
Pov Nafizah)
Aku terbangun dari lamunanku yang pajang saat terdengar besi yang di pukul satu kali menunjukkan malam sudah sangat larut, semua terlihat telah tertidur, hanya aku dan seorang yang duduk di sudut ruangan, gadis yang baru saja masuk tadi pagi.
Aku melihat gadis itu menggesek sesuatu, aku tak tahu apa yang digeseknya diantara besi-besi itu, hingga suara gesekan tak terdengar lagi
Aku pun memejamkan mata mulai untuk tidur bersama teman-teman yang lain, namun kembali terjaga saat tangan Kirara yang menyusup di perutku
Ada yang mengganggu pandangan ku pada saat itu. Ada yang menggenang di sudut ruangan. Mataku membuka lebar ketika kukenali itu adalah darah. 'Yaa kapan ada di darah disitu?' batinku berbicara, jantung ku berdetak ribuan kali. Kaki gemetar seakan tak mampu berdiri, kilatan peristiwa itu semakin membuat lidahku keluh.
Kutajamkan pandanganku di sebuah tangan yang terkulai di antara tubuh yang berbaring, dengan luka lebar yang menganga dan darah terus mengalir di pergelangan tangan itu.
Aku semakin ketakutan nafasku tersengal-sengal, dengan terbata-bata ku bangunkan sahabatku. "Ki- Kirara tolong ba-bangun! Dia bunuh diri!" Aku menggoncang tubuh Kirara dengan sangat keras.
Terus ku goncang karena lidah telah keluh dan lumpuh aku tak berani bertindak takut kejadian terulang kembali. Ku goncang sekali lagi sahabat ku itu. "Hem, ada apa?" tanyanya dengan suara serak sehabis bangun tidur.
"Darah, dia bu- bunuh diri.'' Akhinya aku bisa menyelesaikan kalimat yang ingin ku sampaikan pada Kirara.
Gadis itu langsung terbangun dan terduduk lalu melihat arah tanganku yang sedang menunjuk di sudut ruangan kami.
Saat itu suara teriak Kirara menggelegar di ruangan itu. "Woi, bangun! Ada rekan kita bunuh diri!"
Semua orang yang awalnya terlelap terbangun semuanya dan mulai saling berteriak membangunkan sipir wanita yang tengah tertidur. Akhirnya petugas itu pun terbangun dengan suara riuhnya di sel kami.
Gadis itu pun ditolong di bawah ke rumah sakit aku hanya memandang dengan tubuh menggigil, dan menatap genangan darah di sana.
Aku merasa tubuhku di goncang seseorang berkali-kali. Aku seperti di tempat lain suara yang ku dengar justru dari alam sadar ku. 'Dia pembunuh! Dia hanya pura-pura menangis! Dia yang membunuh calon suaminya sendiri! Dia pembunuh!' Lalu terbayang senyum menyeringai dari bibir wanita yang selama ini ku benci.
__ADS_1
Kembali tanganku di goncang, dan suara begitu kerasnya masuk ke telingaku memangil namaku. "NAFIZAH! Sadarlah! Nai tatap aku! Lalu tamparan yang keras di pipiku membawaku kembali sadar.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, semua teman dalam sel menatap ku setelah itu bubar.
Aku memeluk Kirara dan menangis sejadi - jadinya. "Bagaimana dia? Apakah bisa di tolong?" kataku pada Kirara
"Dia sudah dibawa ke rumah sakit," kata Kirara padaku.
''Lihatlah dirimu berkeringat. Kau sangat ketakutan melihat darah, Nai. Tidur lah itu akan melupakanmu!" perintah Kirara
Aku pun tidur di pangkuan Kirara yang membelai kepala ku yang tertutup hijab, hingga aku terlelap dan terbangun saat adzan subuh berkumandang
Aku pun mengambilnya air wudhu dan mulai melaksanakan sholat subuh lalu berdoa dan berdzikir, serta ku buka Al-quran, kulantunkan surat Ar-Rahman
dengan suara merdu ku dan tangisan dalam hati. Merayu Robb-ku untuk menyadarkan hati orang-orang yang dipenuhi rasa benci.
Aku tak pernah tahu kenapa wanita itu sangat membenciku padahal dia lah yang melukaiku, yang mengambil seluruh kebahagiaanku dan sekarang pun mengambil kebebasanku.
Bahkan aku tak bisa lagi melihat kekasih hati yang tergolek lemah di rumah sakit. Setiap malam hanya ku sebutkan namanya, berharap jeritan hatiku sampai kepadanya dan membuat ia tersadar kembali.
Aku sudah menyelesaikan bacaanku ketika matahari benar-benar telah memancarkan sinarnya dengan sangat terang, dan semua penghuni sel sudah keluar serta mulai menjalankan aktivitas sebelum sarapan pagi.
Aku masih duduk di sini karena masih tergoncang dengan peristiwa tadi malam. Aku berharap aku tidak akan terlilit masalah baru lagi dengan gadis yang berusaha bunuh diri tadi malam.
Apa yang membuat dia bunuh diri padahal setelah Kirara menguasai tempat ini perayaan sambutan itu sudah tidak ada lagi.
Tidak akan ada acara peludahan sebagai bentuk penegasan kami pantas diludahi yang dilakukan para tahanan lama terhadap tahanan baru.
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai, sayang?" tanya seseorang yang ada di belakangku sambil mencium pipiku siapa lagi kalau bukan Kirara.
"Ck! Kau ini kebiasaan, Ra," sahutku
"Bagaimana dengan pipimu apa masih sakit? Apa aku terlalu keras menamparmu? Tadi malam aku takut Nai. Kau seperti orang yang hampir gila, kau seperti tak mengenaliku, tatapanmu kosong, aku benar-benar takut," kata Kirara sambil menatapku.
"Semenjak kejadian itu aku takut dengan darah, setiap kali melihat darah dan orang yang terkapar aku seperti melihat kilas balik dari peristiwa itu. Peristiwa yang membuat calon suamiku terluka serta mengganti baju pengantinku dengan baju tahanan," kataku sambil memejamkan mata.
Aku menghelah napas dan menatap Kirara. "Kau tak tahu seberapa sakitnya hatiku saat itu, calon suamiku sendiri yang terluka dan aku tidak tahu siapa yang melukainya serta tak bisa duduk di sampingnya, saat dia membutuhkanku."
"Tapi kau sekarang baik-baik saja kan?" tanya Kirara padaku
"Aku baik-baik saja, Ra," jawabku
"Bibirmu terlihat pucat, rasanya aku ingin mencium bibirmu itu, sayang," kata Kirara sambil menatap bibirku sedikit mendekatkan wajahnya pada ku.
Aku mendorong bahunya hingga terjungkal kebelakang dan jatuh terbaring di lantai. Aku bangun dari dudukku sambil berkata, "Jangan gila kau, Ra!" kataku sambil tertawa.
Kirara tertawa. "Aku suka sekali melihat expresimu tadi." Lalu dia bangun dengan cepat dan berdiri kemudian berjalan mengejar ku.
"Apa kau takut denganku, Nai?" tanyanya sambil berteriak.
"Ya, aku takut gila sepertimu, Ra," kataku padanya.
Dia tertawa. "Jika kau gila, maka kita akan menjadi pasangan gila."
"Aku tidak mau! Carilah yang lain yang lebih gagah darimu," kataku sambil terkekeh.
__ADS_1
BERSAMBUNG....