
(Pov Hardian)
Beberapa kali ku dengar tangisan Nafizah calon istriku memintaku bangun aku berusaha untuk membuka mataku, tetapi entah aku tidak bisa membuka mataku, mata dan tubuhku terasa berat.
Lalu ku dengar suara pria yang bernama Angga itu, begitu menyebalkan ia ingin menikahi calon istriku bagaimana bisa ku biarkan dia mengambil calon istriku seenaknya saja.
Hari ini pun sama aku mendengar kembali suara wanita pujaanku dan pria yang menyebalkan itu kembali mempengaruhi calon istriku.
Lalu kudengar mereka beradu mulut kemudian suara calon istriku meminta ijinku untuk menikah dengan pria lain, bagaimana bisa ku ijinkan, selama ini aku berusaha keras untuk bisa masuk kedalam hatinya, setelah itu dia pergi dariku.
Aku kembali mendengar pria itu memaksa calon istri untuk pergi dengannya. Aku tak kuat rasanya ingin kuhajar pria itu.
"Sudah, cukup Naf! Ayo kita pergi, kau sudah harapan pada pria ini."
"Tunggu, Mas Angga. aku belum selesai bicara, Mas Har tolong aku!"
Suara Nafizah begitu jelas ku dengar, aku tidak mau di pergi dariku, kupaksa mataku untuk terbuka aku berusaha untuk memanggil namanya
"Nafizah!"
"Nafizah!"
"Tuan Hardian! Oh my God!" ku dengar suara Gilang asistenku berteriak lalu memanggil dokter.
Akhirnya ku buka mataku ruangan terasa sepi tak lama kemudian terlihat olehku Gilang bersama dokter masuk ke ruanganku
"Tuan, Anda sudah sadar?" tanya Gilang
"Mana Nafizah?" tanyaku pada Gilang
"Alhamdulillah, Anda sudah sadar, tuan Angga berhasil membuat Anda sadar," katanya padaku.
"Apakah pria yang ingin menikahi Nafizah calon istriku itu?" tanyaku mulai tidak suka Gilang memuji pria itu.
"Tenanglah, Tuan. Nanti akan saya jelaskan biar dokter memeriksa Anda dulu," jelas Gilang padaku
Setelah itu, dokter memeriksa dengan teliti dan aku di anjurkan untuk terapi karena aku sudah dua tahu terbaring koma.
Aku terkejut mendengar penjelasan dokter bahwa aku koma selama dua tahun, 'selama itukah.' batinku
"Apakah benar aku telah koma selama itu, lalu bagaimana dengan Nafi?" tanyaku pada Gilang.
Akhirnya Gilang pun menjelaskan apa yang terjadi dengan saat itu.
"Apa Anda masih ingat kejadian sebelum Anda koma Tuan?" tanya Gilang padaku.
"Iya aku masih ingat, kenapa?"
"Nona Nafizah di dakwah telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Anda, dia difonis sepuluh tahun penjara, Anda tahu siapa yang menuntut Nona Nafi," jelas Gilang padaku.
"Siapa?" tanyaku pada Gilang.
"Nona Chira Tuan," jawab Gilang
"Justru Chira lah yang menikamku lalu mendorongku dari lantai dua, pada saat itu aku tengah mencegah Naura untuk bunuh diri tapi sayangnya hal itu digunakan untuk Chira melukai ku," kataku padanya.
"Betulkah tuan, kenapa dia setenang itu?" tanya Gilang pada tuannya.
"Tuan ada Wa dari tuan Angga," kata Gilang
"Buat apa di Wa segala?" tanyaku
"Anda jangan salah paham,Tuan. Itu tadi cuma sandiwara saja agar anda segera sadar, saya saja sampai di usir dari ruangan ini," katanya padaku sambil tertawa.
"Baiklah coba bacakan apa isinya?"kataku padanya
"Kalau tuanmu sudah sadar, tolong sembunyikan dulu kabar itu dari Nafi dan yang lainnya, kalau dia masih ingin menikah dengan Nafizah, jangan sampai rencana yang sudah ku buat jadi berantakan, itu pesannya tuan, dan dia mengirim video. Apa Anda ingin melihatnya,"
"Emm, Baiklah mana aku lihat," kataku pada Gilang.
Dia serahkan handphonenya padaku, aku pun melihat video itu, tak terasa air mataku membasahi sudut mataku, 'Naf, kau makin kurus, maaf telah membuat terseret pada arus cinta dua wanita yang hanya ingin memuaskan egonya,' gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Apa yang pria itu lakukan untuk calon istriku,"
Dialah yang yang berusaha mencari bukti kalau Nona Nafizah tidak bersalah, tuan," kata Gilang pada Hardian.
"Aku merasa tidak berguna, sebagai calon suaminya, seolah tidak bisa melakukan apa-apa, Lang," kataku padanya.
"Tuan, Anda kan memang koma, siapa yang mau? Anda juga tidak ingin dalam keadaan seperti itu," kata Gilang
"Sebaiknya Anda istirahat Tuan, saya mau kembali ke kantor," kata Gilang padaku
"Kau ini baru saja aku terjaga sudah kau suruh tidur lagi," kata ku padanya.
Gilang tertawa lalu meninggalkan ruangan perawatanku.
----------------
hari-hari berikutnya waktuku kulalui dengan terapi karena efek dari koma selama dua tahun membuat kakiku lemas tak bisa digunakan untuk berjalan.
Tiga hari kemudian Angga datang menjengukku dan berbicara panjang-lebar, menjelaskan apa yang akan dilakukan untuk menjebak Chira agar tidak melarikan di sebelum di jadikan tersangka karena pada saat menjemputnya agak sedikit susah, Angga kawatir kalau dia tahu aku sudah sadar dia akan kabur dengan alasan apa pun.
Aku pun memahaminya dan bersedia untuk bekerja sama mewujudkan rencananya itu.
Setelah kedatangannya ke rumah sakit menjengukku, dan memberitahuku Kapan sidang dimulai, aku pun giat untuk terapi.
Aku tidak mau menyerah, aku terus berlatih supaya ketika aku bertemu dengan Nafizah aku sudah bisa berjalan kembali.
Hari Berganti Hari tak terasa sudah dua minggu aku melakukan terapi pada kakiku sedikit demi sedikit aku bisa berjalan, kalau masih berjalan dengan pelan-pelan.
Hingga waktunya tiba, besok aku akan dipanggil sebagai saksi kunci, sebagai korban percobaan pembunuhan yang pasti tahu secara detail apa yang terjadi pada dirinya bukan, seperti aku juga tahu secara detail Apa yang terjadi pada waktu itu.
Pagi harinya Gilang sudah membawakan sarapan untukku ini adalah sarapan yang teristimewa karena selama 15 hari aku makan dengan bubur karena perutku sudah tidak terisi makanan selama dua tahun, sehingga belum terbiasa dengan makanan yang sedikit kasar.
Walaupun sarapan yang diberikan padaku, adalah makanan sederhana yang di buatkan Mira aku tetaplah senang. Nasi dengan kuah sup dan dadar telur yang di taruh di tempat yang terpisah.
Setelah selesai sarapan aku pun berangkat, Gilang menyarankan ku untuk menggunakan kursi roda terlebih dahulu karena kakiku baru saja pulih aku pun menurut, Gilang mendorong ku dengan kursi roda dan membawaku di area parkir.
Sesampainya di mobil aku pun berdiri dan berjalan sedikit membuka pintu lalu duduk di samping kemudi.
Satu jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di pengadilan. telah sampai Gilang pun keluar mendahuluiku untuk mengambil kursi roda yang ada di bagasi, setelah itu aku duduk dan Gilang mendorong masuk ke dalam ruang persidangan.
Di persidangan ke empat ini aku dimintai keterangan sebagai saksi kunci dari peristiwa yang terjadi padaku dua tahun yang lalu.
Kudengar pembela menyebut namaku sebagai saksi keempat. Aku bisa menangkap keterkejutan orang-orang yang berada di dalam ruang sidang itu, termasuk calon istriku, dia menoleh ke belakang mencari tahu apakah benar yang menjadi saksi saat ini adalah aku, calon suaminya yang dianggap masih berada dalam keadaan koma.
Aku yang berada di kursi roda didorong oleh Gilang maju ke depan di tempat saksi memberikan keterangan.
Ku lihat Nafizah tak melepaskan tatapannya padaku sambil menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
Aku pun mulai disumpah untuk mengatakan sesuatu yang benar di ruang persidangan itu.
Aku mulai di tanya oleh pembela. "Apakah sebelum peristiwa naas itu anda bertemu seorang?"
"Ya saya bertemu dengan Nona Chira sekitar jam 08.00. datang ke kantor untuk bertemu dengan saya, dan aku pun bercerita apa yang tejadi sebelum malam naas itu.
Flashback on
Aku sedang duduk di kursi depan meja kerjaku sibuk menandatangani file-file, suara ketukan terdengar dari luar.
"Masuk!'' perintahku.
Mira sekretarisku pun masuk ke dalam ruanganku. "tuan nona Chira ingin bertemu dengan Anda, Apa Anda mau menerimanya?" tanya Mira padaku.
"Suruh masuk saja," kataku pada Mira.
Mira pun keluar dan mengantar Chira masuk ke dalam setelah itu dia meninggalkan kami berdua.
Dengan kembaran luar biasa Chira menggebrak mejaku.
"Apa maksudmu memenjarakan ayahku dengan tuduhan mencelakai kedua orang tuamu? Apa kau tidak cukup membuatku menjual sahamku dengan cara licik?" tanya Chira padaku.
Aku pun menghelah nafas. "Jika ayahmu tidak bersalah buat apa aku memenjarakannya? dua tahun aku menyelidiki hal ini, mengapa mobil yang sebelumnya sudah diservis tiba-tiba saja rem dalam ke adaan blong di saat ayahku Sudah menandatangani sebuah persetujuan tentang penggabungan perusahaan, di mana di sana aku akan menikahimu dan
__ADS_1
sebagai tanda jadi memberikan saham 30% padamu." jawabku padanya.
Lalu aku meneruskan penjelasanku padanya.
"Setelah ku teliti bahwa perjanjian itu ada suatu manipulasi di sana, jika orang tuaku tahu maka pernikahan kita batal. Dalam perjanjian itu dinyatakan perusahaan Ayahmu dalam keadaan baik-baik saja tapi kenyataanya perusahaan itu mengalami suatu kerugian besar bahkan sudah dibilang pailit. Aku jelas-jelas tidak mau ditipu dan ada bukti-bukti juga bahwa ayahmu lah yang telah menyuruh seseorang untuk memotong kabel rem yang ada di mobilnya, kalau kau ingin tahu aku ada buktinya dan kau boleh melihatnya."
"Mengenai saham yang telah kau jual dan sekarang kau hanya memiliki 12% saja itu bukan salahku kau sendiri yang menjualnya," kata frontal.
"Aku menjualnya di Tuan Thomas, dengan perjanjian bahwa jika aku sudah mempunyai uang akan kubeli kembali saham itu, tapi kenapa sekarang saham itu, berada di tangan Gilang?" tanyanya padaku.
"Jual beli saham itu adalah hal yang lumrah, Nona. Jika tuan Thomas ingin menjualnya pada Gilang apa aku bisa mencegahnya, jelas tidak bukan? Apa Tuan Thomas tidak bicara padamu ketika akan menjual saham?" tanyaku padanya. Dia hanya diam saja.
Ku lempar amplop coklat yang berisi bukti kejahatan ayahnya di atas meja.
"Ambil lah aku masih punya salinannya," kataku padanya.
Dia marah sambil berkata, "Kau akan menerima akibat dari semua ini, Har!''
Dia keluar dari ruanganku dengan hati yang gusar.
Lalu kemudian Naura masuk ke ruanganku, aku menjelaskan panjang lebar kepadanya agar dia mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu hal yang gila. Namun, yang terjadi dia keluar dari ruanganku dengan kemarahan yang sangat luar biasa.
Siang harinya aku bertemu dengan calon istriku, aku memintanya datang di apartemen jam delapan malam. Karena ingin memberikan sebuah kejutan padanya, dan aku memintanya untuk memakai gaun yang sudah aku pesan dari butik Nyonya Soraya.
Aku kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku hingga sore hari, setelah itu aku pun pulang ke apartemen.
Di saat aku sudah selesai melaksanakan sholat magrib, aku mendapatkan telepon dari Mbak Indah, yang beritahukan kecurangan nyoya Soraya. Hingga aku minta dia untuk datang ke apartemenku, sambil membawa baju pengantin yang akan digunakan esok paginya.
Flashback off
Aku pun menjelaskan semua kejadian hari itu seperti yang sudah dijelaskan oleh Mbak Indah dan juga Naura, calon adik iparku itu.
Dari penjelasan yang kuberikan jaksa penuntut pun tidak memberi pertanyaan apapun.
Lalu aku pun di minta kembali duduk di tempat di mana warga keluarga Nafizah berada.
Aku meminta Gilang mengarahkan kursi rodaku menuju tempat duduk Nafizah.
"Maaf telah membuat menunggu lama," kataku padanya.
Dia mengangguk sambil menyanyikan air matanya kembali.
"Tidak apa-apa, aku senang mas Har sudah sadar dari koma," katanya padaku.
Ingin rasanya aku memeluknya dan memberikan rasa nyaman, menggantikan hari-hari yang begitu menyakitkan buatnya. Namun, sayangnya kami belum sah menjadi suami istri, aku tak dapat memeluknya, yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya dengan dalam.
Tidak ada perdebatan dalam ruang sidang hanya ada makian dari Chira padaku
Hakim masih meninjau semua bukti dan keterangan saksi sehingga sidang pun ditunda sampai esok hari di mana keputusan final akan di bacakan.
Aku menghampiri Nyonya Kayla menyampaikan ucapan maaf ku karena terlalu lama menunggu keadilan datang pada Nafizah.
"Mami, maafkan saya baru bisa datang," kataku sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Har, kesaksian yang paling kuat di sini, setidaknya putriku mendapatkan keadilan," katanya sambil menghapus air matanya.
"Selamat untuk mas Rudi yaa, bisa mendampingi mami saat ini," ucap ku padanya, dan mas Rudi hanya bisa tersenyum.
Aku datangi Papi dan Dia pun memelukku lalu berkata, "Terima kasih telah berusaha untuk bangun dari komamu serta telah menyelamatkan putriku dari tuduhan palsu."
Kemudian Gilang membawaku menemui Angga aku pun mengucapkan banyak terima kasih padanya.
"Terimakasih banyak, telah membantu Nafizah juga aku," ucapku padanya
"Sama-sama bro, jangan kau habiskan tenagamu hari ini. Karena besok kau lebih membutuhkan tenaga lebih banyak lagi," katanya pada sambil tertawa.
Aku tersenyum saja, dan aku tahu arah dari apa yang dibicarakannya.
Nafizah pun harus kembali ke lapas hatiku sedih saat melihatnya masuk ke dalam mobil tahanan, dia tersenyum ketika menoleh pada ku dan mobil yang terbuka itu pun pergi meninggalkan pengadilan dan juga hatiku.
Semua meninggalkan tempat ini begitu juga aku Gilang mendorong kursi rodaku hingga ke mobil.
__ADS_1
Aku masuk kedalam duduk di sebelah kursi kemudi, setelah Gilang menyimpan kursi roda di bagasi, ia pun masuk dan duduk di belakang kemudi, tak lama kemudian, mobil berjalan menyusuri jalanan menuju kekediaman kami.