
"Sesuai apa yang kamu katakan kemarin aku kancingkan saja," kata Gilang padaku.
Angga tertawa. "Emang gak pernah lihat begituan?''
''Pernah lah, di tempat mami Kayla kan banyak. Tapi kan menurutku Mira beda," katanya padaku
Tak terasa kami sudah sampai di ruangan perawatan Hardian, kami pun masuk, aku melihat seorang pria dengan kabel-kabel di tubuh nya dan mata terpejam serta wajah pucat.
Aku menatapnya sendu, 'Sampai kapan kamu terpejam di di sini, sementara calon istri mu mendekam di penjara?' batin Angga.
Aku melangkah mendekatinya dan memperkenalkan diriku pada pria yang hanya bisa terpejam itu. "Aku Angga Paramuda Dosen yang dari dulu hingga sekarang masih mencintainya Nafizah calon istrimu. Jika kau masih terpejam disini, akan ku ambil kembali dia untuk ku, setelah itu merataplah dirimu karena kehilangan dia! Maka berusahalah untuk sadar sebelum benar-benar kau kehilangan dia," kataku berbisik di telinganya, agar Gilang tidak mendengar kan apa yang ku katakan pada pria koma ini. Setelah itu aku pun menoleh pada Gilang yang duduk di sofa jauh dari aku berdiri.
Aku m berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya, sambil menyandarkan bahuku di sandaran sofa.
(Pov Nafizah)
Menatap ruangan penuh sesak, tak ada celah untuk sekedar luruskan kaki bersandar pada tembok yang dingin untuk melepas lelah. Sejenak alunan napas berebut udara yang tersisa dari lobang-lobang angin di beberapa ruangan.
Sayup-sayup terdengar jeritan hati yang merindu pada kekasih yang tak sanggup melihat hati yang membiru kelabu di kesunyian malam. Sepi nan panjang tanpa ujung, menanti semburat cahaya sinar yang lama kurindukan, untuk menerangi seluruh ruangan hati yang suram.
__ADS_1
Malam semakin dingin sedingin hati berharap selimut rindu, menghangatkan cinta yang mulai dingin karena kehampaan yang panjang. Menetap disudut ruang hati yang beku.
Merindu dua sosok lelaki yang hadir membawa luka dengan cara berbeda, merebut, mencabik luka hingga bernanah. Tak sanggup menangis dan tertawa bahkan lupa untuk tersenyum, walau sekedar memberi kebohongan bahwa aku baik-baik saja.
"Nai, kau belum tidur?" tanya Kirara padaku.
"Kau juga belum, gadis gagah," sapaku sambil tertawa.
"Setiap malam aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Banyak hal yang kurindukan juga aku benci," kataku pada Kirara.
"Kenapa? Kau merindukan calon suamimu itu?'' tanya Kirara padakum
"Tidak hanya dia, tapi juga Papi. Aku membencinya sekaligus merindukannya," kataku pada Kirara.
"Jangan macam-macam kau yaa!" larangku padanya.
Dia terkekeh lalu memelukku dari samping dan mencium pipiku.
"Dasar gadis gila!" umpat ku padanya.
__ADS_1
Tak seberapa lama kemudian aku terlelap dalam tidur ku, hingga jam tiga akhirnya aku pun terbangun.
Seperti biasa aku melaksanakan sholat malam, kemudian melaksanakan sholat subuh di waktu subuh. Setelah matahari mulai menampakkan sinarnya, sel penjara mulai di buka untuk sarapan pagi dan kerja dinas sosial.
Seperti biasa kami akan sarapan dengan nasi codong dan beberapa lauk sederhana. Seperti biasa pula, Kirara akan membawakan jatah makan ku, lalu kami makan dengan tenang.
Setelah sarapan pagi maka akan ada apel pagi sebentar setelah itu kami mulai membersikan lingkungan yang ada di situ, dari mulai taman depan dan belakang, lalu toilet-toilet. Selokan air dan lain - lain tak luput dari pembersihan dan perawatan.
Aku dan Kirara di bagian membersihkan taman depan dan sekitarnya, setelah selesai kami pun istirahat.
Di tengah istirahat aku dipanggil untuk menemui tamu yang berkunjung menjengukku, akupun mengikuti petugas sampai ke ruang pertemuan.
Ketika sudah sampai alangkah terkejutnya aku, di situ ada mami dan Papi. Aku hendak kembali tidak ingin bertemu, tetapi Papi menarik tanganku dan memelukku dengan erat, lalu mengucapkan permintaan maaf padaku.
Mami dan papi membicarakan tentang rencana mereka. Bagiku jika mereka bahagia aku pun ikut bahagia. Setelah waktu berakir aku pun kembali di tempat di mana aku beristirahat dengan Kirara.
"Siapa yang menemui mu tadi?" tanya Kirara.
"Mami dan papiku yang datang kemari tadi," jawabku pada Kirara.
__ADS_1
"Apa mereka akan rujuk?" tanya Kirara padaku.
BERSAMBUNG ....