
"Ayo kita ke pulang, acara juga sebentar lagi selesai. Kalian bawa mobil Kan?"
"Iya Om, mobil dari penginapan."
"Ya sudah, ayo...Om juga bawa mobil. Ayo Ma, biar mereka bisa istirahat di rumah."
Mereka pun meninggalkan pantai yang masih ramai pengunjung, Okan dan Ayu memilih ikut di mobil Sutan dan meminta sopir dari penginapan untuk membawa pulang mobil ke penginapan.
"Kalian berangkat jam berapa dari Medan Kan? Kok sudah sampai di sini pagi hari?"
"Berangkat kemaren Pagi Om dan baru datang kesini tadi malam, tapi Okan segan mau hubungi Om, jadi kami memilih memesan kamar di penginapan."
"Kalian seperti orang lain saja Kan, jika menelephone, bisa kami jemput, nggak perlu menginap di penginapan," ucap Sutan.
"Nggak apa-apa Om, supaya nggak merepotkan Om dan Tante."
"Oh ya, memangnya ada tugas ke daerah sini lagi ya Kan? atau memang sengaja jalan-jalan sebelum kamu berangkat ke luar negeri."
"Nggak Om, panjang ceritanya."
"Kita sudah sampai, ngobrolnya di dalam saja yuk, biar lebih nyaman," ajak Sutan.
"Ayo Nak Ayu kita turun," ajak Mama Metha.
"Iya Tante," jawab Ayu.
Sutan mempersilakan mereka masuk dan Mama Metha pun ke dapur untuk mengambil minuman dan juga cemilan.
"Memangnya ada urusan apa Kan hingga kalian mendadak kesini?"
"Sejak kemaren, kami keliling mencari alamat Bapak Armahedi Mahzar dan Ibu Sintia Tan Malaka, apa Om mengenal dan tahu alamat mereka? Katanya mereka pindah di daerah sini, tolong ya Om bantu kami menemukan mereka," pinta Okan.
Sutan pun tertawa mendengar permintaan Okan sedangkan Okan dan Ayu merasa bingung dengan reaksi Sutan.
__ADS_1
"Okan... Okan! Orang yang kalian cari ada di dekat kalian, ngapain kalian susah-susah keliling mencarinya, kenapa nggak dari kemaren telephone Om. Memangnya ada apa? sepertinya ada urusan penting?" tanya Sutan yang masih penasaran tapi belum mau membuka identitasnya sendiri.
Okan pun menceritakan semuanya termasuk asal-usul Ayu, Sutan sangat terkejut begitu pula dengan Mama Metha yang baru muncul dari dapur.
Saking terkejutnya, sampai nampan di tangannya pun jatuh, hingga semua isinya berhamburan kelantai dan pecah. Tubuh mama Metha luruh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Sutan yang melihat hal itu segera berlari menolong sang istri yang pingsan diantara pecahan kaca, dia sangat khawatir lalu membopongnya dan membawanya ke sofa.
Sementara Okan dan Ayu pun merasa terkejut, lalu Okan berusaha menyadarkannya, sembari mengobati luka di wajah dan tangan Mama Metha yang terkena serpihan kaca.
Perlahan beliau pun mulai membuka mata dan air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Beliau menatap Ayu, mengulurkan tangan, mengelus wajahnya tanpa mampu berbicara sepatah katapun
Tangis beliau pecah saat tangannya menyibakkan hijab yang menutup dahi Ayu, Mama Sintia melihat tanda lahir putrinya di sana.
Beliau duduk dan menarik Ayu ke dalam pelukannya sambil terus menangis, baru setelah tangisnya mulai reda, beliaupun berkata, "Kamu putriku...putri kecilku." ucapnya dan kembali menangis sembari mengeratkan pelukannya.
Sutan pun tidak kuasa menahan air matanya, lalu memeluk istri dan putrinya dan berkata, "Iya Ma... dia putri kita, putriku yang 17 tahun lalu kita serahkan kepada Bu Nita Aisyah."
Ayu hanya bisa menangis, dia baru pertama kali merasakan dekapan kasih sayang orang tua lengkap yang selama ini tidak pernah dia bayangkan.
"Iya Nak, kamu putri kami, kami yakin itu," ucap Sutan lagi.
"Apakah Bu Nita ada meninggalkan pesan atau membawakan sesuatu Nak?" tanya Mama Sintia.
Ayu segera mengeluarkan Liontin dan sepasang kaos kaki bayi, lalu memberikannya kepada Mama Sintia. Mama Sintia menerima benda tersebut dengan tangan gemetar, melihat benda tersebut dan tanda lahir sudah pasti Ayu adalah benar putri keluarga Sutan Raja.
Sutan kembali berkata, "Ayu putri kita Ma dan Okan menantu kita. Akhirnya kita berbesan juga dengan keluarga Chandra."
Okan pun ikut meneteskan air mata melihat Ayu sudah menemukan keluarganya. Ayu sekarang sangat bahagia ternyata dia memiliki Papa dan Mama yang baik. Hanya karena menghindari hukuman adat serta kekejaman sang Kakek membuat mereka harus terpisah sampai hampir 17 tahun.
"Oh ya Nak, "Bu Nita mana? kok beliau tidak ikut?" tanya Mama Sintia.
"Beliau tidak bisa meninggalkan pekerjaannya Ma, Ibu bekerja di rumah Kak Okan, dulu sebagai perawat Kak Oki dan sekarang sebagai juru masak," ucap Ayu.
__ADS_1
Jadi benar Pa, makanan yang kita makan saat di rumah Mbak Ina adalah masakan Bu Nita. Makanya kita merasa tidak asing dengan rasa dan penampilan makanan yang ada di sana.
"Oalah Pa, ternyata selama ini kita sudah dekat dengan putri kita, Mama juga merasakan perasaan aneh waktu pertama kali bertemu, seperti ada ikatan batin."
"Alhamdulillah, kebahagiaan kita semakin bertambah. Oh ya Ma, kita harus segera memberitahukan kabar baik ini kepada kedua putra kita, mengenai Metha nanti kita akan berbicara langsung dengannya."
"Iya Pa...sebentar, Mama akan lakukan panggilan video kepada kedua putra kita."
Panggilan pun tersambung, setelah menanyakan kabar masing-masing, Mama Sintia mulai menjelaskan kepada Andra dan Haris tentang Ayu, adik mereka yang telah kembali.
"Apa Ma! Benarkah adikku sudah di temukan?" tanya Andra.
'Serius kan Ma? Adik kecilku sudah pulang?"
Mama Sintia dan Sutan Raja pun mengangguk sembari mengarahkan layar ponsel ke arah Ayu.
Andra dan Haris sangat senang, mereka secepatnya ingin kembali ke tanah air dan memeluk adiknya.
"Jika kami mendapatkan tiket, malam ini juga, kami langsung berangkat pulang Pa, Ma. Tunggu kami ya Dek, besok kami sampai, kami sudah tidak sabar ingin memelukmu," ucap Andra.
"Iya Kak, Ayu akan tunggu Kalian sampai. Jangan lupa kakak ipar harus di bawa ya Kak dan juga keponakan kecilku."
"Beres Dek, tunggu saja kedatangan kami," ucap Andra.
Setelah panggilan terputus, kini Sutan dan Mama Sintia, ingin menjelaskan tentang siapa Metha kepada Ayu dan Okan.
"Nak... sebenarnya Metha bukan putri kami. Ibu Metha meninggal saat melahirkannya dan ayahnya bekerja sebagai tangan kanan Kakek. Saat Kakek menugaskan ayah Metha untuk urusan bisnis, terjadilah kecelakaan, mobil yang di kendarain papanya masuk ke dalam jurang, lalu terbakar."
Kemudian Mama Sintia melanjutkan ceritanya, "Saat kecelakaan itu terjadi Metha baru berusia 4 tahun dan tinggal bersama neneknya yang sudah sangat tua. Jadi Kakek yang melihat Mama saat itu stres, sering melamun karena memikirkanmu segera meminta hak asuh Metha. Kakek berjanji kepada Nenek Metha akan merawatnya dengan baik sebagaimana cucunya sendiri dan akan memberikan hak yang sama."
"Jadi...walau Metha bukan saudari perempuanmu, kami berharap kalian harus tetap sebagai saudara," ucap Sutan.
"Iya Pa, Ayu senang bisa menjadi adik Mbak Metha."
__ADS_1
Kini Sutan dan Mama Sintia merasa lega, mereka hanya berharap Metha bisa seperti Ayu, saling mengakui bahwa mereka bersaudara.