
Kamu mau kemana Nak?" tanya Mama Naviza, ketika melihat putrinya mengendap-endap hendak keluar rumah.
"Eh...Mama! Boleh ya Ma, Metha keluar sebentar, Metha ingin menemui Tiara, sudah lama kan Ma, kami tidak ketemu. Metha janji deh, nggak bakal keasyikan ngobrol."
"Tapi kan nggak enak, sama Papa dan Mama Okan, sementara mereka di sini butuh teman ngobrol eh kamunya kabur."
"Please Ma, sebentar saja. Boleh ya Ma, lusa kami sudah harus kembali ke Medan, nah kapan waktunya Metha bisa ketemu teman."
"Sudah, biarkan dia pergi, kasihan-kan anak gadis di kurung terus," bela Mama Okan.
"Iya tuh Mama, Metha jarang pulang, sekalinya pulang eh...jadi gadis pingitan," ucap Metha manja merasa menang karena mendapat pembelaan dari Mama Okan.
"Ya sudah sana pergi! tapi jangan lama-lama pulangnya ya Nak, sebelum makan siang sudah harus sampai di rumah."
"Baik Ma."
Metha pun pergi setelah pamit, dia mengendarai motornya menuju rumah Tiara. Tiara lah yang akan mengantarnya ke alamat rumah dukun yang bisa menolong Metha untuk menundukkan hati Okan.
Bunyi klakson motor di luar rumah membuat Tiara bergegas, dia pamit kepada ibunya akan berjalan-jalan bersama Metha. Ibu Tiara yang mendengar Metha baru pulang segera keluar untuk mengabarkannya.
"Nak Metha, kapan sampai? Ibu lihat bertambah cantik Nak Metha selama tinggal di Medan."
"Ah Ibu bisa saja. Metha-kan dari dulu seperti ini saja Bu?"
"Ya iyalah Bu, Metha harus semakin cantik. Cantik saja susah ngedapatin pangeran impiannya, apalagi jelek, iya kan Metha?" ucap Tiara.
Metha pun mengangguk, membenarkan ucapan Tiara.
"Mana mungkin ada pemuda yang menolak Nak Metha, sudah cantik, pintar, punya usaha sendiri dan yang jelas dari keluarga terpandang dan terkaya di sini. Siapa sih yang tidak kepingin berbesan dengan keluarga Sutan Raja," timpal Ibu Tiara yang merasa tidak yakin ada pria yang menolak Metha.
"Buktinya ada Bu?" ucap Metha.
"Ibu jadi penasaran, seperti apa sih pemuda yang berani menolak cinta Nak Metha. Apa dia tampan seperti pangeran, atau anak presiden?"
"Dia lebih dari yang Ibu sebutin, makanya Metha harus bisa ngedapatin dia Bu? Metha tidak bisa mencintai orang lain."
"Wah... ternyata cinta Nak Metha, cinta mati ya? Beruntung sekali pemuda itu?"
Metha hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya Tiara, lalu diapun pamit, "Bu... Metha ajak Tiara jalan-jalan ya? sebelum makan siang, pokoknya Metha akan antar Tiara pulang."
"Iya Nak, pergilah! Tapi ingat, hati-hati ya!"
"Siip, aman Bu," jawab Tiara.
__ADS_1
Metha menyerahkan kunci motornya kepada Tiara, karena Tiara yang lebih paham jalan ke rumah dukun tersebut.
Tiara melajukan motor Metha dengan kecepatan sedang, lalu dia berbelok ke sebuah jalan yang agak menanjak, karena merupakan area perbukitan.
Tiara kesulitan karena jalanan sedikit licin, sebab tadi malam baru turun hujan. Setelah berusaha melajukan motornya, sampailah mereka di sebuah kebun yang luas.
Jauh di tengah kebun, terdapat sebuah pondok yang terbuat dari bambu. Suasana sepi dan rimbunnya pepohonan yang mengelilingi pondok tersebut membuat bulu kuduk Metha pun berdiri.
Aura dan aroma dupa sangat jelas tercium oleh mereka, hingga menambah keseraman tempat tersebut.
Tiara yang melihat Metha hanya berdiri mematung sambil memegangi tengkuknya pun segera menyenggol lengannya.
"Ayo, tunggu apalagi!" ajak Tiara.
"Aku kok takut ya Ra?" ucap Metha.
"Kamu mau lanjut atau kita balik saja nih!" ucap Tiara yang kesal dengan kepengecutan sahabatnya.
"Aku ragu," ucap Metha lagi sambil berjalan perlahan di belakang Tiara.
Metha berhenti setelah jarak lima meter dari gubuk, dia masih ragu tapi akhirnya dia di kejutkan oleh sebuah suara seorang wanita tua yang menyuruh mereka masuk.
Padahal Metha dan Tiara tidak melihat satu orang pun di sana, yang ada hanya sebuah gubuk reyot yang pintunya masih tertutup.
Metha menjerit ketakutan hingga membuat anak kecil tersebut menyeringai, lalu tertawa.
"Kamu siapa?" tanya Metha.
"Kenapa Kakak tidak masuk? nenek kan sudah menyuruh kalian untuk masuk. Buka saja pintunya, tidak di kunci kok," ucap anak tersebut sambil berlari menuju ke belakang gubuk.
Akhirnya Metha dan Tiara saling berpegangan tangan, mereka memberanikan diri untuk masuk. Sebenarnya Tiara juga baru kali ini datang, dia mendapatkan alamat tempat itu dari temannya.
"Metha mendorong pintu, dia melihat seorang nenek kurus, rambutnya putih tergerai acak-acakan, sedang duduk di atas dipan menghadap ke arah tempat pembakaran dupa."
Bulu kuduk keduanya semakin berdiri melihat tampang menyeramkan si nenek, mereka saling dorong hingga membuat nenek tersebut menatap tajam ke arah keduanya dan berkata dengan lantang, "Duduk!"
Dengan gemetar, mereka mendekat lalu duduk di hadapan sang nenek.
"Apa yang kalian mau!" ucap sang nenek dengan nada membentak.
"Temanku nek," ucap Tiara sambil menyenggol lengan Metha yang gemetaran.
"Ayo Met, bicara," bisik Tiara.
__ADS_1
"I-iya Nek, aku mau minta tolong. Aku mencintai seorang pria dan keluarga kami sudah saling setuju agar kami menikah, tapi dia selalu menolak Nek, dengan alasan dia hanya menganggapku adik. Tapi aku nggak mau Nek cuma dianggap adik, aku mencintai dia dan ingin menikah dengannya."
"Kamu bawa fotonya?"
"Ada Nek!"
Metha membuka tasnya, lalu dia mengambil foto Okan yang memang sengaja telah dia siapkan, jika di minta oleh sang dukun.
Dengan tangan gemetar, Metha menyerahkan foto Okan kepada sang nenek. Nenek dukun pun sambil memegang foto lalu bertanya, "siapa namanya?"
"Dr. Okan Chandra Pratama, Sp. KK nek," jawab Metha yang menyebutkan nama lengkap Okan beserta gelar kesarjanaannya.
Nenek dukun manggut-manggut, sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Matanya pokus menatap foto Okan seakan dia menerawang, melihat Okan dari jarak jauh.
Setelah itu, nenek dukun meletakkan foto Okan dan berkata, "Dia memang tidak pernah mencintaimu, dokter muda itu pernah mencintai seorang gadis cantik dan baik, tapi belum sempat dia menyatakan cintanya, gadis itu keburu meninggal."
Sejenak sang nenek terdiam, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Akhirnya dia hidup dalam penyesalan hingga seorang gadis buruk rupa hadir dalam kehidupannya dan sekarang mereka sudah menjadi pasangan kekasih."
"Kalau gadis yang pertama aku tahu Nek, namanya Naura, adik kembarnya pernah cerita tentang masa lalu Okan. Tapi gadis yang buruk rupa, setahuku tidak ada Nek? nanti nenek salah melihat."
"Jadi kamu tidak percaya denganku ya! Jika begitu pergi saja kalian! Cari orang lain saja untuk membantumu, silahkan keluar!" usir sang nenek yang marah.
Tiara yang melihat nenek dukun marah membulatkan mata kepada Metha, lalu dia berkata kepada sang nenek, "Maaf Nek! Maafkan temanku, dia tidak bermaksud begitu. Dia percaya kok dengan kemampuan Nenek, tolong bantu dia ya Nek?"
"I-iya Nek. Aku hanya penasaran, siapa wanita buruk rupa yang belum pernah aku lihat itu, yang sekarang menjadi kekasih Okan."
Akhirnya sang nenek dukun pun meredakan amarahnya, karena Metha dan Tiara sudah meminta maaf.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud)
Berhati-hatilah kita para sahabat, jangan sampai terlibat kepada praktek sihir dan perdukunan yang akhirnya akan kafir dan berbalik kepada diri kita sendiri.
🌻 Jangan lupa ya sobat, dukung karyaku dengan pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih atas semua dukungan, selamat sore, selamat beristirahat dan aku tunggu lho dukungan selanjutnya 🙏😉
🌻 Hari ini aku juga merekomendasikan karya sahabatku lho sobat, karya dari Kak Tita Dewahasta, sangat bagus dan oke lho karyanya, silahkan mampir ya dan beri dukungan di sana. TERIMAKASIH 🙏🙏
__ADS_1