
(Pov Nafizah)
Setelah PK (Peninjauan Kembali) di setujui sidang pertamaku digelar untuk mendengarkan keputusan pengadilan membuka kembali u karena adanya kebohongan, tipu muslihat atau bukti-bukti palsu, menimbang hal- hal tersebut maka kasus percobaan pembunuhan terhadap Tuan Hardian Shahila yang dilakukan oleh terdakwa Nafizah Kaila Tama resmi di buka kembali dengan menghadirkan saksi-saksi baru dan bukti-bukti baru.
Aku melihat Papi, Naura, Bang Yusuf, Mami, Om Rudi, umi, Abah dan bang Angga serta Gilang hadir di persidangan.
Mengingat dari persidangan awal tidak di temukan saksi lain selain korban sendiri yang mengalami koma dan tidak bisa bersaksi.
Serta Nona Chira Mutiara selaku penggugat yang di duga melakukan pemalsuan tuduhan, serta bukti-bukti mendukung keputusan yang nyatakan terdakwa tindakan pidana Nafizah Kaila Tama bersalah.
Setelah menimbang hal - hal di atas maka pihak pengadilan memutuskan untuk membuka kembali kasus ini terhitung mulai hari ini.
Ketukan palu sebanyak tiga kali sebagai tanda bahwa pengajuan Peninjauan Kembali ku disetujui, dan aku bisa berharap untuk bisa terlepas dari kasus menjeratku ini.
Setelah mendengarkan keputusan pengadilan mengenai kasusku, aku kembali di antar oleh petugas lapas kembali ke penjara
Besok adalah sidang kedua di mana mendengarkan saksi-saksi. Ku dengar adikku akan bersaksi di persidangan, membuat aku terkejut karena dulu dinyatakan tidak ada saksi mata selain calon suamiku yang sedang koma.
Mengenai calon suamiku itu, aku pun belum mendapatkan kabar tentang keadaannya sejak kunjungan terakhirku itu.
Aku sangat senang saat Peninjauan Kembali kasusku di setujui, tetapi sekaligus membuatku takut keputusan malah memperpanjang masa penjaraku bukan malah memperingan hukuman.
Dalam perjalanan menuju lapas kembali, otakku di penuhi dengan berbagai macam ketakutan dan harapan.
Mobil yang mengantarkanku ke pengadilan sudah tiba kembali di lapas. Aku pun keluar dari mobil dan berjalan masuk kembali ke sel penjaraku.
Sampai di sana aku kembali di sambut oleh sahabat Kirara.
"Bagaimana dengan sidangnya tadi?" tanya Kirara padaku.
__ADS_1
"Masih mendengarkan keputusan tentang di bukanya kembali kasusku dan baru besok mendengarkan saksi-saksi," kataku padanya.
"Aku sangat senang ketika mendengar kasusmu akan di buka lagi, Naf," kata Kirara padaku.
"Aku juga, Ra, hanya saja aku takut Ra, malah memperparah keadaan," kataku padanya.
"Kau harus yakin Naf, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri," kata Kirara.
"Kau benar, Ra, aku tak mengira Bang Angga akan datang kemari dan berjuang mencari kebenaran atas kasus ku. Dia jauh-jauh kemari hanya untuk membantuku untuk mencari bukti-bukti dan orang yang mau bersaksi di persidanganku," kataku padanya.
"Kau harus berjuang untuk dirimu, Naf. Pak Angga sudah sedemikian rupa membantumu untuk mendapatkan kebenaran," kata Kirara.
"Ya kau benar, Ra. Aku harus berani untuk mendapatkan kebenaran, walaupun aku masih berharap Mas Hardian bisa sadar dari komanya.''
Waktu bergerak dengan cepatnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan hari ini pun terlewati, malam mulai mengantarkan tidurku dengan lelap berganti subuh kemudian fajar mulai menyingsing.
Aku duduk di kursi terdakwa, saat ini kali ini yang menjadi adalah Indah, ia pun maju sebagai saksi ada perdebatan antara pembela dan penuntut.
Penuntut bersikeras bahwa mbak Indah tidak bisa bersaksi, karena mentalnya dalam keadaan tidak stabil.
Sementara pembela menyatakan bahwa mental mbak Indah dalam keadaan stabil, dan telah mendapatkan surat rekomendasi spikiater,
Kalau Mbak Indah benar-benar sudah mengalami pengobatan dan saat ini berada dalam kondisi yang benar-benar stabil.
Setelah perdebatan yang sangat sulit antara pengacara dengan menuntut umum, maka hakim menyatakan Indah layak untuk menjadi saksi.
Dimulai dengan pengambilan sumpah untuk memberi pernyataan yang benar. Mbak Indah mulai menuturkan bahwa sebenarnya tuan Hardian memesan gaun spesial dari butik mbak Indah dengan kesepakatan hanya di produksi satu gaun saja. Entah kenapa, pihak butik malah menyalahi kesepakatan dan menerima pemesanan dua gaun dengan detail desain, warna dan corak semuanya harus sama tanpa konfirmasi dengan Tuan Hardian sebagai pemesan pertama, hingga yang semula satu menjadi tiga gaun.
Flashback on
__ADS_1
(Pov. Indah)
Aku melihat pemilik kesepakatan dengan orang lain mengenai gaun yang dipesan oleh tuan Hardian. Aku mendekati pemilik butik yang bernama nyonya Soraya.
"Maaf Nyonya, Anda tidak bisa menjual ke pihak yang lainnya. Karena Anda sudah menyepakati perjanjian bahwa gaun ini hanya diproduksi satu saja," kataku dengan sopan.
"Kau tidak perlu ikut campur, Indah. Yang terpenting adalah kamu merancang busana itu selesai, tidak ada urusannya dengan yang namanya kontrak kerja dan lain sebagainya," kata Nyonya Soraya.
"Saya desain tidak bisa membiarkan Anda melakukan ini, nyonya," kataku padanya.
"Itu hanya bekerja tugasmu adalah bekerja dan aku membayarmu jadi kamu tidak perlu untuk repot-repot mengingatkanku tentang perjanjian antara tuan Hardian dengan saya, dan jangan coba-coba memberi tahukan kepada tuan Hardian!" katanya padaku.
Aku tidak bisa menentang keinginan pemilik butik tersebut, aku pun memutar otakku agar baju itu tidak benar-benar mirip dari rancangan yang pertama dengan memberikan lipat kecil yang berbeda pada gaun tersebut.
Ketika gaun itu telah selesai dan akan dipakai oleh nona Nafizah aku merasakan sesuatu hal akan terjadi, maka aku menelpon Tuan Hardian, lalu beliau menyuruhku untuk datang ke apartemen membawa serta baju pengantin.
Aku pun datang ke sana, beliau menyambutku dengan sangat hangat kami berbicara di lantai dua yang terdapat minibar di sana. Aku merasakan kekawatiran ku padanya dan mbak Nafizah, hingga akhirnya aku mendengar suara bel berbunyi. Tuan Hardian pergi membukakan pintu sementara aku bersembunyi di sebelah lemari di pojok ruangan sambil menyalakan kameraku.
Aku melihat tuan Hardian membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah adik iparnya, dengan memakai baju yang sama dengan calon istri membuatnya murka. Dia berlari ke atas dan mengambil handphonenya dan menelpon nyonya Soraya.
Aku tetap bersembunyi hingga sang adik ipar ingin memotong nadinya, lalu tuan Hardian memukul tangan wanita itu dan pisau itu terlepas. Karena tuan Hardian sibuk dengan adik iparnya yang akan bunuh diri, dia tidak tahu kalau nona Chira masuk ke apartemennya dan berjalan menghampiri mereka kemudian mengambil pisau lalu menyerang tuan Hardian hingga hingga jatuh kebawah.
Kakiku gemetar melihat insiden itu. Aku bersembunyi terus hinga mereka pergi termasuk wanita paruh baya yang datang setelah Nona Chira.
Setelah mereka aku pun pergi dengan kaki dan tanganku gemetar membuat handphone yang berisi rekaman itu jatuh dan rusak.
Flashback off
(Pov Nafizah)
__ADS_1