
(Pov Naura)
Aku tertegun, menatap tubuh yang melayang kemudian jatuh kebawah, sebelum terdengar olehku dia berpesan padaku.
"Pergi Naura, katakan pada kakakmu jangan ke sini! Cepat pergi lah!"
Wanita itu menatapku tajam dan juga mamaku yang sudah berdiri di sampingku.
"Jangan ikut campur, kalau tak ingin mendekam di penjara karena aku tahu kartu kalian," katanya sambil berjalan meninggalkan kami.
Mamaku menyeretku dan memintaku untuk segera pergi.
"Ayo pergi mumpung kamera CCTV masih dimatikan, jangan melibatkan diri Naura keadaan tak akan menguntungkan kita,"
Aku dan mama pun pergi di tempat itu.
Flashback off
"Itulah yang terjadi Daddy, aku sangat takut, setiap malam aku selalu bermimpi buruk, selalu merasa bersalah pada, kak Nafi, Dadd," kata ku menatap Daddy yang terpaku. Namun tiba-tiba dia memelukku sangat erat.
"Apa kau tahu seperti apa wanita itu, sayang?" tanya Daddy padaku.
"Aku tahu, Dadd, jika dia datang kepersidangan atau jika ada fotonya aku akan bisa mengenalinya, Dadd," kataku padanya
"Dengarkan Daddy, sayang, bersaksilah di persidangan nanti, kau akan baik-baik saja, Daddy akan berjuang untukmu juga kakakmu, sekarang tidurlah kembali, akan ada hari yang cerah untuk esok hari.
Daddy mengantarku sampai keranjang ku, ku rebahkan ku tubuhku di atas ranjang, lalu daddy menyelimutiku lalu mencium keningku, kemudian dia keluar dari kamarku.
Setelah aku bercerita pada Daddy rasanya hatiku begitu legah, aku mulai memejamkan mataku.
(Pov Erwan)
Aku terkejut dengan penuturan putriku Naura, ternyata dia berada di pusaran yang sama dengan Nafizah putriku, aku tercenung menatap jendela kamarku masih terlihat gelap.
Ingin ku telpon Angga tetapi masih larut malam tak mungkin aku menelponnya selarut ini. Ku coba menenangkan diriku, aku mengambil air wudhu lalu menghamparkan sajadah mulai dengan melaksanakan sholat tahajud, kemudian kutuangkan segala keluh kesahku, setelah merasa lebih baik aku baringkan tubuhku di atas ranjang dan memejamkan mataku akhirnya aku terlelap dan terbangun ketika terdengar adzan subuh berkumandang.
Aku kembali menunaikan sholat subuh setelah itu aku pun menuju dapur, ia pun terkejut saat melihat Yusuf tengah membuat makanan,
"Kamu sedang apa, Suf?" tanyaku padanya.
Dia tertawa. "Tuan duduk saja di situ tunggu masakan saya matang," katanya tanpa menoleh padaku.
"Baik lah kalau begitu aku mau ke kamar Naura sebetar melihat apakah dia sudah bangun apa belum," pamitku pada Yusuf
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke kamar Naura. Sesampainya di sana aku mengetuk pintu kamarnya dan tak seberapa lama akhirnya terbuka.
"Sudah bangun dari tadi apa baru bangun?" tanyaku pada putriku.
Dia tersenyum. "Baru bangun, Dad."
"Kalau begitu sholat dulu Daddy tunggu di meja makan ya," kataku padanya
Aku pergi ke kamarku mengambil handphone dan mulai menekan nomor milik Angga, aku menunggu sesaat setelah itu akhirnya, tersambung juga.
"Assalamualaikum, Pak, apa ada suatu yang bisa saya bantu?" jawabnya padaku
"Wa'alaikumsalam, iya kamu bisa ke apartemen saya?" tanyaku padanya.
"Ok, saya akan segera ke sana Anda kirimkan saja alamatnya," katanya padaku
"Segera akan ku kirim, trimakasih Ang, Assalamualaikum," jawabku sambil mengucap salam aku pun menutup panggilan dan terdengar dia menjawabnya.
Aku pun segera mengirim alamatku dan sharlock kepadanya lalu aku pergi ke meja makan, terlihat Yusuf tengah menata masakannya di atas meja.
"Suf, kita menunggu seseorang dulu yaa," kataku padanya
__ADS_1
"Baik, Tuan, kalau boleh tahu siapa Anda tunggu?" tanya Yusuf padaku.
"Angga, aku menunggu Angga, Suf," kataku padanya
"Apa ada suatu yang berhubungan dengan kasus nona Nafizah?" tanyanya padaku.
"Iya, kau juga harus tahu karena Naura akan ku serahkan padamu untuk jadi istrimu dan mendidiknya dengan baik agar tidak punya kelakuan buruk seperti ibunya," kataku padanya.
Tak lama kemudian bel berbunyi dan Erwan pun bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
"Masuk Angga! Kita sekalian sarapan di meja makan," kataku sambil mengajak masuk ke dalam ruang tengah.
Di meja makan nampak sudah duduk Naura dan Yusuf kami pun bergabung dengan mereka.
Aku menatap sendu putriku lalu aku pun mulai membuka pembicaraan.
"Kita bicarakan dulu apa sarapan dulu?" tanyaku pada mereka.
"Menurut saya bicarakan dulu saja, kalau menunggu sarapan menunya akan terasa hambar karena rasa penasaran," kata Angga.
"Baiklah, Naura tolong ceritakan Nak, Angga ini yang membantu mengumpulkan bukti, kau tak terjadi hal yang buruk," kataku pada putriku
Naura yang dari tadi menunduk akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatapku seolah ragu-ragu menyampaikannya, aku mengenggam jemarinya dan mengangguk, menyakinkannya akan baik-baik saja, akhirnya dia setuju untuk menceritakan apa yang telah terjadi sebelum Nafizah datang.
Degan suara terbata-bata Naura mulai bercerita dari awal hingga akhir.
"Nona Anda harus menjadi saksi di persidangan nanti, di sini ada foto orang-orang yang saya curigai terlibat atau tahu tentang kasus kakak Anda, carilah dan beritahu saya yang mana," kata Angga pada Naura.
Naura mengambil handphone angga dan mulai menscrol kumpulan foto-foto dan berhenti di foto terakhir.
"Yang ini kak," kata Naura pada Angga. lalu Angga pun melihatnya.
"Aku salut padamu, Nona Naura kau memutuskan untuk bicara dengan ayahmu, dan ku harap kau mau bersaksi di pengadilan nanti keterangan ini sangatlah penting," kata Angga pada pada Naura.
"Iya, kak aku tidak mau di kejar-kejar rasa bersalah dan ketakutan," kata Naura putriku.
"Oke sekarang kita akan sarapan dulu ini semua yang masak adalah Yusuf, kau harus mencobanya sayang, kata Erwan pada putrinya sambil mengambilkan nasi beserta lauknya lalu di letakkan di depan meja putrinya itu.
Naura mulai memakan sarapannya, begitu pula aku dan yang lainnya.
"Bagaimana sayang apakah rasanya lezat?" tanyaku pada putri ku itu.
"Iya, Dad," jawabnya sambil melirik Yusuf yang dari tadi menatapku dengan tatapan sendu.
Nanti kau akan menikmati masakan Yusuf setiap hari di sepanjang hidupmu, karena Daddy ingin Yusuf lah yang akan menjagamu, dia tidak memiliki apa-apa selain hatinya yang tulus, harta bisa di cari dengan sangat mudah apalagi dia Yang di Cornell university New York dengan predikat cumlaude," kataku sambil
"Anda tahu saya lulusan sana, Tuan?" tanya Yusuf padaku.
"Tentu dari Kayla, Maafkan aku Yusuf, aku meninggalkan kalian semua. Harusnya akulah yang membiyayaimu sekolah bukan Kayla, tapi justru kau lah yang menjaga ku dan putriku," kata ku pada Yusuf
"Nyonya Kayla, memang mengutusku untuk mendampingi Anda, karena kawatir nyonya Mirna punya tujuan lain pada Anda. Maaf Nona, tapi memang seperti itu ibu Nona.''
"Tidak apa-apa," kata putriku pada Yusuf, tanpa membahas apa pun mengenai perjodohan yang ku bicarakan biar Yusuf sendiri nanti yang membahasnya.
"Terimakasih, sarapannya, Anda sangat beruntung memiliki Yusuf, bukan maksud ikut campur itu itu jujur saya katakan pada Anda, tapi masalah hati hanya Anda yang tahu," kata Angga sambil tertawa.
Tak lama kemudian dia berpamitan padaku juga dengan yang lainnya.
Aku pun mengantarkannya sampai keluar pintu rumah berharap semoga ada wanita yang baik yang akan bersanding dengannya, pria yang sangat baik mencintai putrinya tanpa berharap balasan apapun.
(Pov Angga)
Harusnya hari ini aku memiliki Janji dengan seseorang di rumah sakit, tetapi tidak apa-apa hari juga masih pagi.
Aku berjalan masuk kedalam lift yang membawaku ke lantai dasar, setelah sampai di lantai dasar aku pun keluar lalu berjalan melewati lobby menuju mobilku kemudian masuk dalam menjalankan kecepatan sedang.
__ADS_1
Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai ke sebuah rumah sakit yang merawat dia, aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawatannya.
Aku mengetuk pintunya. Terdengar suara dari dalam menyuruhku untuk masuk. AKu pun membuka pintu dan langkahkan kakiku menghampirinya. Dia sedang duduk di atas ranjang kusandarkan beberapa tumpukan bantal yang tinggi lihat ke arahku dan tersenyum.
"Berapa lama aku harus sembunyi di sini? Bahkan kau tidak mengabarkan keadaanku pada calon istriku," Kata lelaki itu padaku
Aku pun terkekeh, "Kau baru saja sembuh, tapi permintaanmu banyak sekali. Kau tahu bukan, persoalan ini begitu peliknya. Tunggu pihak kepolisian mencekalnya dan beberapa saksi untuk bersaksi jika biar pelaku utama berpikir bahwasanya dia dalam keadaan aman.''
polisi pun nanti akan menjemputnya sebagai saksi bukan sebagai terdakwa karena Nafizah belum diputuskan tidak bersalah itu sebabnya dia datang bukan sebagai terdakwa.
"Apa wanita itu berbicara padamu?" tanya lelaki itu padaku
"Siapa yang kau maksud yang di luar negeri ataukah yang di sini?" tanyaku padanya
"Yang di sini tentunya. Aku hanya ingin tahu apakah dia punya keinginan untuk berterus terang kepada orang tuanya, khususnya pada Daddy-nya?" katanya padaku.
"Dia sudah menceritakannya padaku dan bersedia menjadi saksi saat di pengadilan nanti sepertinya dia sudah berubah," kataku sambil duduk disofa.
"Aku jadi tidak percaya diri dengan kondisiku bayangkan saja saat ini kakiku sulit untuk digerakkan karena terlalu lama berbaring di ranjang," katanya padaku.
"Jika kau tidak percaya diri biar aku saja yang menggantikanmu untuk mengucapkan ijab kabulnya," kataku sambil terkekeh.
"Enak saja aku bisa mengucapkannya sendiri tanpa kau wakilkan, carilah wanita lain yang bisa ku ajak untuk mengucapkan ijab Kabul bukan calon istriku," katanya sambil menatapku datar.
aku tertawa. "Kau ini tadi mengeluh katanya rendah diri makanya itu aku wakilkan, lagi pula kenapa kamu menjadi rendah diri? Padahal tulangnya tidak apa-apa, kau hanya terlalu lama berada di ranjang itu saja terapi satu bulan kau sudah bisa berjalan kembali," kata Angga menatap pria yang menjadi rivalnya itu.
"Kau benar, aku terlalu mengeluh padahal seharusnya aku bersyukur bahwa pada saat itu aku tidak mati, andai itu telah di padaku, kau pasti akan sangat senang menggantikanku," katanya tersenyum sinis
"Tentu saja mana ada orang yang menantikan calon suaminya yang sudah mati bangkit lagi," kataku sambil tertawa.
"Kau emang sialan!" umpat padaku.
"Ngomong-ngomong, kau datang kemari tidak membawa sarapan, kau
benar-benar pelit," katanya mengumpatku kembali.
"Kau tidak memintanya kalau kau minta akan kubelikan, kupikir kau sudah mendapatkan jata dari rumah sakit jadi tidak perlu pembeli sarapan," kataku padanya.
"Aku bosan dengan makan rumah sakit hanya itu-itu saja," katanya padaku.
Kau ini baru dua hari saja, kau sudah bilang bosan, padahal selama ini tubuhmu itu hanya diisi dengan cairan saja, tak ada makanan yang masuk dari mulutmu, begitu bisa makan kau mau makan, ini dan itu igin kau makan, lihat dulu lambungmu bisa terima atau tidak," tegurku padanya.
"Iya juga kau benar aku terlalu menuruti keinginanku, Aku benar-benar merindukannya, sayang sekali kau tidak memperbolehkan aku bertemu dengannya," katanya lagi mulai mengeluh.
"Kau ini, ingin masalah ini cepat selesai atau tidak dan bisa menikahinya secepat mungkin, kalau tidak ingin, tidak apa-apa, pergi saja temui dia, aku tak akan melarangmu tapi ingat kalau semua yang kurencanakan ini runyam, tanggunglah sendiri," kataku penuh penekanan.
"Aku hanya nunggu saja apa tidak boleh?" tanyanya padaku
"Tidak boleh! Penderitaanku lebih parah darimu, aku selalu bisa bertemu dengannya dan menatapnya, tetapi tak pernah bisa kumiliki, itu lebih sakit daripada menanti sebuah kebahagiaan, yang sedikit lebih lama," kataku padanya.
"Maaf dan terimakasih. Maaf membuatmu tidak punya pilihan untuk tidak membantunya, serta terimakasih telah memutuskan untuk mau membantunya walau pada akhirnya hatimu tersiksa Maaf aku merepotkanmu," katanya padaku.
Aku tersenyum padanya. "Sudahlah aku tidak apa-apa aku sangat senang bisa membantumu dan juga membantunya, giatlah terapi barangkali saat waktunya tiba, kau sudah bisa berjalan kembali dan mungkin itu akan membuatnya lebih bahagia lagi," kataku padanya.
Tuan Angga bisakah kau membantuku sekali lagi, Aku ingin di hari kebebasannya nanti adalah hari di mana kami bisa menikah saat itu juga, maukah anda mempersiapkan pernikahan kami secara sederhana," katanya padaku
"Kau, 'kan punya asisten? Kau bisa menyuruhnya untuk mengatur pernikahanmu, kenapa harus aku?" protesku padanya
"Ayolah, Aku tidak sampai hati menyuruhnya dia. Dia sudah bersusah payah merawatku dan menjaga perusahaanku tetap stabil saat aku tidak bisa melakukannya," katanya padaku
"Kau sampai hati menyuruhku untuk menyiapkannya padahal kau tahu bagaimana hatiku pada dia," kataku padanya
"Ayolah katanya aku harus bersembunyi dan aku harus minta tolong dengan siapa? Jika aku lakukan sendiri rencanamu pun akan runyam lalu aku harus bagaimana?" katanya padaku.
Aku menghela nafas, betul juga apa yang dia katakan padaku, jika bukan aku yang membantunya terus siapa lagi, toh, aku yang memintanya untuk sembunyi, dan hari ini dia memintaku sesuatu yang sederhana saja kenapa aku tidak bisa memberinya, memang sulit jika berhubungan dengan perasaan.
__ADS_1
''Baiklah akan kulakukan tapi dengar ya, patuhi perintahku jangan memutuskan sendiri, aku tidak mau apa yang kulakukan sia-sia, aku juga ingin mengatakan bahwasanya, sidang akan digelar satu minggu lagi, jadi bersiaplah ketika kami sudah memanggilmu sebagai saksi, kau harus datang tidak ada alasan apapun," jelasku padanya.
''Tentu saja aku akan datang," katanya padaku