Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Pulang


__ADS_3

"Hari ini aku ingin di sini saja dulu, sambil menikmati makanan yang ada di sini dan tidak ada aktivitas ranjang, kamu harus benar-benar dalam keadaan fit," kataku padanya.


Dia tertawa. "Padahal aku ingin mengajakmu berenang di ranjang mengarungi gelora asmara."


"Hari ini aku harus tegas padamu, Mas. Karena aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi," kataku memeringatkanya.


"Baik, Nyoya! Saya akan patuh pada Anda," katanya sambil tertawa


"Tangan boleh nakal Nyonya?" candanya lagi


"Dari kemarin tanganmu sudah nakal dan tidak bisa ku peringatkan, kenapa baru ijin sekarang?" tanyaku sedikit jengkel dia pun tertawa menanggapiku.


Hari ini waktuku hanya untuk bermain di pantai ini, suamiku menyewa Jet sky. Mas Rudi sudah duduk di depan dan aku duduk di belakangnya dengan berpegangan pada perutnya yang ramping aku sedikit takut, awalnya aku tidak mau takut tiba-tiba dia pingsan.


Dia menyakinkanku kalau dia baik baik saja dia mengendarai jet sky-nya dengan kecepatan sedang memberiku kenyamanan dan bisa menikmati ke indahan pantai tersebut.


Kami berputar-putar mengelilingi pantai dengan jet sky dan melihat pura Batu Bolong secara dekat.

__ADS_1


Setelah itu kami pergi ke restoran yang menawarkan makanan khas seperti sate bulayak, ayam taliwang dan sayur ares.


Setelah itu kami kembali ke hotel untuk melaksanakan sholat dhuhur lalu beristirahat sebentar.


Sore harinya kami kembali ke pantai untuk menikmati sunset. Berjalan-jalan bergandengan tangan, kadang memeluk pinggangku, dia benar-benar memperlakukanku dengan manis.


dirasa sudah gelap kami pun pulang ke hotel, seperti rutinitas yang sama kami lakukan selain urusan ranjang yang satu ini aku benar-benar memberikan peringatan keras padanya.


Keesokan harinya kami pergi ke tempat-tempat wisata yang ada di Lombok dengan menggunakan mobil sewaan dan sore harinya kami pun kembali ke hotel.


Selama empat hari kami berada di lombok selama itu pula suami ku sedikit merajuk karena aku membatasi aktivitas ranjangnya walaupun akhirnya dia melanggarnya.


(Pov Rudi)


Aku terkejut ketika aku sudah berbaring di rumah sakit dengan slang infus yang di hubungkan dengan tangan kiriku lalu istriku yang cantik duduk di depanku dengan mengusap air matanya.


Dia mencercaku begitu banyak pertanyaan dan jawabanku cuma satu kelelahan, dari sorot matanya kutahu dia tak percaya dengan apa yang ku katakan.

__ADS_1


Saat dia ijin ke toilet dokter pun datang aku berbicara panjang lebar yang intinya jangan beri tahu penyakitku pada istriku.


Hingga dia kembali dari toilet aku masih berbicara dengan dokter tersebut, membuat kami menghentikan percakapan dan aku menyambut istri dengan seyuman hangat.


Istriku kembali curiga saat dokter mengubah keputusan dari pemeriksaan lengkap, menjadi diperbolehkan pulang, kalau infus sudah habis.


Kami pun pulang, semakin hari istriku membatasi aktivitas beratku, bahkan urusan ranjang pun sama, maksimal tiga ronde tidak boleh tambah, padahal aku selalu tergila-gila dengannya setiap kali berdekatan dengannya.


Alhasil aku mencuri kesempatan saat dia tengah tidur pulas dan istriku akhirnya tidak bisa menolakku.


Hari kelima kami di Lombok. Kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Kami pun pulang dengan jadwal penerbangan pagi dan sampai dua jam berikutnya.


Dua hari kepulanganku dari Lombok adalah jadwal kemoterapiku di Rumah Sakit kangker Husada. Aku meminta ijin untuk pergi urusan pekerjaan dengan tuan Yudit.


Istriku tidak mencegahku ia mengijinkanku pergi.


Aku pun pergi dengan transportasi udara dan berangkat pagi. Nampak sekilas seperti ada orang yang mengikutiku, postur tubuhnya seperti istriku tetapi dia mengenakan masker dan topi yang menutupi identitasnya.

__ADS_1


Aku pun sampai bandara Juanda lalu aku memesan taksi yang mengantarku ke Rumah Sakit kangker Husada Surabaya, dua jam perjalanan akhirnya sampai, aku pun keluar dari taksi dan masuk kedalam rumah sakit menemui dokter yang menanganiku.


__ADS_2