Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Terimakasih


__ADS_3

(Pov Mirna)


Aku tak mengira bahwa aku masih hidup dan ditolong oleh seseorang yang pernah membeliku sebagai pemuas nafsunya.


Aku menatap punggung lelaki yang sibuk membuat makanan, setelah itu di taruh di sebuah mangkuk lalu melangkah ke arahku.


Dia meletakan mangkuk di atas nakas, lalu menata bantal kemudian membantu duduk dengan bersandarkan pada bantal yang ditata tinggi.


Peter duduk di depanku lalu menyuapiku. Aku sudah berada di sini selama satu minggu, selama itu pula dia merawatku, menyekaku, dan mengantikan bajuku.


Selama satu minggu aku berada di rumah yang sederhana ini. Aku tidak tahu rumah siapa ini tapi yang jelas di rumah ini ada Tuan Peter.


"Tuan kalau boleh saya bertanya, apa ini rumah Anda?" tanyaku padanya.


"Bukan, ini adalah rumah dari asisten rumah tanggaku. Kebetulan rumahnya dekat dengan tempat kamu jatuh. Maaf sejak terakhir kita bertemu aku tak bisa membiarkanmu tanpa pengawasanku, itu sebabnya saya selalu tahu, kemana kau berada," kata Peter padaku.


"Boleh saya tahu berapa lama kita tinggal," tanyaku kepadanya.


''Menunggu kau benar-benar sehat, karena kita tidak bisa pergi dari sini dengan tubuhmu yang terluka itu. Jika memaksa, maka akan ada banyak orang yang curiga dan kau tahu apa resikonya? John pasti tahu kalau yang meninggal itu bukan kamu tapi orang lain. Setelah itu kau tidak bisa lepas darinya, jadi bersabarlah sampai kau benar-benar sembuh dari lukamu.''


"Ya, aku mengerti terimakasih," kataku padanya.


"Kenapa? Apakah kamu tidak nyaman tinggal di rumah ini karena rumah ini tidak bagus?" katanya padaku.


tidak bukan begitu hanya saja aku merasa aneh kau berprofesi sebagai dokter bedah kulit tentu uangmu sangat banyak sampai kau bisa bersamaku malam itu, John tidak mungkin menghargaiku dengan harga yang murah bukan?


"Ya kau benar hargamu sangat mahal pada waktu itu," katanya terkekeh.


"Kalau aku tidak akan mempermasalahkan Apakah rumah bagus ataukah jelek yang penting aku bertemu orang baik," kataku padanya

__ADS_1


"Aku bukan orang baik seperti yang kau kira aku menolongmu karena ada maksud agar tetap berada di sisiku," katanya padaku.


"Aku juga bukan orang baik, Peter. Mungkin banyak yang ingin kematianku atau kemalanganku, karena aku pun pernah di posisi john yang tak mengenal belas kasihan, tapi sebelum aku mati, Pet. Aku ingin menolong kedua putriku," kataku pada Peter.


"Kau punya putri?" tanya Peter


"Hemm, putriku dan putri sambung dari mantan suamiku," kataku sambil menatap sudut ruangan dengan tatapan kosong.


"Kau sudah bercerai dengan suamimu?" tanyanya padaku


"Ya, aku sudah bercerai dengannya sebelum aku terdampar di sini," kataku padanya.


"Syukurlah setidaknya aku tidak menikahi istri orang," katanya padaku sambil tertawa.


"Kenapa dengan kedua putrimu?" tanya Peter padaku.


"Mereka terjebak dalam satu masalah yang sama, Pet. Jika yang satu keluar maka yang satunya akan masuk dalam kondisi yang sama, kecuali kalau dia sadar dari komanya, Pet," kataku pada Peter.


"Pet, apa nanti aku bisa bangun dan berjalan? Kenapa tubuhku sangat sulit di gerakan?" katanya padanya


"Bisa, saat ini tulang punggungmu, sedikit retak tapi aku memahami beberapa pengobatan dari suku pedalaman, dengan ramuan yang kubalurkan di punggungmu, kau akan segera sembuh, asal jangan kau paksakan dirimu bergerak agar apa yang ku lakukan tidak sia-sia saja," jawabnya padaku


"Pet, terimakasih," kataku padanya.


"Ya, sama-sama," katanya padaku.


"Pet, apakah aku boleh tahu? Apa sebelumnya kau sudah pernah menikah? Seperti kutahu di sini kalian biasa melakukan itu tanpa pernikahan," tanyaku padanya.


"Ya, kau benar. Tapi aku pernah menikah, istriku meninggal bersama dengan anakku yang belum sempat di lahirkan," katanya padaku.

__ADS_1


"Maaf, telah mengingatkanmu pada kesedihanmu," kataku.


"Tidak apa-apa, itu terjadi lima tahun yang lalu," katanya padaku


"Pet, apa kau benar ingin menikahiku? Tidak hanya memberikan harapan semu," tanyaku padanya.


"Kenapa apa kau tak percaya?" tanyanya padaku


"Tidak, hanya saja aku beragama Islam, jika kau ingin menikahiku artinya kau harus mempunyai kenyakinan yang sama," kataku sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Apa jika aku tak menikahimu, kau mau melakukan itu dengan ku, free without married," katanya padaku sambil mencium bibirku lembut, lalu menatapku dan tertawa.


"Tidak, dan Jangan! Aku ingin menjadi Baik, Pet," kataku sambil tersenyum.


"Kau ingin aku memeluk agama yang sama dengan dirimu?" tanyanya padaku dan aku mengangguk.


"Baiklah, demi memilikimu selamanya," katanya padaku


"Terimakasih, telah menghargaiku," ucapku padanya.


"Sama-sama, ternyata kau cerewet sekali yaa, sayang kau masih sakit, kalau sudah sembuh habis bibirmu oleh ku," katanya padaku


"Bagaimana kau sampai di sini? Bukankah untuk sampai di sini butuh 24 jam?" tanya Peter padaku.


"Entahlah, waktu itu aku sedang menangis di gudang, tiba-tiba saja sudah di pantai terbaring di pasir putih, lalu ada gulungan kertas yang di ikat di pergelangan tanganku berbunyi (Tuan John akan menolong Anda pergilah di motel John Velentine, nyonya). Akhirnya aku sampai di sini," kataku padanya


Dia tertawa. "Kau dijebak Nyonya," katanya


"Ya, aku tahu jangan menertawakan kebodohanku," kataku sambil menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kebodohan yang mempertemukanmu dengan diriku," katanya padaku


__ADS_2