Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Bebas


__ADS_3

Pov Hardian)


Hari ada hari kelima sidang kasus Nafizah digelar. Aku duduk di tempat duduk paling depan tepatnya di belakang kursi Nafizah yang duduk di kursi terdakwa.


Semua Anggota keluarga sudah datang dan menempati tempat duduk mereka, hari ini adalah sidang putusan pengadilan di mana akan mendengarkan keputusan dari majelis hakim.


Majelis hakim masuk ke dalam ruang sidang, semua orang berdiri memberikan penghormatan. Setelah itu kami di minta duduk kembali.


Kata pembuka mulai di sampaikan, dan kami menyimak dengan seksama. Hakim menjeda sebetar lalu bertanya pada Nafizah, "Apa sudah siap?"


"Siap yang mulia," jawab Nafizah


Hakim ketua mulai membacakan dakwaan dan keputusan hakim sebelumnya, serta bukti-bukti yang di perlihatkan di pengadilan.


"Bedasarkan bukti yang ada, maka dengan ini pengadilan memutuskan terdakwa Nafizah Kaila Tama, dinyatakan tidak bersalah atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Hardian Shahila.''


Ku pejamkan mata dan mengucap takbir, tanda syukur pada Robb-ku. Kulihat Nafizah luruh dan sujud syukur di lantai "Allahu Akbar!" teriaknya pelan dan masih bisa kudengar.


"Nafizah Kaila Tama tidak terbukti bersalah melakukan percobaan pembunuhan berencana, melainkan korban dari serangkaian kejahatan tersebut. Oleh karena itu, pengadilan menyatakan dia tidak bersalah dan di bebaskan dari tututan hukum 10 tahun penjara yang telah di jalani selama dua tahun, serta membersihkan nama baiknya. Untuk hal ini pengadilan meminta maaf atas kelalaian yang sebelumnya. Kemudian memutuskan terdakwa kedua, yaitu Chira Mutiara, terbukti bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan terhadap Hardian Shahila. Maka pengadilan memutuskan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara, mengingat terdakwa sempat menghilangkan dan manipulasi barang bukti kejahatannya."


Hakim ketua mengetuk palu tanda putusan final, kami kembali teriakan, "Allahu Akbar!" sebagai tanda syukur yang tak terhingga.


"Mohon tenang! Silakan Kembali ke tempat masing-masing," ujar hakim.


Kami semua kembali ke tempat duduk dan mendengarkan pemaparan terakhir bahwa siapa yang tidak puas boleh mengajukan banding.


Ku dengar Chira berteriak-teriak tidak terima dengan putusan dan langsung di amankan dan di bawah ke mobil tahanan.


"Sidang ditutup!" Hakim mengetuk palu tiga kali.


Papi menghampiri Nafizah, memeluk erat, berganti dengan mami, dan Umi lalu Naura. Melihatnya membuatku bahagia aku menghampiri Angga.


"Bagaimana persiapannya?" tanyaku padanya.


"Sudah, di rumah Mami Kay," katanya padaku


"Di rumah Mami Kay yang mana nih?" tanyaku


"Nanti ikutin aku saja," kata Angga padaku.


Semua sudah meninggalkan ruang persidangan, Nafizah ikut mobil mami Kay sedangkan umi dan Abah ikut mobil ku.


Semua bertujuan sama, yaitu di rumah mami Kay yang baru. Disana sudah terpasang tenda dan kursi yang tertata rapi terlihat Bik Sumi dan Tini menyambut Nafizah.


Nafizah terlihat agak bingung kenapa di rumah mamanya ada tenda. Tidak diberi kesempatan bertanya, Nafizah langsung ditarik masuk di salah satu kamar di mana busana pengantin dan MUA sudah ada di sana.


Mbak Indah menemu8i tuan Hardian, memintanya berganti pakaian dengan busana yang telah disiapkannya. Dengan meminjam kamar mami Hardian berganti pakaian Setelah itu memasuki ruang tamu yang sudah terpasang dengan karpet serta ada meja kecil di sana.


Semuanya sudah siap, penghulu dan saksi. Aku sudah duduk di depan Papi Erwan.


"Sudah siap Nak Hardian?" tanya Papi Erwan padaku.


"Sudah Pi," jawabku padanya.

__ADS_1


Papi Erwan menjabat tanganku lalu mengucapkan hijab.


"Aku nikahkan engkau Hardian Shahila bin Anwar Shahila dengan Nafizah Kaila Tama binti Erwan Tama dengan maskawin uang tunai satu milyar dibayar tunai." Lalu papi Erwan menghentakkan tangannya.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nafizah Kaila Tama binti Erwan Tama dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai." Kulafalkan dengan satu tarikan nafas dan terdengar kata SAH dari seluruh tamu yang hadir.


Mami Kayla membawa Nafizah berjalan ke arahku, sungguh cantik luar biasa istriku dengan busana pengantin warna putih yang terdapat payet permata di bagian perutnya dan hijab melati menambah kecantikannya.


Duduk di sebelahku, kemudian aku mengulurkan tanganku dan Nafizah mencium punggung tanganku. Setelah itu menaruh tanganku di atas kepalanya serta mengucapkan doa kebaikan, lantas ku kecup keningnya lalu memeluknya erat. Membuat semua yang hadir tertawa atas ulahku, aku lakukan itu bukan tanpa alasan, pelukan ini adalah pelukan yang tertunda pada saat Nafizah mendapatkan keputusan bebas di pengadilan tadi.


Kami pun menandatangani surat nikah kami, saat kami telah selesai menandatangani surat nikah, terdengar suara teriakan momy Kay memanggil nama.


"Mas Rudi!" Kami pun menoleh dan kami melihat om Rudi sudah tergeletak pingsan. Papi dan Gilang membawa tubuh om Rudi ke mobil papi. Lalu Yusuf masuk dan duduk di belakang kemudi. Mami duduk di bangku tengah dengan meletakan kepala suaminya di pangkuannya, sedangkan Naura duduk di bangku paling belakang kemudian berjalan meninggalkan rumah menuju rumah sakit.


Aku dan Nafizah duduk di bangku tengah sementara Gilang mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang, di sebelahnya duduk Mira sekretarisku. Aku pun baru tahu kalau mereka punya hubungan Istimewa.


Ku genggam jemari Nafizah, yang mulai resah memikirkan Om Rudi. Bahkan kami belum sepat makan dan di sana, tinggal bik Sumi dan mbak Tini yang menjamu tamu yang datang di di akad pernikahan kami.


Kami sudah sampai di rumah sakit, terlihat petugas kesehatan datang membawa bankar dorong kemudian tubuh om Rudi dibaringkan di sana dan di bawah ruang ICU


Aku dan Nafizah turun dari mobil lalu menyusul Papi dan mami yang sudah duluan masuk ke dalam rumah sakit. Lama kemudian kami pun sampai di depan ruang ICU, di mana di luar diberikan tempat duduk untuk menunggu sang pasien.


Aku melihat Mami Kayla begitu sangat rapuh, dia terus-menerus menangis dan di peluk oleh papi. Setelah Mami bisa menguasai dirinya, papi pun melepaskan pelukannya dan menghampiri kami.


''Aku telah menyiapkan tiket hotel kepada kalian untuk dua hari di depan. Tolong pergilah sekarang! Biar Papi sama Yusuf yang akan menunggu. Di sini banyak orang pun juga tidak ada gunanya, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa. Jadi pergilah, hari ini adalah hari kebahagiaan kalian, jangan kau tunda lagi! Dan kau Yusuf, antarkan Naura pulang ke rumah Kay! Di sana ada Tini dan bik Sumi lalu kembali ke sini,"


"Baik tuan," kata Yusuf mengajaknya pulang.


"Kau tunggu apa lagi? Gilang antarkan tuanmu itu!" perintah papi Erwan.


"Kau Juga, Ang. Pulang lah! Kau pasti lelah karena menyiapkan semua ini dan trimakasih banyak," kata Papi pada Angga.


"Baiklah, Tuan. Kalau butuh apa-apa tolong kabari saya," kata Angga pada papi sambil melangkah.


Aku dan Nafi masih berpamitan pada mami. "Mam, kalau perlu apa-apa telpon Nafi yaa, besok pagi kami ke sini lagi," pinta Nafizah pada Maminya dan beliau hanya mengangguk.


Lalu aku berjalan kearah papi. "Pi, kami pergi dulu jika ada apa-apa tolong hubungi kami," kataku pada papi.


"Tentu, pergilah jangan di tunda lagi kasih Papi cucu segera," katanya sambil tertawa sumbang.


"Baiklah akan ku penuhi permintaan Papi, kami pergi dulu, Pi," pamit ku pada papi dan kami berjalan menyusul Gilang dan Mira yang telah berjalan mendahului kami.


Sesampainya di mobil kami langsung masuk dan duduk di bangku tengah, lalu Gilang menjalankan mobilnya menuju hotel di mana kami akan menghabiskan malam disana


Setelah tiba di sana kami pun turun. Mira memberikan paper bag yang berisi gaun hadiah dari mbak Indah dan mukena.


Kami berjalan masuk kedalam lobby menemu resepsionis lalu dia memberikan key card pada kami, setelah itu kami masuk kedalam lift menuju kamar.


Sesampainya di sana kami masuk kedalam setelah menempelkan key card di pintu.


"Dek mandi saja dulu, mas tunggu di sini. Apa perlu Mas yang mandi dulu atau kita mandi bersama, bagaimana?" tanyaku menggoda sang istri.


"Aku dulu saja Mas, kalau bersama aku masih malu," kata Nafi sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun, tangannya aku pegang.

__ADS_1


"Sebentar, kau tak akan bisa lakukan sendiri," kataku sambil melepas hijab sang istri.


Terlihat olehku rambut yang panjang lurus dan indah. Aku terpukau menatapnya, setelah sadar kubalikan tubuh istriku membelakangiku, lalu ku geser yang ada di belakangnya karena tak menyangka aku membuka gaunnya. Ia pun tak siap hampir saja gaun itu melesat turun kebawah tapi di tahannya dengan kedua tangan di bagian dada sambil berteriak. Belum selesai rasa kagetnya, jari telunjukku, ku goreskan pada punggung yang putih mulus itu.


"Mas!" teriaknya kembali sambil berlari menuju kamar mandi, aku tertawa melihat keluguan istriku.


Aku melihat dua paper bag berada di atas sofa. Dek Nafi lupa untuk membawa sala satunya lalu aku membukanya yang satu memang benar mukena, kemudian aku beralih ke paper bag lainnya dan melihat memang sebuah gaun tapi ... kuambil dan kulihat, aku menelan salivaku sendiri, menatap lingire hadiah dari mbak Indah, kumasukkan lagi ke dalam paper bag dan pura-pura tidak tahu.


Setelah setengah jam berlalu, Nafi keluar dengan mengenakan bath robe, berjalan sambil menundukan kepalanya karena masih sangat malu padaku.


"Kamu bersiap yaa, kita sholat duhur bersama! Aku mau mandi dulu," kataku sambil berjalan kamar mandi.


Aku belum berniat untuk mandi, aku ingin melihat expresinya saat melihat baju gantinya. Aku berdiri di depan pintu kamar mandi dan melihatnya. Aku mendengar dia berdecak. Namun, tetap memakainya, kembali aku terpukau saat melihatnya berganti pakaian.


Aku mengusap wajahku untuk menghilangkan rasa itu, lalu masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan shower. Setelah selesai aku kenakan kembali kemejaku dan celana panjang, lalu mengambil air wudhu dan keluar dari kamar mandi.


Kami sholat dzuhur lalu di lanjutkan sholat sunah, setelah itu kubacakan doa kemudian aku menatapnya. "Bolehkah?" tanyaku padanya. Dia mengangguk dan melepas mukenanya, terpampang jelas keindahan dibalik gaun transparan itu.


Jantung ku berdetak lebih cepat, aku menarik tangannya hingga membuatnya bangun dari duduk dan berdiri di hadapanku. Kusapukan pandangan mataku di seluruh tubuhnya, menikmati keindahan yang baru bisa ku lihat hari ini. Aku mulai mengecup keningnya, kedua matanya, lalu hidungnya, kemudian bibir indahnya.


Tanganku mulai menyentuh lembut tubuh yang tertutup kain, perlahan tapi pasti kami sudah dalam keadaan polos. Kumanjakan istriku dengan seluruh indraku, hingga saatnya aku memasuki bagian tubuh terindahnya. Awalnya begitu sulit dan membuatnya meringis kesakitan. "Apa berhenti di sini?" tanyaku risau.


Dia menggeleng. "Ini tetap akan kulewati bukan? Sekarang atau nanti," katanya pelan karena menahan rasa.


"Maaf yaa, akan terasa sakit. Tapi akan ku buat kau senyaman mungkin, sayang," kataku sambil menyentuh bagian tubuh sensitif istriku, dan terus masuk ke lorong yang indah.


Kuhentakan tubuh hingga berasil masuk lebih dalam, terasa sangat sempit dan menghimpit luar biasa. Aku diam sejenak lalu ku gerakan badanku, memberikan kenikmatan pada istriku, hingga membuatnya mengikuti alur rasa yang kuciptakan. Sampai aku bisa menyemai benih di rahimnya, dan kuucap doa kebaikan agar mendapatkan keturunan yang baik.


Aku mengecup keningnya. "Terimakasih, sayang." Lalu kulepaskan tautanku, menggulir tubuh ke samping, menatap wajahnya yang lelah.


Aku setabilkan nafasku yang masih memburu, lalu aku turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai aku memakai pakaianku kembali, kemudian menyiapkan air hangat yang kucampurkan dengan sabun cair dan aroma terapi.


Aku pun keluar dari kamar mandi. Tanpa bicara ku gendong istriku ke kamar mandi, dia menyembunyikan wajahnya di dadaku, dia malu karena menggendong tubuh polosnya.


Ku masukkan dalam bathtub dengan hati-hati. "Jika sudah selesai pangil aku, yaa," pintaku sambil berdiri dan keluar dari kamar mandi, dia hanya mengangguk.


Aku duduk di sofa menelpon Gilang untuk membawakanku beberapa setel pakaian santai dan formal juga meminta membawakan pakaian untuk istriku dengan bantuan mbak Tini.


Kemudian aku menelpon layanan kamar meminta di kirimkan makanan siang di kamarku, sambil menunggu, makanan dan pakaian datang. Aku bermain handponeku mulai menjelajahi aplikasi belanja mencari pakaian dinas untuk istriku.


Pintu di ketuk dari luar aku pun membukanya nampak pelayan hotel membawa troli berisi makanan kuambil alih dan kubawa masuk.


Ku lihat Nafi sudah keluar dari kamar mandi dengan balutan bath robe, dia berjalan tertatih ke arahku sambil terdengar mendesis menahan sakit.


"Duduk sini sayang, makan dulu," kataku pada istriku.


Dia berjalan pelan lalu duduk di sebelahku. Ku siapkan makanan untuknya dan menaruhnya di atas meja depannya.


Ku cium pipinya. "Maaf ya, membuatmu sakit. Jangan kawatir, aku akan mengulangnya nanti," kataku terkekeh.


Nafizah memukul lenganku sambil tersipu malu. "Ku kira akan membuatku istirahat sebentar, tak tahunya malah mau mengulang," katanya lirih sambil menyendok makanannya dan menyuapkan di mulutnya.


"Kalau yang kedua tak akan sakit, mungkin akan menyanyi merdu di sela kegiatan kita nanti," kataku terkekeh.

__ADS_1


Nafizah memukulku kembali, rona merah membias di wajah cantiknya.


Terdengar lagi ketukan dari luar, aku beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan ke arah pintu kemudian membukanya, kulihat Gilang membawakan koper kecil berisi pakaian dan aku mengambil


__ADS_2