
(Pov Angga)
Aku masih di ruangan mbak Ari desainer dari Butik terkenal itu. Aku mendengar mbak Ari mengatakan bahwa desainer lama sudah resign.
"Apa mbak sudah resign?" tanyaku pada Mbak Ari.
"Saya kesini untuk mendapatkan terbaik yang pernah di informasikan teman saya, saya tidak mengatakan desain mbak Ari tidak bagus, hanya saja Saya ingin Mbak Indah yang mendesain gaun tunangan saya karena ini sangat spesial, begini saja Mbak saya akan beli desain Mbak Ari, tapi saya juga ingin mendapatkan desain Mbak Indah, apa saya boleh tahu alamatnya? Mbak, 'kan asistennya pasti tahu kan alamatnya di mana?" kataku sambil mendekatkan sedikit wajahku pada, terlihat rona merah di wajahnya.
Dia mencondongkan tubuhnya kearah ku.
"Dengar baik-baik tolong lihat desain saya, kita akan bicara seperti ini. Saya akan memberikan alamat mbak indah tapi ini tolong rahasiakan, saya hanya akan menyebutnya satu kali dan Anda harus ingat alamatnya, bagaimana?" katanya padaku sambil mencoret-coret desainnya. Aku pun mengangguk lalu masih fokus di tablet ia menyebutkan sebuah alamat.
Aku kembali mengangguk.
"Pembayarannya saya transfer ya mbak," kata ku memberi isyarat.
"Anda bisa transfer di sini," katanya sambil meminta nomer telphonku.
"Silakan pergi jika Anda tidak jadi memesan," katanya padaku.
"OK! Terima kasih banyak Mbak Ari lain kali aku akan memesannya, ya aku akan datang dengan tunanganku
__ADS_1
Aku pun bangun dari tempat dudukku dan akan keluar dari ruangan itu. Namun dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya yang menghampiriku. Anda tidak jadi memesan?" tanyanya padaku.
"Bukan tidak jadi, Nyonya. Mungkin lain kali saya akan membawa tunangan saya ke sini. Apa Anda pemilik dari butik ini?" tanyaku padanya
"Iya, saya pemiliknya," kata wanita paruh baya itu.
"Boleh saya tahu nama Anda, agar nanti jika saya memesan bisa lewat telepon karena saya sangat sibuk sekali," kataku kepada wanita paruh baya itu.
"Nama saya Soraya ini kartu nama saya Anda bisa pesan lewat nomor saya," kata wanita paru baya itu.
"Terima kasih Nyonya Saya permisi dulu," kataku padanya dan aku pun keluar dari butik itu kemudian masuk ke dalam mobilku
lalu kujalankan dengan kecepatan sedang, ku lihat ada sebuah mobil mengikutiku aku berhenti di sebuah rumah makan untuk mengecohnya.
Aku duduk di sebuah meja yang paling ujung lalu memesan minuman, sambil menunggu pesananku, aku menebarkan pandanganku.
Seorang pria sangar dan kekar menghampiri mejaku lalu duduk di depanku. apa anda Tuan Angga?" tanyanya padaku.
"Apa Anda perlu dengan saya? Saya merasa tidak kenal dengan Anda," kataku balik bertanya.
"Tuan Erwan ingin berbicara dengan anda di mobil mari ikut saya tuan," kata lelaki sangar itu padaku
__ADS_1
"Baiklah kataku sambil meletakkan uang seratus ribu di meja untuk minuman yang ku pesan. Setelah itu, aku keluar dari rumah makan itu dan menghampiri hitam yang mengikutiku tadi.
Pria kekar itu membukakan pintu dan aku masuk ke dalamnya, duduk di sebelah seorang lelaki yang masih gagah dan tampan.
"Yusuf bawa mobilnya dan ikutin mobilku!'' katanya pada anak buahnya.
Lelaki itu pun mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan aku duduk di sebelahnya. "Apa Anda sedang menculikku?" tanyaku kepadanya sambil terkekeh
Dia pun tertawa. "Untuk apa aku menculikmu kamu sudah terlalu tua, untuk diculik," katanya padaku
"Lalu untuk apa Anda membawaku ke mobil Anda?" tanyaku padanya
"Untuk apa kau datang ke club?'' tanya Erwan
"Bagi seorang lelaki apa yang dilakukan jika datang di klub? Pasti bersenang-senang bukan? Begitu pula denganku," kataku sambil mempermainkan perasaan tuan Erwan
"Jangan main-main denganku! Aku bisa lakukan apapun padamu!" katanya padaku.
"Saya tidak sedang bermain-main dengan Anda tetapi andalah yang sedang bermain-main dengan hidup Anda, Putri Anda mendekam di penjara sudah dua
tahun lamanya dan Anda masih meributkan tentang cinta yang telah Anda buang," kataku sinis.
__ADS_1
"Dia tak pernah mau ku jenguk aku buruk di matanya" kata pria paruh baya itu.
BERSAMBUNG....