
(Pov Yusuf)
Setelah sidang kedua selesai kami keluar dari ruang persidangan menuju mobil, kami pun masuk ke dalam Tuan Erwan beserta putrinya duduk di bangku tengah dan aku duduk di belakang kemudi, lalu aku menjalankan dengan kecepatan sedang menuju apartemen tuan Erwan.
setelah pengakuannya kemarin kepada ayahnya aku semakin kagum terhadap nona Naura kupikir dia akan mewarisi darah dari Nyonya Mirna. Namun, ternyata tidak. Darah tuan Erwan lebih kental dari Nyonya Mirna sehingga ada kebaikan yang mengubah diri tuan putri itu.
Selama satu jam perjalanan kami tempuh hingga sampai ke apartement.
aku memberhentikan mobil di area parkir. Sebelum mereka keluar aku meminta ijin kepada tuan Erwan untuk mengajak nona Naura di suatu tempat.
"Tuan bolehkah saya mengajak Nona Naura ke suatu tempat ada yang akan saya bicarakan dengannya?"pintaku pada tuan Erwan.
"Ok! Jagah dia dengan baik yaa!" pinta tuan Erwan.
"Baik, Tuan," jawabku padanya.
"Sayang, duduklah di depan, beri kesempatan Yusuf berbicara denganmu, Daddy jamin dia akan memperlakukan dirimu dengan yang sebaik-baiknya, buka hati dan pikiranmu, pertimbangkan masak-masak apa yang dikatakan Yusuf padamu," kata tuan Erwan pada putrinya sambil mengantar Naura duduk di kursi depan di sebelah Yusuf.
Aku tersenyum melihatnya wajahnya cemberut menandakan ke tidaksukaannya padaku. Sibuk mengurusi hati dan pikirannya membuat dia lupa memakai sabuk pengaman.
Aku pun membungkuk ke arahnya sambil menatap wajahnya yang cantik.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" tanyanya padaku dengan ketus.
"Aku terkekeh sambil memasangkan sabuk pengamannya. "Saya sedang memasang sabuk pengaman Anda Nona."
Lalu aku pun menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat.
"Kamu akan bawa saya kemana, awas yaa jangan macam-macam, kamu!" ancam Naura.
"Kalau saya mau macam-macam dengan Nona sudah dari kemarin-kemarin saya lakukan Nona, toh nasib Nona ada pada saya, Tuan Erwan sudah menyerahkan Anda pada saya," kataku padanya.
Dia menghelah napas, "Apa kelebihan kamu sehingga Daddy menyerahkan ku padamu?" tanyanya padaku
Dia memukul bahuku, "Kamu bicara begitu karena tidak ada Daddy, kalau ada dia pasti tidak berani bilang begitu pada saya," kata Naura.
"Siapa bilang ada beliau pun saya berani," kata Yusuf.
"Apa kamu yakin, aku mau menikah denganku?" tanyanya padaku.
"Tadi saya kan sudah bilang pada Anda bahwa Anda telah diserahkan kepada saya itu artinya perasaan Anda tidak penting yang penting adalah Saya mau atau tidak, masalah Anda tidak mau saya tidak ambil pusing toh, Anda pun tetap akan menikah dengan saya.
ya menghilang nafas kembali "Berarti perasaanku tidak penting begitu?" tanyanya padaku.
__ADS_1
"Penting hanya saja, menyesuaikan dengan perasaan saya seandainya Anda belum bisa Anda pun harus berusaha," kataku padanya.
"Kenapa kok jadi pemaksa," katanya padaku
"Apa seperti itu enak, tidak bukan? Tapi Anda sering melakukannya kan?" kataku padanya.
Kamu benar-benar menyebalkan, Andai kamu bukan Yusuf sudah aku lempar dari mobil ini," katanya ketus
"Berarti kalau saya Yusuf, Anda tidak melempar saya, begitu Nona?" tanyaku sambil terkekeh dan dia membuang muka menatap jalan, melalui jendela kaca mobil, aku menangkap senyuman tipis yang terpantul dari kaca jendela.
Aku fokus mengemudi sambil sekali-kali melirik padanya akhirnya aku pun sampai ku hentikan mobil di tepat di sebuah restoran yang menyajikan masakan seafood.
Aku melepaskan sabuk pengalamanku dan akan keluar dari mobil akan tetapi kulihat Naura kesulitan untuk melepas sabuk pengamannya aku segera membantunya untuk melepaskan sabuk pengamannya, wajahku dan wajahnya begitu sangat dekat bahkan hidung kami sudah saling menempel, kudengar debaran jantungnya berdetak kencang sesekali menghelah napas, aku sengaja berlama-lama ingin tahu perasaannya padaku, apa benar-benar tidak suka atau kah hanya gengsi belaka.
"Sudah, Nona. Jangan menahan nafas Nona, nanti kalau Anda pingsan, bisa-bisa saya harus memberikan nafas buatan untuk Anda," kataku sambil tertawa dan wanita itu kembali memukul bahuku.
Kami masuk dan duduk di tempat yang nyaman.
Pelayan datang menyiapkan makanan yang telah ku pesan, dia terkejut karena semua makanan itu adalah kesukaaanya.
"Nona dengarkan! Saya tidak punya orang tua dan tidak bisa di bandingkan dengan tuan Hardian, tapi saya punya restoran ini, untuk menafkahi Anda saya akan mampu jadi jangan ragu melangkah bersama saya." kataku padanya
__ADS_1