
"Ternyata kita telat ya Bu Lexi? Ayu sudah start duluan, jujur kami senang. Karena saya sudah berniat maka ini tetap menjadi hak kamu untuk kebutuhan sekolah," ucap Pak Robi sambil menyodorkan sebuah amplop.
"Terimakasih Pak, Bu, bimbingan para guru sudah cukup bagi Ayu. Ayu tidak mau menyusahkan, insya Allah Ayu akan ikut jejak Pak Robi, Ayu ingin bisa memiliki penghasilan sendiri hingga bisa masuk universitas dan tidak menyusahkan ibu lagi."
"Semangat Yu, Ibu yakin kamu pasti berhasil. Ambillah pemberian Pak Robi, tidak baik menolak pemberian orang yang ikhlas melakukannya. Jika suatu saat kamu sukses dan memiliki rezeki berlebih, kamu bisa melakukan hal yang sama untuk orang lain."
"Baiklah Pak, Bu, terimakasih atas semuanya. Semoga rezeki Bapak dan Ibu semakin berlimpah."
"Aamiin..." ucap mereka berbarengan.
"Kalau begitu Ayu permisi ya Pak, Bu."
Kedua guru Ayu pun mengangguk, lalu Pak Robi berkata, "Jika butuh bantuan dan bimbingan jangan segan-segan ya Yu hubungi kami."
"Iya Pak, terimakasih."
Ayu segera meninggalkan ruangan guru, dia buru-buru berjalan keluar gerbang, karena Ayu yakin pasti Okan sudah menunggunya. Memang Ayu pernah bilang ke Okan, jangan menelephone ketika dirinya masih di lingkungan sekolah, guna menghindari fitnah dari teman-temannya.
Okan tersenyum melihat Ayu sudah keluar gerbang, lalu dia membukakan pintu mobil, di sana sudah sepi karena para murid sudah pulang sejak tadi.
"Kenapa lama keluar Yu? Aku lihat para murid dan teman kamu sudah pulang sejak tadi."
"Maaf ya Kak! kelamaan menunggu, tadi aku di panggil ke ruang guru."
"Memangnya ada apa? Pacar baik Kakak tidak berbuat salah kan?" tanya Okan sembari tersenyum.
"Enggak lho Kak!"
Kemudian Ayu menceritakan semuanya kepada Okan, lalu Okan berkata, "Rezeki gadis baik dan gadis sholehah. Bertambah lagi orang yang melihat kilauan berlianku."
"Ah... Kakak bisa saja."
"Benar kan yang aku bilang, perlahan semua pasti akan tahu, si buruk rupa yang mereka bilang adalah berlian yang tersembunyi," ucap Okan sembari mencolek hidung Ayu dan mulai menjalankan mobilnya."
"Oh ya Kak, sejak tadi malam aku penasaran lho! bagaimana dengan Den Oki?"
"Jangan panggil Aden, panggil saja kakak seperti kamu memanggilku Yu, dia pasti akan senang. Oki sekarang telah menganggapmu adik."
"Benarkah? alhamdulillaah, yang aku takutkan tidak terjadi."
"Aku sudah menceritakan semuanya Yu, tentang kita dan juga tentang keadaanmu, dia berharap masalahmu segera teratasi."
__ADS_1
"Hari minggu kita tetap pergi bersama kan Kak?"
"Insya Allah, jadi kita jalan. Oki kini lebih bersemangat untuk sembuh. Terimakasih Yu, berkat kamu, pemikiran Oki kembali terbuka. Kamu bukan gadis sial seperti yang banyak orang tuduhkan, tapi gadis pembawa keberuntungan, terutama untuk ku dan Oki."
"Terimakasih Kak, aku berharap bisa terus membawa manfaat baik bagi orang lain."
"Kita langsung ke rumah sakit ya? Aku sudah konfirmasi pihak laboratorium, untuk melakukan pemeriksaan siang ini juga, biar bisa cepat tahu hasilnya."
"Aku takut Kak, bagaimana jika tidak bisa di operasi?"
"Nggak apa-apa, walaupun nggak bisa, aku tetap sayang kok sama kamu. Pakai hijab kamu pasti terlihat lebih cantik dan orang lain tidak akan melihat kekuranganmu. Ayo semangat, harus tetap optimis menjalani masa depan."
Ayu tersenyum, lalu berkata, "Iya Kak."
"Nah ini baru Ayu, pacarku."
Mereka pun tiba di rumah sakit, Okan lalu menghubungi sahabatnya, dokter yang bertugas di laboratorium. Ternyata dokter tersebut telah menunggu kedatangan Okan dan Ayu.
Okan menggandeng tangan Ayu untuk memberi semangat, lalu keduanya menuju ruangan laboratorium. Dokter Ridwan tersenyum saat melihat mereka masuk.
Dokter setengah baya itu sudah bisa menebak, jika gadis dihadapannya ini adalah orang yang sangat berarti bagi Dokter Okan dari caranya mempercepat pemeriksaan tanpa menunggu antrian.
"Silahkan duduk Dok, inikah pasien kita?"
"Kenalkan Dok, ini Ayumi, sahabatku," ucap Okan.
"Sahabat istimewa," ucap Dokter Ridwan sambil tersenyum.
"Dokter bisa saja," timpal Okan.
"Saya kan juga pernah muda Dok."
Mereka tertawa, sedangkan Ayu hanya tersenyum malu.
"Sekarang kita mulai saja ya pemeriksaannya, sekalian saya mohon izin Dok untuk memegang pasien."
"Silahkan Dok," ucap Okan.
Dokter Ridwan memeriksa dahi dan juga perut Ayu, sejenak keningnya berkerut, dia belum pernah melihat kasus seperti ini. Kemudian dia mengambil sampel darah Ayu untuk di periksa.
Tahap demi tahap pemeriksaan pun dilakukan dan sore ini juga hasilnya bisa mereka peroleh. Sambil menunggu hasil, Okan mengajak Ayu untuk jalan-jalan menikmati pemandangan dari lantai atas rumah sakit.
__ADS_1
Ayu takut menunggu hasil pemeriksaan, tapi Okan meyakinkannya lagi, apapun hasilnya perasaannya tidak akan pernah berubah, dia akan tetap menyayangi Ayu apa adanya.
"Oh ya Yu, bagaimana dengan teman kamu Dilla, apa dia sudah masuk sekolah?"
"Belum Kak, tapi kata teman sebangkunya, luka di wajah Dilla sudah mengering dan mengelupas, tinggal samarkan bekas, mungkin lusa dia baru akan masuk kelas."
"Syukur deh jika begitu. Oh ya bagaimana perkembangan karya kamu, sini aku lihat!"
"Malu Kak, Masih banyak typo yang jelas."
"Nggak jadi masalah, namanya juga belajar, yang penting tetap semangat. Jangan pikirkan jumlah pembaca, pikirkan cara memperbaiki karya hingga suatu saat bisa menghasilkan karya terbaik. Jangan lupa rajin promosi."
"Promosi bagaimana Kak?" tanya Ayu.
Kemudian Okan melihat karya Ayu, lalu dia mengajarkan cara mempromosikan karyanya ke group-group novel online yang ada di Facebook, promo via Instagram dan juga via WhatsApp.
"Kuncinya, jangan malu! Bagaimana orang akan tahu karya kita jika kita tidak memperkenalkannya."
Karya ku, bagaimana menurut Kakak?"
"Sudah cukup bagus, hanya butuh tambahan di awal sesuatu ide yang greget yang akan membuat mereka tertarik membaca terus karya kita. Pesan Kakak, yang penting harus tetap semangat dan jangan lupa sekolah harus lebih di utamakan."
"Siap Kak, aku akan ingat dan jalankan pesan Kakak."
Saat mereka asyik mengobrol, ponsel Okan berdering ternyata dari Mamanya. Mama Okan memberitahu tentang kecelakaan yang menimpa Metha.
"Kamu kesini dong Kan, jenguk Metha, beri dia sedikit perhatian. Dia butuh perhatian dari kamu biar cepat sembuh. Lagi pula kamu juga sudah lama kan tidak kesini, para warga banyak yang menanyakan kamu lho, mereka ingin bertemu kamu," pinta sang Mama.
"Maaf Ma, Okan tidak bisa. Banyak pekerjaan yang masih harus Okan urus di sini."
"Kamu! selalu saja pekerjaan jadi alasan. Jadi kapan kamu akan memikirkan masa depanmu?"
"Mama tenang saja, Okan sudah pikirkan semuanya, jika ajuan bea siswa Okan di terima, siap-siap saja, Mama temani Okan melamar seorang gadis. Karena setelah pulang dari sana Okan pasti akan menikahinya."
"Apa! jadi kamu akan melamar Metha?" tanya Mama yang senang mendengar keputusan Okan.
"Maaf Ma, Okan tidak bisa mengabulkan harapan Mama dan Papa. Okan sudah memilih calon pasangan istri. Okan harap Mama dan Papa setuju, karena dia gadis yang sangat baik. Okan yakin, dia akan menjadi istri dan menantu yang baik bagi Papa dan Mama."
Mama Okan tidak bisa meneruskan pembicaraannya di telephone karena sekarang calon besan yang beliau harapkan sedang berdiri di hadapannya.
🌻Jangan lupa dukungannya ya sobat, insya Allah akan nambah up hari ini.
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️