Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Tantangan Nafizah.


__ADS_3

Aku tertegun mendengar pengaturan Mbak Indah tentang kejadian yang terjadi pada waktu itu. Kudengar pembela berkata bahwa dia mempunyai bukti tersebut, dan diberikan kepadanya.


Mbak Indah pun diperbolehkan untuk duduk kembali. Persidangan hening untuk sementara waktu, karena hakim sedang meninjau bukti yang diberikan oleh pihak pengacara kami.


Setelah hakim melihat rekaman peristiwa tersebut, maka pengadilan memutuskan Nona Chira sebagai tersangka kedua dan menjadi tahanan rumah, dan tidak boleh pergi keluar Negeri.


Persidangan ditutup dan dilanjutkan esok harinya dengan menghadirkan saksi-saksi lainnya.


Aku pun harus kembali ke lapas.


Sebelum berangkat momi memelukku erat, begitupun papi, kemudian adikku Naura juga memelukku dan berkata, "Maaf Kakak, tolong maafkan aku." Aku mengurai pelukannya lalu menatapnya dan tersenyum kukecup keningnya sambil berucap," Terimakasih adikku, mau bersaksi untukku."


Umi pun memeluk dan berpesan, "Yang sabar jangan lupa berdoa agar Persidangan berjalan lancar.''


"Terimakasih Umi dan Abah telah datang ke persidangan memberikan kekuatan padaku.''


"Tentu aku harus datang, karena Hardian sudah menjadi anak ku sendiri. Jadi aku harus mendampingi calon istrinya? Gimana? Dia belum bisa melakukannya, Umi selalu berdoa agar Hardian segera sadar dari komanya," kata Umi padaku.


Dia mengurai pelukan dan mengusap air matanya.


Aku pun kembali bahwa ke sel tahanan, dengan seorang petugas lapas. Dengan menggunakan mobil tahanan kami meninggalkan kantor pengadilan menuju lapas.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju lapas. Sekitar satu jam perjalanan kami pun sampai di lapas, mobil pun berhenti di sana lalu aku turun dan masuk ke dalam.


Aku terus berjalan menuju selku,di sana aku kembali sambut oleh sahabatku Kirara.


Dia adalah gadis yang baik juga penuh dengan keceriaan. Aku berharap dia segera mendapatkan keadilan juga, karena dalam posisi membela dirinya dan adiknya hingga melukai Ayah tirinya.

__ADS_1


Aku juga berharap Kirara bisa kembali menjalani kodratnya sebagai seorang wanita, dan aku selalu berdoa agar Allah memberikan dia kesembuhan padanya. Hari ini aku begitu sangat lelah, dari seluruh persidangan banyak sekali perdebatan dan banyak sekali adu argumen antara pembela dengan menuntut umum. Persidangan hari ini cukup lumayan panjang, sampai aku harus kembali ke lapas sekitar jam dua siang, dan sampai lapas kembali jam tiga sore hari.


Aku sangat lelah sehingga ketika aku selesai menunaikan sholat ashar, aku pun tertidur dengan lelapnya dan masih menggunakan mukena. Hingga waktu maghrib datang, dan Kirara membangunkanku. Aku pun terjaga dari tidurku dan kembali mengambil air wudhu lalu bersiap untuk sholat Maghrib.


Setelah Sholat magrib, Kirara bertanya tentang persidangan yang berlangsung tadi pagi.


Aku pun menceritakan dengan panjang lebar sidang


lalu Kirana memelukku sambil berkata, "Aku akan sangat bahagia jika kau bisa bebas terlebih dahulu dariku. Aku berharap, sidang lancar dan kau terbebas dari tuduhan dan dipulihkan kembali namamu.''


"Semoga ya, Kirara, aku sangat berharap bahwa persidangan ini memberikan keadilan kepadaku dan juga pada pelaku yang sesungguhnya. Sungguh aku tadi terkejut ketika ternyata kenyataannya yang menusuk pisau adalah Nona Chira.''


Mungkin ia pun juga terkejut ketika ada saksi mata yang lainnya selain adikku dan ibu tiriku. Aku tidak mengira bahwasanya apa yang dilakukan ada yang merekamnya melalui kamera ponselnya.


Dulu wanita itulah yang menuntutku untuk di penjara dan menyatakan kesaksian bohong. Aju melihatnya masih dalam tatapan kesombongan menatapku, seolah berbicara bahwa aku pasti lepas dari kilatan hukum itu yang kutangkap dari tatapannya tadi.


Rasanya aku ingin sekali proses ini segera selesai, dan aku segera bebas dari penjara ini.


Aku menatap sahabatku yang sedang bercanda dengan tahanan lainnya, 'Nanti setelah kasusku selesai, aku akan meminta Bang Angga untuk membantumu, Ra,' pikir ku.


Beberapa penghuni sel ini bercerita tentang kehidupan keluarganya, tentang anaknya, ibunya ataukah suaminya. Setelah itu mereka terlihat tertawa, seolah seperti tidak menghalangi untuk sedikit bersenda gurau merasa sedikit bahagia dengan mengenang yang indah dari keluarganya yang berada di luar sel penjara.


Setelah puas bercanda dengan teman-temannya, dia pun menghampiriku dan duduk di sebelahku


"Jika kau sudah bebas, kau harus menjengukku Nafizah," pinta Kirara padaku.


"Tentu saja. Kau adalah temanku, aku pasti akan menjengukmu dan berusaha untuk membebaskanmu juga dari sini. Mendapatkan keadilan yang benar-benar adil untukmu, dan aku pikir kau tidaklah salah. Setiap orang punya hak untuk membela kehormatan adiknya, ataupun keluarganya. Jadi mulailah berbenah diri, dari sekarang untuk sholat lima waktu, kamu tidak pernah sholat kan?'' tanyaku padanya.

__ADS_1


"Iya, kau benar. Aku harus berubah, mulai sekarang aku akan melaksanakan sholat lima waktu yang masih bolong. Jangan tertawa ya," katanya padaku.


"Jika kau pergi dari sini, aku akan kehilangan kekasihku yang cantik ini. Lalu aku harus mencari gantinya di mana?" kata dia sambil terkekeh.


"Sudah kubilang padamu, carilah orang yang lebih gagah darimu! Jangan yang cantik! Tetapi yang kekar dengan tatapan yang tajam namun lembut," kataku terkekeh.


"Apa ada wanita seperti itu?" tanya Kirara sambil tertawa.


Aku memukul bahunya. "Bukan wanita, tapi pria. Coba kau lihat bentuk tubuhmu? Semuanya adalah wanita, bukan pria, Kirara," katakku sambil tertawa.


"Apa masih ada lelaki yang baik, yang bisa memberi perlindungan pada seorang wanita? Selama ini aku selalu melindungi diriku sendiri, dan selama ini yang ku temui adalah pria-pria seperti itu, yang menatap lapar para wanitanya," kata Kirara.


"Tentu ada pria yang baik, yang menghargai wanita yang bisa memberikan perlindungan, bukan malah menindasnya. Kau pernah dengar ceritaku tentang Bang Angga bukan?" tanyaku padanya.


"Iya, pernah, memangnya kenapa?" tanya Kirara balik.


Aku pun tertawa. "Dia itu orangnya baik, dia membantuku, tanpa mengharap imbalan apapun," kataku pada Kirara.


"Itu karena dia menyukaimu, Naf. Kalau denganku berbeda lagi, kan sama-sama maco," katanya terkekeh.


"Baiklah kita bertaruh, jika dia mau membantumu untuk mencari bukti kamu tidak bersalah dan bisa bebas dari penjara ini, kau harus memikatnya agar dia jatuh cinta padamu. Dan kamu jatuh cinta padanya, bagaimana? Apa kau sanggup?" tanyaku padanya.


"Lalu kalau ternyata dia tidak memperhatikanku bagaimana?" tanya Kirara padaku.


"Kalau itu terserah kau, kau boleh berubah boleh juga tidak, walau harapanku, kau akan berubah," kataku padanya.


"Baiklah aku terima tantanganmu," kata Kirara.

__ADS_1


Malam semakin larut rasa kantuk mulai menyerang dan aku tak henti-hentinya menguap aku pun memejamkan mataku untuk mengistirahatkan otak dan tubuhku.


__ADS_2