
Bagaimana pun tuan Erwan adalah ayah dari Nafizah, maka dia harus tahu apa yang akan ku lakukan, untuk kasus putrinya itu.
Tak lama kemudian aku pun sampai di restoran yang telah direservasi oleh tuan Erwan. Aku pun masuk kedalam restoran tersebut dan duduk didepannya.
"Tuan, saya minta tolong urus ijin keluar penjara untuk
Nafizah. Kami harus berusaha untuk membangunkan kesadaran diri Hardian dengan cara menyinggung egonya sebagai laki-laki. Tadi saya bilang bahwa saya akan menikahi calon istrinya dan ada pergerakan sedikit dari tubuhnya," kataku pada tuan Erwan
"Baiklah akan saya urus surat ijin keluar penjara, segera dan lusa kamu bisa jemput dia dari penjara," jelas tuan Erwan.
"Saya juga ingin Anda mengajukan PK (Peninjauan kembali) pada pengadilan untuk kasus Nafizah," kata Angga.
"Baik, anak muda akan kulakukan secepatnya. Terimakasih banyak telah membantu putriku," kata tuan Erwan.
"Jangan lupa sediakan pengacara yang terhebat! Lakukan sesuatu yang membuatnya bangga pada Anda," kataku.
"Ya, aku mengerti, akan ku lakukan dengan yang sebaik- baiknya," kata Erwan.
Aku pun berpamitan untuk kembali ke apartemenku, dan berjalan keluar dari Restoran serta masuk kedalam mobilnya lalu berjalan meninggalkan restoran itu.
Mobil berjalan menuju jalanan yang pernah di lewati dengan Nafizah. Setiap kali melihat tempat yang pernah kukunjungi bersama gadis itu aku tersenyum.
__ADS_1
Mobil berjalan menuju kampus di mana aku mengajar, dan bertemu dengan gadis itu. Masih Ingat disaat pertemuanku pertama kali dan gadis itu.
Nafizah bercakap-cakap dengan temannya disaat pelajaranku berlangsung, aku pun menegurnya, "Hai, gadis yang berhijab ungu itu, kemari!" perintahku dengan tegas.
Gadis itu pun menghampiriku. "Iya, Pak Maaf," katanya padaku
"Jelaskan yang baru saya jelaskan tadi!" perintahku padanya.
"Waduh, saya tidak tahu, Pak. Apa yang bapak jelaskan tadi," kataku padanya.
"Lalu apa yang bisa kamu jelaskan pada saya," tanyaku padanya.
"Yang sebelum itu karena saya masih mendengar," katanya padaku.
"Itu, Pak, berbicara dan tidak mendengarkan penjelasan Bapak," katanya sambil menunduk.
"Nanti setelah mata kuliah saya selesai, kamu segera ke ruangan saya!" kataku kepadanya.
"Baik, Pak, saya nanti akan ke sana," katanya padaku.
Aku pun mengakhiri mata kuliahku pada saat itu dan kembali ke ruanganku. Sambil memeriksa tugas mahasiswaku, aku menunggu gadis itu datang ke ruanganku.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk ruanganku lalu kusuruh masuk. Pintu pun terbuka, gadis itu muncul di balik pintu yang terbuka dan berjalan ke arahku. "Duduk!" Perintahku.
"Siapa namamu?" tanyaku kepadanya
"Nafizah, Pak," jawabnya padaku.
"Kerjakan ini, di sini!" perintahku padanya
"Sebanyak ini, Pak, dan di sini?" tanyanya padaku.
"Sebanyak itu pula kau berbicara, maka kerjakan!" perintahku padanya.
"Masa sih, Pak? Saya bicara sebanyak tugas yang Bapak berikan. Padahal saya baru ngomong dua kalimat, Bapak sudah tegur," katanya padaku
"Tidak mau kerjakan?" tanyaku padanya.
"Mau, Pak! Maaf boleh tanyakan?" pintanya padaku sambil terkekeh.
"Tidak boleh!" kataku tegas dan mimik lucu terlihat saat dia menanggapi kemarahan dan ketegasanku.
Aku menghela nafas. 'Sekarang kau lebih suka muram, Zah,' batinku.
__ADS_1
Aku kembali melajukan mobilku berbelok arah menuju arah apartementku, 'Moment itu tak akan terulang kembali,' pikirku.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang sedikit padat karena hari sudah sore.