
(Pov Yusuf)
Aku menatap gadis yang duduk di depanku, ku beranikan untuk menyentuh jemari tangannya dan dia tidak menolak. Kembali kulanjutkan apa yang ingin ku sampaikan padanya.
"Aku merintis usaha ini saat aku masih SMU, mami Kay, selalu memberiku uang jajan yang lebih hingga aku bisa menabung. Lalu ketika akan pergi ke Amerika, aku serahkan pengelolahan ini pada temanku Rudi. Saat ini kami mempunyai empat cabang dan Rudi menyerahkan kembali padaku, Nona hanya ini yang ku punya tapi cukup untuk bisa membelikan mu tas-tas yang mahal, gaun yang nilainya fastastis, tapi apakah Anda menemui kepuasan setelah membelinya?" tanyaku padanya.
Dia menggeleng. Aku menatapnya, maukah Nona berjalan dengan saya yang penuh kesederhanaan ini," tanyaku sambil mengambil kotak perhiasan dengan cincin blue safir di dalamnya.
Aku mengambilnya dan menyematkan di jari manisnya. "Anda tidak menolak saat saya menyematkan cincin di jari manis Anda itu artinya Anda mau dengan dengan saya," kataku sambil tersenyum menatap wajahnya.
Dia tertawa dan memukul dada ku. "Kamu gak nunggu aku jawab, Mas Yusuf," katanya lalu menunduk.
"Panggilan itu saya anggap Anda menerima saya Nona."
"Kan kata Mas Yusuf saya gak punya pilihan sudah di serahkan sama Mas Yusuf, Saya pikir juga saya nyari yang bagaimana lagi? Ada orang yang mau menerima keburukan saya, banyak hal yang vsaya gak bisa, tapi Mas masih mau trima saya, bahkan belum-belum saya sudah seperti diratukan, makanan ini semua kesukaan saya bagaimana Mas bisa tahu?" katanya padaku.
"Ya, tentu berapa lama aku ikut ayah Anda dan beberapa kali beliau memintaku untuk mencari makanan kesukaan Anda," kataku padanya
"Sudah Nona, Ayo makan! Anda sudah lapar bukan? ajakku
Kami makan dengan tenang, dan beberapa kali bercanda, nona Naura sudah bisa mengatasi rasa kekakuannya padaku begitu pula aku.
__ADS_1
Setelah makan aku memesan makanan kesukaan tuan Erwan untuk ku bawa pulang.
Kami keluar dari restoranku menuju ke mobil lalu masuk kedalam dan memakaikan sabuk pengaman Nona Naura serta sabuk pengamanku kemudian melajukan dengan kecepatan sedang menuju ke apartement tuan Erwan.
Setelah sampai mobil pun berhenti di area parkir gedung, kamipun keluar berjalan beriringan melewati lobby dan masuk ke dalam lift lalu keluar kemudian berjalan menuju apartement serta menempelkan key card di pintu setelah terbuka mereka masuk, Naura langsung masuk ke dalam kamarnya.
Aku berjalan menuju dapur ku lihat tuang Erwan sedang memotong sayuran entah sedang masak apa aku juga tidak tahu.
"Tuan saya bawakan makanan kesukaan Anda, sebenarnya Anda ingin masak apa?" tanyaku padanya.
Dia tertawa. "Aku bikin mie kuah saja tadi, tapi karena kau bawa makanan maka tidak jadi," katanya sambil meninggal pekerjaannya dan berjalan kemeja makan lalu duduk di sana dan membuka kotak makanan serta mulai menikmatinya.
"Apa tuan mau kopi? Saya akan buatkan?" tanyaku pada tuan Erwan.
"Baik, Tuan," jawabku sambil merebus air dalam panci kecil.
"Dulu, kau memanggilku Papi, kenapa sekarang jadi berubah, Aku tidak mau kau panggil tuan, rubah sekarang juga!" perintahnya.
"Itu karena Anda tidak mengenaliku, Papi, dan baru tahu saat mami memberi tahu Anda," kataku sambil menyeduh dua cangkir kopi lalu membawanya ke meja makan.
"Iya kau benar, Ahhh, aku jadi merindukannya. Dia sudah begitu bahagia bersama Rudi," katanya.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, duduk di depannya.
"Bagaimana tadi apa berhasil? Apa dia menerimanya?" tanyanya padaku.
"Iya, trimakasih, Papi. Telah percaya pada saya untuk menjaga putrimu," kataku padanya
"Ku pikir hanya kau yang bisa menjaganya dan mendidiknya, Suf. Aku juga tidak hanya menitipkan putriku pada mu tapi juga menitipkan perusahaanku padamu, hanya kau anak laki-lakiku," katanya padaku
"Papi, masih kuat kenapa harus menyerahkan pada saya lagi pula Tuan besar tak akan tinggal diam," kataku padanya.
"Orang tua itu sudah menyerah, setelah tahu temannya, seorang mafia dan hidupku jadi berantakan." katanya padaku.
"Benarkah begitu, Tuan Surya memberikan kuasa penuh pada Papi?" tanyaku pada Papi.
"Ya, semua sudah diberikan padaku, mereka memilih tinggal di Jepang," katanya sambil meminum kopinya.
"Sebaiknya, Papi yang pegang saja, agar bisa melupakan mami Kay, Jika Papi sibuk pasti kerinduan pada mami pun hilang," kataku sambil terkekeh.
"Sialan, kau Yusuf!" makinya padaku.
Setelah Papi menyelesaikan makannya dan menghabiskan secangkir kopi hangatnya ia pun pergi ke kamar tidurnya.
__ADS_1
Aku pun pergi ke kamarku yang berdekatan dengan kamar Naura.
Ku rebahkan diriku di atas ranjang. Besok Nona Naura akan bersaksi di persidangan semoga hari itu menjadi lancar.