
Ke esokan harinya Aku kembali mengantar mereka ke pengadilan, Hari ini akan menghadirkan nona Naura dan Nyonya Soraya.
Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di pengadilan. Mobil berhenti di area parkir, kami keluar dan berjalan di ruang persidangan masih terlihat sepi hanya beberapa yang hadir, terlihat olehku mami Kay dan suaminya Rudi. Aku hampiri mereka dan mencium punggung tangan mami, lalu bergantian memeluk sahabatku itu. Dia begitu tampak berbeda, kurus dan sedikit pucat, aku mulai menghawatirkan keadaannya.
"Rud, apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya.
"Ya, aku baik-baik saja jangan kawatir," katanya padaku.
Aku menatapnya lalu duduk di sebelahnya. Ku edarkan pandanganku Nona Nafizah belum juga dihadirkan.
Satu jam berikutnya kulihat Nona Nafizah, datang dan dikawal oleh petugas lapas lalu duduk di kursi terdakwa, di sebelahnya ada Nona Chira yang kemarin ditetapkan jadi tersangka kedua.
Para hakim penuntut serta pengacara yang membela Nafizah sudah hadir dalam ruangan persidangan.
Tak berapa lama, Nona Naura setelah dipanggil untuk menjadi saksi kedua dari kasus Nona Nafizah.
Sebelum bersaksi, Nona Naura memandang kami satu persatu. Kami pun menggangguk, memberikan keyakinan pada dia untuk bersaksi pada persidangan kali ini.
Ku dengar dia sudah mengambil sumpah sebelum mengungkapkan fakta yang ada yang dialaminya pada saat itu. Ia pun menarik nafas untuk menenangkan dirinya, setelah itu dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi.
Kulihat Nona Chira, mulai gelisah dia tidak seperti kemarin yang begitu yakin bahwasanya akan memenangkan suatu perkara.
Dia mulai tertekan dan mulai berteriak, "Bukankah kamu duluan yang berada di sana besok? Itu pun juga milikku, bukan milikmu. Di sana ada sidik jarinya bukan begitu," kata Nona Chira.
''Kenapa Anda begitu yakin, bahwa itu ada sidik jari dari nona Naura? Memang dari penuturan pisau tersebut di di gunakan untuk memotong nadinya, sehingga di dalam pisau tersebut terdapat sidik jari. Dan pisau itu pun Anda ambil untuk menusuk korban yang saat belum sepenuhnya bisa berdiri kokoh. Ada rekaman peristiwanya dan sudah kami serahkan kemarin.''
(Pov Nyonya Soraya)
Hari ini adalah hari di mana aku harus bersaksi mengenai Gaun pesanan tuan Hardian, dan menyalai kesepakatan sebelumnya dengan beliaunya.
Ini buah dari keserakahanku, tanpa menghiraukan nasehat desainerku pada waktu itu.
Saat ini aku berdiri sebagai salah satu saksi dari kasus nona Nafizah.
Aku disumpah untuk mengatakan suatu kebenaran.
Aku mulai bercerita awal saat aku bertemu dengan Nona Chira yang mengaku sebagai sahabat dari nona Nafizah dan Nona Naura sebagai adiknya.
Flashback On
__ADS_1
Saat aku berada di ruanganku ngecek keuangan butikku, pintu ruanganku diketuk dari luar, aku mendongak. "Masuk!" perintahku, sekertarisku membuka pintu dan masuk membawa seseorang masuk kedalam ruanganku.
"Nyonya, Nona Chira ingin bertemu dengan Anda. Ada yang ingin dia bicarakan dengan Anda," kata sekertarisku.
"Baik, tinggalkan kami!" perintahku pada sekertarisku. Dan iapun pergi meninggalkan ruangan.
"Duduklah! Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Aku ingin baju yang sama dengan Nafizah yang akan di kenakan sehari sebelum pernikahan," katanya padaku
"Kenapa kau bisa tahu kalau ada baju yang dirancang untuk satu hari sebelum pernikahannya?"
"Anda lupa, bawa Anda telah mengumumkan itu di media sosial? Tentunya yang mengikuti Anda pasti akan tahu, begitu juga aku. Dia adalah sahabatku sangat spesial. Tidak ada salahnya kalau aku memakai baju yang sama.''
"Saya tidak mau menyalahi kontrak dengan Tuan Hardian," kataku padanya.
"Jika Anda tidak bilang, maka dia tidak akan tahu. Saya berani bayar mahal asal saya bisa menggunakan baju yang sama dengan sahabat saya itu," katanya padaku.
Aku mulai tergiur dengan tawarannya maka kuberikan harga yang lebih mahal dari Tuan Hardian.
"Kalau kau mau dengan harga yang kutawarkan akan diberikan," kataku kepadanya.
"Baiklah! Berapa yang kau minta akan kuberikan," katanya padaku.
Setelah dia pergi dari ruanganku, sekretarisku kembali menemuiku, dia mengatakan bahwa di ruangan desainer terjadi kegaduhan. Aku pun pergi ke sana untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa Mbak Indah?'' tanyaku pada desainerku.
''Ini Ibu, Mmbaknya ini mengaku adik dari Nona Nafizah, menginginkan gaun yang sama akan dipakai sehari sebelum menikah. Saya tidak mau menyalahi kesepakatan, gaun Ini hanya diproduksi satu saja Bu, tidak boleh ada yang lainnya," kata desainerku.
"Mari ikut saya ke ruangan saya," kataku pada wanita yang mengaku adik dari Nona Nafizah.
Aku mengajaknya ke ruanganku untuk berbicara soal gaun yang dia minta.
"Silakan duduk!" kataku padanya. Dia pun duduk di sofa bersama denganku.
"Siapa nama Anda?" tanyaku padanya.
"Namaku adalah Naura. Aku menginginkan gaun seperti kakakku, apa bisa kumiliki? Karena sesungguhnya aku ingin tampil dengan busana yang sama dengannya," katanya padaku
"Kalau kau bisa membayar harga yang lebih tinggi dari harga yang ku ajukan pada Tuan Hardian maka akan kuberikan gaun itu padamu," kataku padanya.
__ADS_1
"Ok! Berapa yang Kau minta akan ku transfer sekarang juga, dan pastikan bahwa aku memiliki gaun yang sama dengan kakakku," katanya padaku.
Maka ku sebut harga yang lebih fantastis lagi jadi wanita pertama kali yang menemuiku. Sungguh di luar dugaan, dia langsung mentransfer sejumlah uang yang kuminta.
Aku benar-benar merasa beruntung pada saat ini, tiba-tiba saja kantungku pun penuh dengan uang, hanya karena sebuah gaun dari nona Nafizah.
Akhirnya wanita itu pun pergi setelah mentransfer sejumlah uang kepadaku.
Aku keluar dari ruanganku menuju ruangan Mbak Indah. Aku ingin menyampaikan kepada Mbak Indah bahwa gaun itu harus diproduksi tiga.
Aku mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruangan Mbak Indah. "Mbak Saya minta gaunnya untuk direproduksi 3 buah, karena yang memesan ada 3 orang," kataku padanya.
"Mana bisa begitu Bu? Ketentunya kan hanya satu. Kenapa tiba-tiba diproduksi 3? Kalau nanti terjadi komplain dari tuan Hardian, bagaimana? Saya harus bilang apa pada beliau, Bu? Sementara itu beliaunya pesan Gaun itu ke saya hanya satu." katanya
"Turuti saja apa yang aku mau, masalah tentang perjanjian kontrak antara Tuan Hadian dengan anda itu, nanti yang saya yang akan bertanggung jawab," kataku padanya.
Aku pun keluar dari ruangan Mbak Indah. Aku tidak mau uang yang diberikan padaku akan diambil kembali, kutekan sedemikian rupa, sehingga dia tidak berani untuk menolak keinginanku.
Satu minggu berikutnya gaun-gaun itu pun sudah jadi. Aku mengirimkan kepada mereka yang telah memesan gaun itu, tepat satu hari sebelum gaun itu dipakai.
Malam harinya terjadi kegemparan ada percobaan pembunuhan pada Tuan Hardian, mendengar berita itu aku pun gemetaran, membayangkan bahwa aku akan terseret dalam kasus ini, karena aku telah menjual gaun, yang seharusnya tidak boleh ku jual ke orang lain.
Semalaman Aku tidak bisa tidur. Meesokan harinya aku menemui Mbak Indah, dan aku menekannya agar mengatakan bahwa gaun yang dipesan hanya satu tidak ada gaun lainnya, tapi yang kulihat dari respon mbak indah adalah rasa ketakutan yang luar biasa. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan desainer ku itu.
Hingga jelang sidang dibuka dan tak ada satupun yang berani untuk menjadi saksi, dari peristiwa itu sementara CCTV hanya menayangkan saat seseorang yang bajunya sama dengan Nona Nafizah masuk ke ke apartemen Tuan Hardian, dan setelah itu ada tayangan kembali Nona Nafizah yang berada di situ. E tah bagaimana akhirnya wanita malang itu, menjadi tersangka pada kejadian malam itu.
Aku tak mau terlibat begitu dalam. Hingga setiap kali asisten dari tuan Hardian datang, aku selalu berkata bahwa gaun hanya di produksi satu saja.
Flashback off
"Jadi benar gaun itu ada tiga? Anda lah yang memerintahkan untuk membuat tiga gaun?" tanya pengacara dari nona Nafizah padaku
Aku pun menjawab, ''Iya, gaun itu ada tiga dan saya yang memerintahkan untuk membuatnya," kataku pada pengacara.
"Cukup yang mulia hanya itu saja pertanyaan saya," kata pengacara itu.
Hakim bertanya kepada jaksa penuntut, "Apakah ada pertanyaan?"
"Tidak yang mulia cukup," katanya.
Aku pun dipersilakan duduk kembali lalu sidang pun ditutup dan dilanjutkan esok harinya dengan saksi yang lain. Aoku tidak tahu siapa saksi itu, tapi yang kau tahu saat ini, aku pun mengalami masalah hukum perdata dengan Tuan Hardian, mengenai kontrak perjanjian itu.
__ADS_1
Aku melihat Nona Naura saling berpelukan dengan Nona Nafizah kakanya.