Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Mengamankan Bukti


__ADS_3

Pov Angga)


Aku menatap sendu wanita paruh baya itu, dan Mbak Indah yang duduk di sudut ruangan sambil terus bergumam kata-kata yang sama. Aku yakin, ada sesuatu yang diketahui oleh Mbak Indah, itu sebabnya dia keluar dari butik itu.


Aku meraih jemari tangan wanita paruh baya itu. "Nyonya, Anda harus percaya bahwa saya menolong Anda dan Putri Anda. Mbak Indah harus dibawa ke rumah sakit atau di rawat seorang dokter yang bisa menanganinya. Saya punya sahabat spikiater, kita bawa ke sana saja agar dia akan sembuh boleh?" tanyaku padanya, wanita itu pun mengangguk.


Aku pun mulai menelpon sahabatku itu. Tak berapa lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku pun segera keluar untuk menyambut temanku, Revan namanya.


"Ayo masuk! Dia ada di dalam," ajakku pada Revan.


Kami pun masuk ke dalam, lalu Revan pun melihat keadaan gadis itu, dan bicara kepadaku.


"Nyonya, Angga, kita tidak bisa membawanya dalam keadaan seperti itu, aku harus membiusnya apa diizinkan, Nyonya?" tanya Revan pada wanita paruh baya itu, dan wanita hanya bisa mengangguk dengan mata sembab.


"Rev, apa Nyonya ini bisa ikut denganmu untuk menjaga putrinya di sana? Mungkin bisa membantumu di sana," kataku pada temanku itu.


"Boleh," kata Revan pada ku.


Revan pun mulai membius Mbak Indah, lalu di bawa ke mobil Revan. "Nyonya, jangan cemaskan biayanya! Karena saya yang menanggung semuanya," kataku pada wanita paruh baya itu.


"Rev, tolong berikan yang terbaik untuk dia, dan kirimkan tagihannya ke email-ku. Jika sudah membaik tolong berikan laporan padaku," kataku pada Revan.


"Tentu aku akan memberikan yang terbaik untuk Nona ini, semoga saja dia segera pulih dari traumanya," katanya pada Angga.

__ADS_1


Mobil Revan pun pergi dari rumah Mbak Indah, dan aku pun melajukan mobilku keluar dari area itu serta berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen.


Saat sudah tiba di apartemen, aku berjalan. Saat sampai di ruanganku, aku melihat ada sebuah Fax dari temanku Joy. Fax tentang rahasia dari kelompok mafia yang dipimpin oleh nyonya Mirna. Juga ada berita masuk di emailku mengenai terbakarnya kapal dan juga markas mereka. Aku sangat terkejut karena begitu cepatnya mengeksekusi mereka.


Aku mengambil handphone mbak Indah yang sudah rusak, semoga saja masih bisa diperbaiki dan mengetahui ada apa di dalam handphone ini. Aku ingin sekali orang lain tidak mengetahui tentang isi dari handphone ini, agar rencanaku tidak terendus oleh orang lain atau orang yang benar-benar ternyata ingin mencelakai Nafizah.


Aku pun kembali menelpon, menceritakan apa yang menjadi penemuanku pada saat ini kepada Joy


tentang handphone Mbak Indah yang diberikan dalam keadaan rusak. Aku lalu memotretnya dan mengirimkannya, menanyakan apakah ini bisa diperbaiki dan diketahui isi di dalamnya.


Dia cuma memberikan informasi padaku, bahwa itu bisa diperbaiki dan lebih baik tidak di sini. Akhirnya aku pun memutuskan untuk memperbaiki di Amerika, saat aku pulang ke sana untuk mulai menyelidiki siapa Chira dan apa mempunyai keterlibatan penting terhadap kasus Nafizah.


Aku menyadarkan bahuku pada sandaran kursi di meja kerja. Rasanya begitu penat sampai saat ini belum kutemukan titik terang, bahkan semakin melebar dan melebar.


Ku ambil handphone-ku dari saku celana, lalu aku memesan makanan karena merasa perutku terasa lapar. Aku sudah tidak punya tenaga atau keinginan untuk memasak hari ini.


Begitu sangat lelahnya, aku berkali-kali menguap hingga putuskan untuk merebahkan tubuhku sebentar, dan akhirnya aku pun tertidur serta terbangun ketika pukul 16.00.


Aku pun pergi ke kamar mandi membersihkan diriku lalu melaksanakan salat ashar. Kemudian aku berjalan menuju balkon sekedar untuk menenangkan diriku.


Aku tidak tahu kenapa aku begitu berupaya untuk membantu Nafizah sementara aku tahu betul Nafizah tak mencintaiku, hanya menghormatiku saja.


Entahlah gadis itu saya sangat spesial buatku.

__ADS_1


Akhirnya terdengar adzan maghrib aku segera melaksanakan salat maghrib. Setelah selesai, aku ke dapur untuk membuat makan malam, tiba-tiba saja terdengar telepon dari Gilang yang menceritakan nasibnya hari ini.


Aku pun terkekeh kemudian menjawab,


"Ya tinggal lo kancingin saja, beres." Aku mendengar dia mengumpat. Aku bisa membayangkan bagaimana paniknya dia.


Aku melanjutkan kegiatanku membuat makan malam dengan membayangkan wajah Gilang pada saat ini


Setelah menyelesaikan masakan ku sambil berfikir, trik apa yang akan ku jalani nanti untuk bisa mengenal Chira.


Beberapa lama aku sibuk dengan segala pemikiranku terhadap kasus ini, hingga aku pun menguap lalu ku baringkan tubuhku di atas ranjang.


Karena hari ini begitu lelah otak dan tenaga sudah terkuras, aku pun terlelap dengan cepat.


Keesokan harinya Aku bertemu Gilang di


kantornya lalu kami pun berangkat bersama-bersama di rumah sakit di mana Hardian di rawat.


Kami menyusuri koridor rumah sakit


menuju kamar rawat Hardian. sambil berbincang-bincang tentang kemarin malam dan kami pun tertawa. "Bagaimana? Apa sekarang telah terkondisi apa belum?" tanyaku


"Tadi pagi masih gitu juga, tapi sekarang enggak lah," kata Gilang padaku

__ADS_1


"Kamu apain dia?" tanyaku padanya


BERSAMBUNG....


__ADS_2