
(Pov Erwan Tama)
Aku sangat gelisah malam ini pasalnya tadi pagi Kayla dan Rudi sudah menikah.
Meskipun aku telah mewanti agar Rudy hanya berhubung satu kali dan harus menggunakan pengaman tetap saja aku sangat gelisah.
Aku tak bisa membayangkan di peluk oleh lelaki yang lebih muda dan gagah. Aku sangat takut wanita itu justru akan jatuh cinta dengan suami keduanya.
'Ahh, kenapa aku bodoh sekali dulu? Harusnya aku menahan emosi, aku tidak tahu keputusan ini benar atau salah.'
Dalam ketakutan aku menelpon Kayla. Dia menerimanya. "Assalamualaikum, Kayla. Apakah kau bersama Rudi?" pertanyaan bodoh yang kulontarkan membuat Kaila dan Rudi tertawa.
Derai tawa mereka membuat hati ku sakit.
"Wa'alaikumsalam, jelas aku sedang bersamanya dia kan suamiku sekarang," katanya padaku
"Apa kau akan mencintainya Kay?"
tanyaku semakin gelisah
"Aku tidak tahu, tapi dia kan suamiku, lagi pula menikah hanya di atas kertas, tidak bisa membuat mu kembali padaku Er. Kami harus hidup sebagai mana layaknya suami Istri," katanya padaku.
"Aku takut kau benar-benar pergi dari ku, Kay," kataku padanya
"Kau yang memintakan?" tanya Kayla padaku
"Iya, Assalamualaikum." Aku menutup telepon tak kuat mendengar tawa mereka.
__ADS_1
Dalam kekalutan hati, ruang kerjaku di ketuk, aku menyuruhnya masuk. Pintu pun terbuka masuklah Yusuf dan duduk di depan meja kerjaku.
"Saya sudah mengurus ijin keluar penjara serta memberikan jaminan, besok pagi Nona sudah di perbolehkan untuk keluar penjara dan akan kembali sore hari.''
"Baik, Yusuf, trimakasih," ucapku padanya.
"Apa Anda baik-baik, Tuan?" tanya Yusuf padaku.
"Yah, aku baik-baik saja," kataku padanya.
Malam semakin larut keresahanku tak mau pergi. Aku meninggalkan ruang kerjaku dan berjalan menuju kamar tidur. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang, kupejamkan mataku dan mencoba menerima jika Kayla bahagia dengan Rudi.
Waktu berjalan seirama dengan jarum jam yang berputar tiada henti hingga terdengar suara adzan membuatku terbangun.
Aku bangun dari ranjangku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berganti dengan baju koko serta sarung lalu menunaikan shalat subuh.
''Tuan, kenapa Anda yang membuat sarapan? Harusnya saya," kata Yusuf
"Tidak apa-apa, hanya sarapan, yang lain sudah di tangani bik Ida. Dia baru datang jam delapan nanti, Suf," jelasku padanya.
Aku melirik pada putriku, Naura. "Bagaimana sekolahmu, sayang?"
"Baik, Dad," jawabnya singkat.
"Nanti, kamu antar Naura ya, Suf!'' perintahku padanya.
"Iya, Tuan," jawab Yusuf.
__ADS_1
Setelah aku selesai sarapanku, aku pun pergi ke lapas untuk menemui putri sulungku, dengan kecepatan sedang meluncur kejalan raya.
Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai, aku keluar dari mobil dan berjalan masuk lalu duduk di ruangan tunggu, menanti kekasih kecilku yang pernah kulepaskan genggaman tangannya.
Kulihat putriku sedang berjalan kemari hatiku berdebar kencang. Baru kali ini aku sendirian menemuinya, semakin dekat semakin membuatku takut.
Aku berdiri menunggunya mendekat, tiba-tiba dia menghambur memelukku, serasa jutaan bahagia hadir memenuhi ruang hatiku.
"Ayo kita berangkat sekarang, mungkin dengan kehadiranmu dia akan segera sadar dari koma," kataku padanya.
"Terimakasih, Papi," katanya sambil menatapku dan air mata jatuh di pipinya.
Aku menghapus air mata putriku, sekali lagi ingin ku ucapkan maaf kepadanya dan aku akan berjanji untuk menghapus kesedihannya juga.
Kami berjalan keluar dari lapas lalu masuk kedalam mobil, kemudian berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit dimana Hardian di rawat.
Nafizah menatapku dari tadi seolah ingin bertanya sesuatu padaku, aku menoleh dan tersenyum. "Apa yang ingin kau tanyakan? Papi, akan jawab."
"Bagaimana dengan Mami? Apa rencana Papi," tanyanya padaku.
"Mami sedang bahagia dengan suaminya, Papi ikhlas. epertinya dia lebih mencintai Mamimu di banding Papi," kataku sambil tersenyum menutupi rasa sedihku.
"Siapa yang menikahi Mami?" tanyanya padaku
"Rudi," jawabku.
BERSAMBUNG...
__ADS_1