tinggal tunjukkan ke Metha."
"Kak...udah deh, jangan bercanda terus, aku serius."
"Kamu pikir aku main-main Yu, aku siap menikahi kamu sekarang juga," ucap Okan serius.
Sekarang Ayu malah jadi bingung, ternyata Okan beneran serius. Dia akhirnya diam, pasrah jika Metha datang melabrak.
"Kok diam, aku serius lho Yu. Aku sedari tadi di mobil pura-pura tenang. Sebenarnya, jujur aku juga gelisah, aku sudah dapat bocoran Yu, jika pengajuan bea siswaku di terima. Aku ingin kamu ikut kesana sebagai istriku. Mungkin dengan kita menikah dan kamu ikut, Metha akan berhenti mengejarku."
Okan terdiam sejenak, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Aku tidak akan tenang meninggalkanmu di sini, apalagi sekarang Metha sudah kembali, dia itu orangnya nekat Yu."
"Lantas sekolah ku bagaimana Kak?"
__ADS_1
"Nah ini yang jadi permasalahannya, empat bulan lagi menunggu kelulusan kan? kita juga tidak mungkin menikah saat statusmu masih pelajar, jika sudah lulus nggak masalah, dan jika kamu ingin lanjut kuliah, aku pun sanggup membiayai kuliahmu di sana."
"Ibu bagaimana Kak? kasihan beliau, ya sudah Kakak berangkat deh, aku pasti tunggu kakak pulang. Kalau Metha macam-macam aku pasti akan lawan atau lapor ke polisi."
Okan terdiam mendengar jawaban Ayu, memang benar kasihan dengan Ibu, tapi Okan nggak yakin Ayu bisa melawan Metha yang menurut Okan selain manja juga licik.
"Kita lihat perkembangannya nanti ya Yu? Ayo, sekarang kita bersiap pulang, paling Metha juga sudah sampai di rumah."
"Kita pulang masing-masing saja ya Kak, agar Mbak Metha tidak curiga."
"Tidak! Aku tidak ingin ambil resiko terjadi apa-apa denganmu di jalan, mana hari sudah malam."
"Kita hadapi Metha sama-sama."
"Baiklah Kak, aku bersiap dulu ya?"
Okan dan Ayu pun membereskan sisa pekerjaan mereka, sementara kedua suster pun, sudah di jemput suami mereka masing-masing.
Setelah mengunci klinik, Okan dan Ayupun bergegas pulang.
Sementara Metha dari bandara langsung menuju ke rumah orang tua Okan dengan naik taksi, dia sudah tidak sabar ingin bertemu Okan dan menanyakan kebenaran tentang istrinya.
Di perjalanan, Okan menghubungi Oki, memberitahu jika sebentar lagi Metha bakal sampai rumah. Oki yang malas berurusan dengan Metha langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Tapi Oki teringat Bu Aisyah, lalu dia keluar lagi, rencananya ingin memberitahu jika sebentar lagi Metha akan sampai, eh... ternyata orang yang mau dibicarakan sudah berada di depan pintu masuk.
"Ki...dimana Okan? beritahu aku Ki, apa benar dia sudah menikah? tadi saat aku telephone, seorang wanita yang mengangkat dan dia bilang jangan ganggu suaminya. Apa benar Ki, dia sudah menikah diam-diam?"
"Kamu sih kenapa suka banget ganggu suami orang! Sudah tahu Okan hanya menganggapmu adik, eh... kamunya terus memaksa. Memang dia sudah menikah!"
Metha terduduk lemas, koper yang ada di tangannya terlepas dan jatuh, dia menangis dan tidak rela diperlakukan seperti ini oleh Okan. Metha bertekad akan membalasnya, membuat istri Okan menyesal karena telah mengambil miliknya.
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️