Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Jangan Ragu


__ADS_3

(Pov Angga)


Aku sampai ke apartemenku hari ini begitu melelahkan buatku, Aku masuk ke kamarku lalu ke kamar mandi membersihkan tubuhku, kemudian menunaikan sholat ashar.


Aku berjalan menuju balkon apartemenku, menatap kota Jakarta dari ketinggihan. Aku kembali di kota ini untuk sebuah kasus.


Tak pernah terbayang olehku akan kembali di sini, karena dua tahun lalu yang lalu aku sudah memutuskan untuk menetap di Amerika. Aku sudah memutuskan untuk melupakannya, kini malah aku mendekat kembali dengannya.


'Besok, Naf. Kita mulai berjuang,' batinku.


Terdengar sayup-sayup suara adzan maghrib berkumandang aku pun masuk kedalam kamarku, untuk menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim.


Aku masih duduk di hamparan sajadahku hingga terdengar suara dentang jam dinding kamarku sebanyak delapan kali


ku sudahi keluh-kesahku pada penciptaku dan kulipat sajadahku, lalu ku taruh di atas nakas dan membaringkan tubuhku di atas ranjang, sambil membayangkan besok akan berkencan dengan gadis pujaanku untuk mengajaknya mengunjungi calon suaminya.


Aku tertawa, menertawakan diriku sendiri, kata kencan untuk besok sungguh mengelitikku, 'kencan dengan calon istri orang,' pikirku


Ku pejamkan mataku agar bisa terlelap untuk menyambut hari esok dengan otak yang jernih.


----------------

__ADS_1


Aku duduk kursi meja makan, dengan dua potong roti berisi keju di atas piring kecil dan secangkir kopi yang masih panas. Kusuapkan perlahan dalam mulutku sambil menunggu jam berjalan ke angka tujuh.


Jam 8.00, Nafizah diijinkan keluar penjara, begitu cepatnya ijin di setujui, setelah sarapanku dan kopiku habis aku bangun dari dudukku berjalan keluar Apartemen, langkah lebarku berjalan memasuki lift, pintu tertutup dan bergerak menuju kelantai dasar.


Aku sudah sampai dilantai dasar keluar dari lift lalu berjalan di area parkir dan masuk kedalam mobilku. Kujalankan dengan kecepatan sedang menuju lapas, 'Apa ini? Perasaan apa yang membuat hatiku berbunga-bunga, padahal saat ini aku hanyalah seorang pengantar, ibarat seorang kurir mengantarkan barang dengan aman sampai tujuan, ibarat sopir mengantar penumpang ke tujuannya dengan selamat, masalahnya aku harus mengantarkan ke hati pria lain yaitu calon suaminya,' batinku nelangsa.


Ku belokan mobilku ke sebuah butik yang sudah buka aku membeli gamis lengkap dengan hijab dan nikopnya, lalu kubayar kemudian aku pun keluar dan berjalan menuju mobilku.


Aku masuk kedalam mobil lalu menjalankannya menuju lapas tepat jam delapan aku pun sampai aku turun dari dalam mobilku dan berjalan masuk kedalam lapas lalu menunggu di ruang tunggu.


Tak lama kemudian aku melihat Nafizah berjalan ke arahku, aku memberikan paper bag padanya. "Gantilah dulu," kataku padanya. Dia pun menerimanya dan mengganti baju di toilet yang ada di ruang tunggu.


Dia keluar dengan balutan gamis yang ku belikan sangat cantik, dengan menenteng paper bag berisi baju tahanannya, ia berjalan menuju ke arahku, "Ayo!" ajaknya.


"Kenapa gak di pakai nikopnya? tanyaku sambil mengemudikan mobilku.


Dia tertawa. "Nanti di kira aku melarikan diri dari penjara dan Andalah yang membantu saya melarikan diri."


'Cantik sekali jika kau tertawa sayang calon istri orang,' gumamku dalam hati. Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ku utarakan rencanaku untuk bisa membuat Hardian tersadar.


"Baiklah, Pak, akan saya laksanakan usulan Anda," katanya padaku.

__ADS_1


"Kamu jangan panggil Pak ke saya, saya itu bukan dosen kamu lagi, panggil Abang, atau terserahlah yang penting jangan Pak, Om, Opa," kataku padanya


Dia kembali tertawa. "Baiklah Bang."


"Nah begitu lebih enak di dengar di telinga," jawabku sambil tersenyum.


Gilang pun sudah ku telpon untuk melancarkan rencanaku.


Akhirnya kami sampai di rumah sakit. kami keluar dari mobil lalu berjalan melewati berbagai ruangan hingga kami sampai ke ruangan Hardian.


Sampai di sana kami disambut oleh Gilang. "Nona, apa kabarnya?" tanya Gilang pada Nafizah.


"Seperti yang kau lihat, Mas Gilang," katanya sambil tersenyum pada Gilang.


"Kenapa kau, di sini?Apa kau tak bekerja?" tanyaku padanya dan dia pun tersenyum.


Aku menarik tangannya keluar dari ruangan. "Tolong tinggalkan kami! Kalau kau ingin tuanmu segera sadar, aku menelponmu agar tidak mengganggu, malah ke sini, tunggu di luar! Saat aku dan Nafizah sudah pergi kau baru boleh masuk kedalam ruangan," kataku padanya lalu meninggalkannya.


Gilang hanya bisa terdiam, melihatku marah. Aku masuk ke dalam ruangan menyusul Nafizah.


"Jangan ragu Naf, sudah ku katakan aku akan menikahimu segera, agar kau punya kekuatan menghadapi sidang kasusmu itu, apa yang kau harapkan dari lelaki ini, yang hanya bisa tertidur di sini, berapa lama kau akan menunggunya?" kataku mulai memancing Egonya.

__ADS_1


"Diam lah dulu, Mas Angga!" kata Nafizah padaku


__ADS_2