
Sutan dan istrinya pamit pulang kepada keluarga Okan, sebelumnya Sutan juga telah menelephone Rendi dan Metha, jika mereka harus pulang ke Padang secepatnya.
Orang tua Metha memintanya agar mengajak Rendi dan Cantika jika sudah sembuh untuk datang ke kampung mereka sehingga bisa diperkenalkan kepada keluarga besar Sutan Raja.
Sementara, Okan, Oki, Ayu, dan Papa Mama pun pulang. Sore ini Mama meminta Okan dan Ayu untuk ke butik langganan mereka, guna membeli baju untuk akad nikah dan langsung belanja kebutuhan seserahan.
Mama akan menemani mereka belanja, sembari mengunjungi teman lamanya yaitu pemilik butik.
"Bagaimana Kan, bisa sore ini kita pergi?" tanya Mama.
"Iya Ma, insya Allah kami bisa."
"Bagus deh biar Mama telephone Yayuk teman Mama."
"Kalau Oki ikut jejak okan, melamar anak orang juga boleh Ma?"
"Oh...tentu saja boleh Ki, Mama senang jika cepat punya cucu, tapi dengan syarat, kamu harus punya pekerjaan dulu atau meneruskan bisnis Papa."
Oki tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi memang benar yang telah di katakan sang Mama, dia harus memiliki pekerjaan tetap hingga suatu saat bisa menafkahi istri dan anak-anaknya.
"Baiklah Ma, tapi jika Oki buka usaha sendiri bagaimana Ma, boleh kan Pa?"
"Memangnya kamu mau usaha apa?" tanya Papa Chandra.
"Bengkel Pa, menjual alat-alat kenderaan bermotor, apa Papa dan Mama mau dukung Oki?"
"Baiklah! Papa juga tidak bisa memaksakan kehendak, agar kamu meneruskan bisnis Papa. Jadi kapan kamu akan memulai? dan kira-kira dimana tempat yang strategis, juga sudah harus kamu pikirkan Ki."
"Iya Pa, terimakasih ya Pa. Jika nanti Oki sudah menemukan tempat yang pas, Oki akan kabari Papa."
"Selamat ya adikku, akhirnya kamu bisa serius juga. Coba dari dulu seperti ini, pasti sekarang kamu sudah jadi pengusaha sukses," ucap Okan.
Oki hanya nyengir kuda mendengar ucapan Okan, tidak ada guna menyesali yang sudah terjadi yang terpenting tidak ada kata terlambat untuk memulai.
"Yu, coba kamu lihat, Pengaruh mengenal Sisil saja bisa merubah Oki jadi seperti ini, apalagi jika sudah jadi pacarnya?"
__ADS_1
"Oh...jadi kalian sudah kenal siapa pacar Oki?"
"Sudah dong Ma, dia teman sekelas dan sebangku Ayu."
"Oh...syukur dah, jika anaknya baik, yang penting dia mampu membawa pengaruh positif saja untuk Oki, Mama sudah senang, iya kan Pa?"
"Iya benar, Papa setuju dengan Mama."
"Alhamdulillah," ucap Oki.
"Oh ya Kan, Ayu...temani dong aku ntar malam ke rumah Sisil?"
"Ntarlah, kalau kami bisa pulang cepat, kami akan temani kamu Ki. Tapi biasanya jika pergi dengan Mama, pasti bakalan lama."
"Iya dong, nggak sering-sering kan Mama bisa keluar belanja sambil ngerumpi bersama teman Mama."
"Ayo kita turun! sudah sampai tuh, apa kalian mau ngobrol saja, di sini?" ajak Papa.
Merekapun turun lalu Okan mengantarkan Ayu dulu baru kembali ke kamarnya. Sementara Oki, hari ini merasa senang, dia berharap nanti malam Sisil akan menerima ungkapan cintanya."
Ayu yang baru mau masuk ke kamarnya, di panggil oleh Ibu, "Yu... sebentar, ada yang ingin Ibu bicarakan."
"Apa kalian jadi berangkat?"
"Insya Allah besok Bu, tadi Ayu sudah minta izin dengan pihak sekolah, tinggal membicarakan semua dengan Mama dan Papa. Kata Okan besok saja menjelang keberangkatan baru jujur ke mereka."
"Oh...ya sudah. Yang terpenting kalian harus minta izin dan jangan lupa liontin itu harus tetap kamu pakai. Ini alamat rumah orangtuamu dulu, mudah-mudahan saja mereka masih tinggal di sana. Jika sudah pindah, setidaknya kalian masih bisa menanyakannya kepada tetangga di sana," ucap ibu sambil menyerahkan selembar kertas.
Di situ tertera nama Papa dan Mama Ayu yang sebenarnya, bukan gelar. Setelah memberikan alamat tersebut, ibu dan Ayupun kembali ke kamar masing-masing.
Pukul tiga sore, Okan, Ayu dan Mama berangkat ke butik, di sana Mama meminta Ayu memilih warna yang mereka inginkan. Ayu dan Okan memilih pakaian putih bernuansa gold.
Ketika mereka mulai mencoba pakaian tersebut, Mama mengacungkan kedua Ibu jarinya pertanda setuju.
"Sempurna," ucap Mama.
__ADS_1
"Pilihan kalian ternyata sama dengan selera Mama," ucap beliau lagi.
Mama yang tahu mereka akan menemani Oki nanti malam, segera mengajak keduanya untuk pergi guna membeli keperluan seserahan termasuk cincin pernikahan.
Okan membelikan satu set berlian yang harganya cukup membuat mata Ayu membulat, lalu Mama memilihkan tas, sepatu, alat make up, dan seperangkat alat sholat.
Kini mereka sudah selesai berbelanja, dan tiba waktunya untuk pulang. Dalam perjalanan pulang Okan ingin mengatakan tentang rahasia masa lalu Ayu dan rencana mereka besok akan mencari orang tua kandung Ayu.
"Mendengar cerita Okan, Mama pun terkejut, lalu Mama berkata, "Pergilah! Mama mengizinkan kalian berangkat, yang terpenting harus berhati-hati dan sebisa mungkin harus cepat kembali."
"Boleh Mama lihat seperti Napa Yu? jika kamu tidak keberatan."
"Boleh Ma," ucap Ayu sembari mengangkat sedikit jilbabnya.
Mama memegang kening Ayu, sambil berkata," ternyata benar seperti sisik ikan ya Yu, tapi kamu harus sabar, semua pasti ada hikmahnya."
"Terimakasih Ma, telah menerima Ayu dengan kondisi seperti ini. Ayu beruntung mendapatkan mertua seperti Mama Papa."
"Mama pun senang Yu, kamu berhasil membuat kedua anak Mama baikan kembali dan bisa merubah Oki hingga bersemangat sembuh."
Okan yang melihat Ayu dan Mama saling peluk pun
berkata, "Terimakasih Ma, Ayu. Kalian adalah wanita terhebatku, rasanya aku berat untuk pergi."
"Pergilah Kak, kejar impian kakak. Ayu janji untuk segera menyusul."
"Tenang, nanti Mama sendiri yang akan mengantar Ayu ke Amerika."
"Syukur dah jika begitu, Okan bisa tenang."
Okan terus melajukan mobilnya, dia harus sudah sampai rumah sebelum maghrib. Oki yang melihat sang kakak telah kembali merasa senang, malam ini bakal ada yang menemani dirinya pergi ke rumah Sisil.
Oki menghampiri mereka, membantu menurunkan barang belanjaan dan membawanya masuk, lalu dia berkata, "Terimakasih ya Ma, sudah pulang lebih awal, jadi lepas maghrib kami bisa segera berangkat."
"Iya, Mama-kan punya dua putra, jadi kebahagiaanmu juga Mama pikirkan. Ayo sana! kalian bersiap sholat magrib dahulu."
__ADS_1
Selesai sholat, Okan, Oki dan Ayu berangkat ke rumah Sisil. Ayu sengaja tidak memberi kabar terlebih dahulu karena dia ingin memberi kejutan, sementara Oki hanya diam disepanjang perjalanan.
Entah mengapa kali ini Oki merasa gugup, tidak seperti biasanya yang selalu percaya diri saat menyatakan perasaan cinta kepada mantan-mantannya dulu.