Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Tak Perlu Mengurusi Orang Lain


__ADS_3

Aku hanya tersenyum, menanggapi kegilaannya itu sambil membuka rantang dan aku terkejut saat melihat selebar kertas ucapan ulangtahun di atas daun pisang.


Belum habis rasa terkejutku Kirara menubruk tubuh mencium pipi kiri dan kananku serta akan menyambar bibirku kupalingkan wajahku sekuat tenaga ke kanan agar tidak tepat sasaran, membuatnya kembali tertawa.


ku ambil kertas itu dan ku masukkan dalam saku bajuku. 'Akan ku baca nanti setelah semua penghuni di sini terlelap,' pikirku


"Ayo kita makan!" sambil membuka daun penutup makanan aku terperanjat, masakan yang khusus dimasaknya sendiri dan hanya dia yang bisa memasaknya.


"Ayam Tuturaga, masakan khusus di pelajari dari temannya karena kami yaitu Papi dan aku menyukainya, saat kami berkunjung di sana, buliran air mata kembali menetes kilasan ingatan kebahagian yang telah usai terbayang.


"Hari ini ulang tahunmu, jangan menangis lagi, ini mewakili tangan Mamimu," kata Kirara sambil menyuapkan makanan kepadaku dengan tangannya. Rasa masakannya masih sama sekitar 19 tahun yang lalu saat usiaku enam tahun tetapi dengan rasa perasaan yang berbeda.

__ADS_1


"Ini mewakili Bibikmu." Kembali tangannya menyuapkan ke mulutku dan ini ... mewakili tangan calon suamimu," katanya lagi kutatap Kirara dengan tatapan tak percaya, dia mengangguk dan kubuka mulutku kembali menerima suapannya.


"Dan terakhir adalah dariku," katanya sekali lagi menyuapkan makanan padaku, hatiku basah, ku peluk sahabatku dengan erat tak memperdulikan kekurangannya.


Bahkan ketika penghuni lapas lainnya berkasak-kusuk tentang kami, aku tak peduli, yang ku tahu Kirara adalah wanita, persetan dengan sebutan bahwa dia lesbi, yang ku tahu dia sakit dan membutuhkan banyak obat serta doa.


*********


(Pov Angga)


"Apa Anda menyukai, Nona Nafizah, Tuan?" tanya lelaki di sampingku yang ku tahu bernama Gilang.

__ADS_1


"Apa kau berhak bertanya tentang itu padaku Tuan Gilang? Urus saja Tuanmu dan bertanggung jawablah untuk segera mencari bukti-bukti itu! Tak perlu mengurusi orang lain! Aku ingin alamat butik Tuanmu memesan pakaian dan siapa saja yang tahu soal itu serta alamat apartemennya, aku sangat kecewa padamu begitu lambat mengatasi kasus ini," kataku memberikan kartu nama sambil berlalu meninggalkannya di ruangan itu sendiri.


Aku menaiki mobil ku dan melaju meninggalkan lapas itu dengan hati sedih, rasanya ingin ku bawa pergi saja wanita malang itu. Namun semua sesal tiada berguna.


Aku memberhentikan mobilku di sebuah club malam yang tampak sepi di siang hari,


lalu keluar dan menghampiri dua orang kekar yang berdiri di depan pintu. "Aku Angga dosen Nafizah ingin bertemu dengan Nyoyamu untuk bicara tentang kasus putrinya.


"Baik, silakan masuk Tuan, tunggulah sebentar di sini!" kata pria itu lalu masuk kedalam tak seberapa lama kemudian kembali menemuiku. "Mari Tuan, saya antar keruangan, Nyonya!" ajaknya padaku


Aku mengikutinya hingga dia berhenti di ruangan yang cukup besar, lalu dia mengetuk pintu dan terdengar perintah untuk masuk ia pun membuka pintu.

__ADS_1


"Silakan masuk Tuan, Nyonya menunggu Anda," katanya setelah pintu terbuka dan aku masuk kedalam, ruangan bernuansa biru kelabu menggambar sosok muram orang yang ada di dalamnya. Lalu tatapan ku bersirobok sesosok wanita paru baya sekitar usia 40 tahunan yang masih sangat cantik suaranya tegas mempersilakanku duduk.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2