Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Penolong


__ADS_3

"Tidak! Akan ku miliki sendiri dirimu. Aku dokter bedah kulit, akan ku ubah wajah mu sedikit dan identitas mu juga. Kau sudah di umumkan mati, aku menukar tubuh dengan wanita lain. Kau tak sadar selama satu minggu, beruntung kepalamu tak membentur batu," jelasnya padaku.


"Terimakasih, aku mau tanya jika orang jatuh dari ketinggian dan membentur batu atau kaca, apa bisa koma dalam waktu lama?" tanyaku pada peter


''Tidak bisa di prediksi, kenapa? Siapa yang jatuh?" tanya Peter


"Tidak aku hanya ingin tahu jika kepala ku terbentur batu, apa bisa koma lama," katanya padaku


Peter tertawa. "Kau bahkan bisa mati seketika itu."


"Maukah kau menolongku sekali lagi. Ada orang yang harus ku tolong dan ku selamatkan, maukah kau membawa ku ke Indonesia, setelah aku sembuh?" tanyaku padanya.


"Ya, aku akan membawamu ke sana sebagai nyonya Peter.''


"Berapa lama perbanku harus di buka?'' tanyaku.


"Satu bulan," katanya padaku.


(Pov Nafizah)


Di saat malam tiba, aku termenung. Pertemuan dengan papi tadi siang membuatku teringat akan peristiwa bertemu dengan keluarga barunya dengan sangat meyakitkan.


Aku kecewa pada papi, ku lepaskan pelukannya dan berlari ke mobil ku.

__ADS_1


Papi menggedor pintu dan jendela. Namun tak ku hiraukan kulajukan dengan kecepatan tinggi. Aku terkejut saat didepan ada mobil berhenti dengan cepat aku menginjak rem dan memejamkan mata, pasrah apa yang akan terjadi.


Berapa lama aku memejamkan mata, tak kudengar suara benturan namun ketukan dari jendela. Aku membuka mata, ternyata mobil ku nyaris terbentur berjarak beberapa centi saja. Aku menoleh ke jendela ternyata mas Hardian.


Kubuka pintu mobil ku, di menatapku sendu. ''Geser!" perintahnya padaku.


Aku menggeser dudukku lalu dia pun duduk didepan kemudi, mengemudikan mobil ku. Dia tidak bertanya kenapa aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi dan menangis.


Tak berusaha menyentuh jemari tanganku untuk menguatkanku. Dia terus mengemudi tak tahu di bawa kemana. Hingga adzan magrib berkumandang diapun berhenti di sebuah masjid.


"Kita sholat dulu," katanya sambil melepas sabuk pengaman.


Ketika akan keluar dia menoleh kepadaku. "Kamu sholat, 'kan tidak lagi itu?" tanyanya padaku.


Aku mengangguk sambil melepas sabuk pengaman ku, dan keluar bersama dia. Aku masuk di bagian putri.


Ketika ia melihat ku dia tersenyum. "Maaf sedikit lama, di ajak ngobrol sama Bapak-Bapak di situ. Ayo kita berangkat!" ajaknya sambil berjalan sedikit pelan mengimbangiku. Kami pun masuk ke dalam mobil.


Setelah mengenakan sabuk pengaman, Mas Hardian menjalankan dengan kecepatan sedang, meninggalkan masjid. Di dalam mobil kami tak ada pembicaraan.


Hingga akhirnya dia pun mengajak bicara denganku.


''Aku nggak akan tanya Naf. Kenapa kamu mengemudikan mobilmu begitu kencang sambil menangis? Tapi jika kamu bercerita padaku, akan ku dengarkan," kata Mas Hardian padaku.

__ADS_1


Aku pun bercerita tentang pertemuan ayahku dan keluarganya, semuanya kuceritakan padanya. "Aku kecewa. Dia sama sekali tak mencariku dan tak menjengukku. Setiap kali aku akan berdiri di pintu berharap dia datang dan aku teriakan, 'Papi!' dan memeluknya erat, tapi tak pernah terjadi."


Ketika aku selesai bercerita mobil berhenti di sebuah pondokan sederhana dengan halaman yang sangat luas, kalu Mas Hadian berkata, ''Kita sudah sampai satu bulan yang lalu, aku bergabung di sini. Di sebelah sana adalah pondokan wanita, yang sebelah sini adalah untuk para pria.''


"Di sini banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya, bahkan mereka tidak dapat bertemu sama sekali. Karena orang tua mereka sudah meninggal. Kesepiannya seumur hidup. Kau harus bersyukur Naf, masih bisa bertemu dalam situasi yang buruk setidaknya keinginanmu untuk dipeluknya sudah tercapai, bukan begitu?'' jelasnya padaku.


"Iya, Mas kau betul," kataku padanya


"Aku tidak bisa meredakan kesedihan mu dengan memelukmu. Karena untuk itu kata Abah harus menikahi mu dulu. Itu sebabnya aku kemari, supaya Umi mewakilkanku," katanya sambil terkekeh, aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Di belakang pondok ini ada air terjun yang sangat indah, kita menginap di sini baru besok pagi kita kesana," lanjutnya padaku.


Terlihat olehku dua orang paruh baya wanita dan laki-laki berjalan menuju ke mobil kami. Mas Hardian pun keluar dan mengajak sedikit menjauh dariku, nampak mereka menganggu-angguk lalu dia berjalan kemari.


Aku pun keluar dari mobil dan menyambut wanita parubaya itu, "Assalamualaikum, Umik," ucap pada wanita paruh baya ini


"Wa'alaikum salam, dengan Nak Nafizah?" tanyanya padaku


"Betul Umi," kataku padanya.


"Mari ikut Umi!" ajaknya padaku.


Kami pun berjalan menuju pondokan khusus wanita, lalu beliau mengajakku kesebuah kamar yang sederhana dan luas. ''Tinggal di sini, besok pagi kamu akan lihat keindahan di sini.'' katanya padaku.

__ADS_1


Umik memberiku mukena dan sajadah, "Ayo kita sholat isya berjamaah dulu!"


BERSAMBUNG....


__ADS_2