
Pintu akan ditutup oleh pemiliknya namun aku pun bisa menahannya dan memaksa untuk masuk ke dalam.
Seorang wanita yang masih mudah duduk disudut ruangan dan selalu bilang, "Bukan Anda Nona, tapi dia, maaf."
''Saya adalah teman Nafizah Jika ada sesuatu yang di ketahui Nona Indah tolong beritahu saya!''
(Pov Nafizha)
Malam telah tiba aku baru saja mengirim surat cinta untuk sang pencipta alam semesta dengan lantunan doa dan dan munajat yang kusampaikan kepada Allah, Tuhanku. Kulihat beberapa penghuni sel sudah terlelap dalam tidurnya aku masih terjaga. Dalam sepinya malam ku, keluarkan secarik kertas ucapan ulang tahun yang diberikan oleh sang Mami tercinta.
(Ai sayang, selamat ulang tahun untukmu. Semoga apa yang Mami berikan, sedikit memberimu kebahagiaan. Maaf tidak pernah memberimu senyum. Di ulang tahun ini Mami berharap, hari ini awal dari usaha kita untuk mendapatkan keadilan. Di sini Mami juga berusaha untuk membuatmu keluar sayang, bersabarlah dan selalu berdoa untuk hari yang lebih indah. Cinta mami selalu untuk mu.)
Kirara gadis itu Sudah terlelap di sebelahku dia yang pertama kali mempercayai bahwa aku tidak bersalah banyak orang menghakimku tetapi dia menatapku sendu.
Sebagai seorang tahanan tak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa. Masih kuingat awal pertama kali aku dimasukkan ke dalam sel ini seluruh penghuni ini meludaiku sebagai sebuah perayaan atau penyambutan bagi tahanan baru.
Aku hanya tersenyum ketika hal itu terjadi padaku karena aku sudah tidak bisa menangis.
Gadis di sebelahku ini datang padaku dan bertanya, ''Hijabmu basah semua, apa masih bisa dipakai shalat?'' Aku terseyum dan menjawab, ''Allah pasti tahu keadaanku.''
Ketika malam selalu teringat hal-hal yang sedih. Itu sebabnya mungkin aku ingin segera terlelap dari tidurku, agar esok pagi bisa bekerja kembali. Akhirnya aku pun tertidur.
Aku selalu terbangun saat bunyi pukulan besi berdentang sesuai jam pada saat itu maka ketika besi ditabung satu kali aku terjaga lalu aku terlelap kembali. Hingga di tabuh tiga kali aku kembali terjaga dan tidak bisa terlelap kembali.
__ADS_1
Aku melaksanakan shalat malam dan bermunajat kepada Allah ku lantunkan bait-bait doa untuk memohon lindungan dan segera terlepas dari tempat ini.
Setelah itu, aku membaca Alqur'an, ku lantunkan hingga waktu subuh tiba dan melaksanakan shalat subuh, kemudian menunggu sel penjara dibuka.
tepat jam 07.00 sel penjara dibuka lalu mereka mulai sarapan pagi . Mereka akan antri mengambil makanan. Sedangkan aku lebih suka menunggu dari pada berdesak- desakan. Setelah semua mengambil makanan, aku baru mengambilnya, kadang tidak mendapatkan bagian sama sekali, atau hanya mendapatkan nasi saja.
Jika aku belum mengambil makananku maka Kirara lah yang akan mengambil makanan untukku
"Apa yang kau lakukan di sana Nai? Nasi dan laukmu tidak akan datang sendiri," kata Kirara.
Aku pun tersenyum mendatanginya yang sedang duduk di kursi meja makan tahanan, lalu duduk di sebelah Kirara. ''Apakah itu milikmu semua? Atau yang satu tidak bertuan?'' tanyaku kepadanya
"Yang ini punya mu dan yang ini punya ku," kata Kirara sambil menaruh piring di depan mejaku.
Kami akan mendapatkan nasi cadong atau nasi pero dan beberapa lauk yang sederhana tempe dan tahu goreng lalapan dan sambal.
Setelah kami bersarapan maka waktunya untuk apel ini di bawah sebuah lapangan yang luas dan berbaris dengan rapi untuk mendapatkan penyuluhan antara lain yaitu anti narkoba, tindak pidana dan lain-lain
Ketika sudah selesai apel pagi, maka kami diwajibkan untuk membersihkan lingkungan sekitarnya. Menyapu, membersihkan toilet dan selokan, itu wajib di lakukan setiap pagi hingga selesai.
Setelah itu kami akan istirahat menunggu jam makan siang berapa menghabiskan waktunya dengan berbincang bersama teman bersama sel atau beda sel.
Aku tak banyak bicara hanya duduk dan memandang mereka saling bercerita.
__ADS_1
Aku tak punya selain Kirara. Kasus hampir sama dengan ku percobaan pembunuhan bedanya ia benar-benar melakukan kepada Ayah tiri karena di paksa sang adik.
Tiba-tiba tidur di pangkuan ku, "Apa kau melamun lagi?" tanya padaku.
"Apa aku terlihat melamun?" tanyaku pada Kirara.
Kirara mengangguk aku pun tertawa.
"Kau cantik sekali kalau sedang tetawa.''
"Kau juga apapun makan siang akan tiba, Kirara yang pertama mengambil makanan tak ada yang berani mengusiknya, sebab ia adalah gadis yang paling di takuti di penjara, walau menjadi bahan pembicaraan bagi mereka.''
Kirara sudah membawa dua piring nasi dengan penuh lauk ditaruhnya di atas meja depan dudukku. Kami pun makan dengan tenang.
Sambil melihat huru-hara pengambilan makanan, antara penghuni lapas.
Ini kadang terjadi antara sesama tahanan yang tidak mau mengalah, kadang ingin cepat atau lebih dahului dan tak mau mengantri, membuat saling berdesakan dorong-mendorong dan terjatuh. Ada yang sudah mengambil dan akhirnya jatuh terdorong oleh teman sendiri.
Setelah makan siang masih ada banyak kegiatan untuk para anggota lapas sebagai upaya dalam memberikan pelatihan agar keluar dari lapas dapat berwirausaha sendiri.
Bukan aku dan kirara saja tetapi juga yang lainnya mengikuti pelatihan ini.
Aku lebih memilih kegiatan bercocok tanam
__ADS_1
dengan tanaman hidroponik, dengan menanam terasa bisa mengobati luka hati ku dengan melihat tanaman yang tumbuh subur.
BERSAMBUNG....