Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Oh My Good


__ADS_3

"Mas, Har aku mau ijin untuk menikah dengan pria lain, aku sudah menunggu hingga dua tahun. Sungguh aku masih sangat mencintaimu, tolong aku sadarlah, Mas! Papi memaksaku untuk memilih, Mas Angga karena dia lebih bisa melindungiku dari pada dirimu. Aku harus Bagaimana? Katakan padaku!" katanya pada Hardian.


Aku melihat pergerakan pada jemari tangannya, ku harap apa yang kulakukan ini membuat dia terbangun dari koma.


"Sudah, cukup Naf! Ayo kita pergi, kau sudah tidak ada harapan pada pria ini," kataku pada Nafizah.


"Tunggu, Mas Angga. aku belum selesai bicara, Mas Har tolong aku!" kata Nafizah saat ku tarik tangan tangannya keluar dari ruangan itu.


Aku memberi kode agar Gilang segera masuk dan kami meninggalkan rumah sakit itu.


Gilang masuk dalam ruangan, masih terdengar oleh kami teriakannya, " Tuan Hardian! Oh my God!"


Dalam perjalanan keluar dari rumah sakit, Nafizah tak berhenti bertanya padaku.


"Bang, apa dia Baik-baik saja? Apakah perlu kita kembali?" tanyanya padaku.


"Tidak, biar di urus oleh Gilang! Jika kita kembali usaha yang kita lakukan tadi akan sia-sia, Naf," kataku sambil terus berjalan dan memegang pergelangan tangannya, setelah ku sadar aku melepaskannya.


kami berjalan keluar dari rumah sakit, terus berjalan menuju mobil kami dan kami pun masuk ke dalam lalu segera kujalankan melaju membelah jalan raya.


Ku lihat Nafizah begitu gelisah, mungkin dia takut terjadi suatu hal terhadap calon suaminya.

__ADS_1


aku menghela nafas.


"Jangan khawatir kalau terjadi apa-apa pasti Gilang akan menghubungi kita percayalah!" kataku menenangkannya.


"Tadi itu, Mas Gilang berteriak kemudian kulihat ia lari keluar seperti memanggil dokter," katanya padaku


"Aku harus bagaimana untuk menenangkanmu! jika kita kembali ke sana kalau dia belum sadar jelas usaha kita akan sia-sia," kataku padanya


"Iya Bang maafkan Aku aku terlalu mengkhawatirkannya karena tadi, Mas Gilang sepertinya panik," katanya sambil memilin jilbabnya.


Aku terus melajukan mobilku menuju arah ke pantai, sesekali kulihat raut wajahnya masih sedikit cemas.


"Ayolah jangan tegang begitu!" kataku padanya.


"kita mau ke mana?" ini tanyanya lagi padaku.


kulihat jam tanganku masih jam 10.00 belum terlalu siang untuk pergi ke sebuah pantai Aku ingin Nafizah melepaskan semua apa yang dirasakannya, oleh sebab itu aku mengajaknya pergi ke pantai.


Setelah satu jam perjalanan, kami pun sampai sebuah pantai. Aku belum berusaha untuk menghubungi Gilang, kupikir tidak akan terjadi apa-apa karena jika terjadi sesuatu, pasti Gilang segera menghubungiku. Namun sampai sekarang pun Gilang belum menelponku dan belum mengirim pesan wa untukku.


Aku pun turun, kulihat dia masih enggan untuk turun dan aku berjalan memutar lalu membuka pintu mobil kemudian memaksanya keluar.

__ADS_1


"Ayolah, Naf, di sini kamu bisa berteriak sepuasmu, lepaskan semua penderitaamu! Teriaklah sekencang-kencangnya! Katakan pada ombak dan angin apa yang kau rasakan!"


Akhirnya dia turun dari mobilku lalu berjalan medahuluiku menuju ke arah pantai. Ku dengar ia mulai berteriak-teriak.


"Ahhhhh! Kenapa ini semua terjadi padaku? Apa aku tidak boleh tertawa? Apa aku boleh tersenyum? Baru saja aku ingin menikmati ke bahagia engkau renggut bersama Badai!" teriaknya sangat keras dan aku rekam dengan kamera ponselku


"Mas Hardian Bangunlah! Tolong bangunlah!" Aku tak sanggup menjalani ini sendiri. Sudah dua tahun aku menunggumu sadar, sampai berapa lama kau harus menguji cintaku padamu?" teriaknya kembali.


Aku membiarkannya sampai dia benar-benar puas, meluapkan segenap perasaannya pada deburan ombak, hingga akhirnya dia terduduk lemas di atas hamparan pasir putih.


Aku menghampirinya dan bertanya," Apa sudah puas?"


"Belum, Bang! Aku cemas apa yang terjadi tadi pada, mas Hardian?" tanyanya padaku kamera ponsel masih merekam semua apa yang dilakukannya hingga memutuskan untuk pergi dari pantai.


Rekaman itu pun aku kirimkan ke Gilang. Andai dia sadar, dia bisa melihat bagaimana kesedian dari calon istrinya itu,


kalaupun belum sadar maka bisa diperdengarkan di telinganya agar dia segera sadar.


Kami pun berjalan menuju ke arah mobil dan masuk ke dalamnya lalu kulajukan dengan kecepatan sedang meninggalkan pantai tersebut.


Aku terus berjalan mencari tempat makan, untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan

__ADS_1


"Bang, kita mau ke mana lagi?" tanyanya padaku.


"Kita mencari makan, Naf. Perutku lapar sekali," kataku sambil memegang perutku.


__ADS_2