Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Akhir Cerita


__ADS_3

(Pov Kirara)


Setelah aku bertemu dengan pria aneh itu akhirnya satu Minggu berikutnya sidangku di buka.


Nafizah dan suami serta ayahnya selalu datang mengikuti persidangan ku. Namun tak pernah ku lihat pria yang bernama Angga itu datang.


Sidang terakhir sebelum sidang putusan, dia datang dan hanya bertanya siapa yang bisa menjadi wali nikahku dan aku menjawab tidak ada karena ayahku sudah meninggal dan tak mempunyai saudara sebab ayahku yatim piatu. Setelah itu dia pergi.


Setiap kali aku berfikir apakah keputusanku ini benar walaupun itu adalah hal yang sia-sia saja karena semua sudah berjalan dan pada akhirnya aku harus mengikuti arusnya.


Hingga sidang keputusanku di gelar dan dibacakan aku tak melihatnya. Akhirnya aku diputus bebas dengan mempertimbangkan apa yang ku lakukan adalah pembelaan diri atas niat jahat ayah tiriku.


Setelah sidang putusan aku di seret masuk ke dalam mobil Nafizah, dan sekarang duduk di kursi tengah sambil mendengarkan ocehan gadis pujaanku itu.


"Kamu tidak usah bertanya kemana aku membawamu, ikuti saja perintah kami karena kamu sekarang tahanan kami, katanya sambil tertawa.


Melihat kemesraan mereka, hatiku sakit. Benarkah aku saat ini terjebak dalam krisis identitasku.


Hidupku sangat keras, sedari kecil aku di latih Ayahku berbagai ilmu bela diri, katanya karena dia tidak punya anak lelaki dan adikku tidak berbakat. Itu sebabnya aku harus menjadi pelindung keluargaku.


Sejak saat itu aku menjadi pribadi yang benar-benar kuat, aku menyukai olahraga ekstrim, saat pertama kali aku meminta motor sport dia mengabulkannya.


Aku mulai balapan liar, kekasihku yang akan melecehkanku dan melihatnya berselingkuh. lalu aku kehilangan ayahku secara tragis, setelah kepergian ayah peristiwa-peristiwa yang membuatku membenci pria selain ayahku semakin kuat pacar adikku yang ingin menodainya dan terakhir ayah tiri ingin berbuat sama.


"Kirara kita sudah sampai." Suara Nafizah mengejutkanku dia sudah membuka pintu mobil di sebelah kanan ku. Aku pun turun ternyata ini di sebuah butik.


Kami masuk kedalam, suami Nafi menunggu diruang tunggu tamu.


Mbak Indah memberikan gaun pengantin dengan bawahan celana panjang warna putih dan atasan kebaya yang mekar bagian bawahnya dan berekor belakang sepanjang lutut.


"Loh kok baju model begini si mbak?" tanya Nafizah


Mbak indah tertawa. "Itu permintaan tuan Angga sendiri, suruh bikin baju pengantin yang nyaman buat mbak Kirara."


"Ya sudah gak apa-apa, Mbak. Apa ini harus di pakai sekarang?" tanyaku


"Ya jelas dong Ra, cepetan ganti!" perintah Nafi padaku


Aku pergi ke kamar ganti dan mengganti pakaian ku dengan busana pengantin, kebayanya sedikit membuatku tidak nyaman bagaian dadaku dibuat sedikit sepit dan potongan leher yang rendah serta bagian perutnya yang pas body. 'Kapan dia mengambil ukuran tubuhku,' pikirku.


Aku keluar ruangan dan sedikit protes dengan mbak Indah.


"Ini kok begini sih Mbak, bagian dadanya dan potongan lehernya sedikit kerendahan mbak," kataku pada mbak Indah.


Mbak Indah melihatku dan mengoreksi penampilanku tidak menjawab pertanyaanku malah memuji pria gila yang akan jadi suamiku nanti.


"Luar biasa pak Angga ternyata tahu detail dengan kelebihan tubuh calon istrinya," kekehnya


"Mbak!" panggilku lagi


"Ehh, itu permintaan beliaunya kata pak Angga biar Anda sadar kalau Anda itu cewek, saya juga gak ngerti maksudnya," kata mbak Indah tertawa dan aku hanya memutar bola mataku keatas.


Aku melihat Nafi dari tadi tertawa saja. "Mbak ini gak bisa di perbaiki, bagian ini loh mbak sedikit rendah," kataku pada mbak Indah.


Sudah gak sempat mbak, gak apa-apa ini kalau orang yang jeli saja kelihatan," kata mbak tertawa lagi.


Singkat cerita aku sudah didandani sedemikian rupa dan di bawah ke rumah Tante Kayla.


Entah bagaimana, ketika aku sampai di halaman rumah terdengar dari mikrofon dia mengucapkan hijab atas namaku dengan mas kawin uang sejumlah dua puluh juta rupiah.


Aku langsung dibawa Nafi duduk di sebelahnya, Saat ia melihatku dengan balutan busana pengantin dan dandanan yang menurutku terlalu berlebihan, terperangah dan tersenyum.


Dia mengulurkan tangannya membuatku sadar bahwa aku sekarang istrinya. Aku pun mencium punggung tangannya dan dia menyentuh kepalaku lalu mendoakanku kemudian mencium keningku lama ada desiran aneh dalam tubuhku tetapi tidak ku hiraukan.


Kami pun menandatangani buku nikah, ku dengar dia meminta ijin untuk pergi duluhan, dan membiarkan pesta tanpa kami.


Dia menyeretku keluar dari rumah, dan berjalan menuju kearah motor sport yang sangat familiar buatku aku menoleh ke arahnya. "Kapan kau mengambil ini," tanyaku padanya tapi ia tak menjawab malah memakai helm di kepalaku.


"Bonceng aku anggap saja aku istrimu," katanya terkekeh membuat aku ingin membantingnya saja.

__ADS_1


Aku naik di atas motor sport ku.


dan dia duduk di belakangku melingkarkan tangannya di tubuhku dan meremas bagian tubuh depanku, ada desiran aneh yang membuatku sedikit linglung.


"Ada apa? Kenapa tidak jalan? Apa kau lupa cara mengemudikan motormu karena lama di penjara?" katanya frontal.


"Enak saja, bukan itu,"kataku padanya


"Lalu apa?" tanyanya


"Tangan mu, Pak! Lalu kita akan kemana?" tanyaku sedikit gugup karena dia tidak menghentikan aksinya, dan anehnya aku malah tidak bisa berkutik.


Dia tertawa. "Begini saja kau sudah lupa cara mengemudikan motor, apalagi yang lainnya, ayo berangkat! Nanti aku kasih tahu jalannya," katanya sambil merubah pegangan tangannya di perutku, sambil menuturkan arah yang harus ku ambil.


Aku pun melesat dengan kecepatan penuh, tak butuh waktu lama akhirnya kami sampai di hotelnya, dia mengajakku ke ruangan kerjanya dan saat ini aku duduk di ruangan ini, bosan melihatnya bekerja, sementara makanan yang disediakan untukku sudah habis, aku mulai mengantuk lalu kurebahkan tubuhku ke sofa, dan mulai terlelap.


Aku merasa sengatan di bibirku dan tanganku reflek akan memukulnya tetapi tak kusangkah ia lebih sigap menangkap tanganku. bibirnya masih beraksi di bibirku hingga beberapa lama lalu melepaskannya.


"Ku kira kau bisa berciuman ternyata tidak bisa," kekehnya


"Ku pikir kau sudah mengidap krisis identitas ternyata masih gejala, Bagaimana? Indah bukan caraku membangunkan mu. Sana ambil wudhu kita sholat dulu," katanya.


Aku tak menyahut, hanya mengerutu dalam hati, sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah selesai sholat dhuhur dia memesan makanan dan entah apa lagi karena di atas meja ada paper bag tidak tahu isinya apa.


"Kalau kau gerah pakai baju itu aku telah belikan baju untukmu pakailah," katanya sambil menunjuk paper bag.


Aku pun mengambil paper bag itu dan membawanya ke kamar mandi, tak lama kemudian aku kembali dengan gaun terusan warna krem sebatas bawah lutut aku berjalan ke arahnya dan dia mengulum senyum mungkin menertawakan cara jalanku.


----------------


(Pov Angga)


Sehabis sholat isya kami pun pulang, saat ini aku lah yang membawa motornya tanpa bicara ku raih tangannya untuk kulingkarkan di perutku.


Aku memacu dengan kecepatan penuh dia tak menyangka aku juga bisa melakukan hal yang sama dengannya, Kami pun sampai dalam waktu sekejap


Setelah itu sholat dua rakaat aku memberikan doa padanya dan berdiri lalu berkata, "Aku sudah menyiapkan arena untuk kita bertanding, lihat di sini ruang kosong karena ku pikir malam pertama kita tak akan bisa lembut layak pasangan lainnya." Aku tertawa.


"Apa malam pertama?" tanyanya


"Kenapa, takut?" tanyaku sambil berjalan ke arahnya


"Bapak jangan macam-macam yaa! Saya bisa banting bapak," katanya sambil mengambil ancang-ancang


"Oh, yaa, Aku ingin merasakan bantinganmu," kataku terus berjalan kearahya


dia mulai menyerang, tapi bisa ku tangkis dengan sangat mudah, Aku banting kebawah dengan lembut kedua pergelangan tangannya kukunci dengan satu tanganku lalu kakiku mengunci kedua kakinya. satu tanganku melucuti pakaiannya, aku mulai menyerangku di titik kelemahannya, hingga terbuai dengan sentuhanku.


Bahkan sekarang aku sudah di atas tubuhnya dengan tubuh yang polos ku gunakan seluruh inderaku untuk membuainya dia benar-benar tidak berkutik hingga aku memasuki tubuh terindahnya terasa sulit kuhentakan tubuhku dan dia bereaksi akan menyerangku ku kunci kembali tangannya setelah perlahan aku masuk semakin dalam lalu aku berhenti dan ku bisikan sesuatu yang membuatnya melunak.


"Aku dititipi seorang sahabat bernama Galih untuk menyadarkan putrinya yang menurut dia telah salah mengasuhmu , tak kukira ternyata dirimu lah putrinya dan hanya ini yang akan menyandarkan mu bahwa kau adalah wanita Kirara," kataku sambil bergerak liar tanpa disadarinya ia pun mulai melenguh, di bibirnya keluar nyanyian Indah.


"Percayalah aku menghormatimu dan meninggikan mu," bisikku padanya lalu aku mengerang mencapai puncak ku begitu pula dia. Cairan hangat membasahi rahimnya dan ku ucapkan doa ke baikan untuk calon keturunan kami.


Aku melepaskan tautanku dan berbaring di sebelahnya.


"Kau kenal ayahku?" tanyanya.


"Hem," jawabku karena lelah menaklukannya.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Luar biasa rasanya nikmat sekali," kataku menggodanya.


"Bukan itu, Ayahku bagaimana kau bisa bertemu dengan Ayahku?" katanya sambil memukul dadaku.


"Aku mengantuk, Ra. Kau tahu, aku begitu menguras tenagaku untuk meneguk madumu," kataku sambil terkekeh.

__ADS_1


"Jangan tidur dulu! Ceritakan padaku!" pintanya sambil menatapku


"Peluk dulu aku baru mau bercerita," kataku sambil menatap wajahnya


Dia memiringkan tubuhnya kearah ku lalu memelukku, "Sudah cerita lah!" perintahnya tidak sabar.


"Baiklah," kataku


"Dua tahun lebih yang lalu, ada dua pria yang berbeda usia dan sama-sama terluka hatinya datang ke club, untuk minum-minum. Namun malah berubah haluan menjadi mengajak berkelahi serta bertaruh. Jika dia kalah, akan membiarkanku minum. Menungguku dan mengantarkan pulang, jika aku mabuk. Kalau dia menang, maka aku harus menyadarkan putrinya yang hampir gila karena penghianatan dan salah asuhan darinya, lalu aku kalah, kemudian dia mengajarkanku jurus yang tadi," kataku terkekeh, wajah merona karena malu.


"Ayahku kenapa?" tanyanya


"Ibumu selingkuh dengan asistennya dan di pergoki hari itu juga, sudah lupakan lah! Ayo tidur!" kataku memeluknya dengan erat.


(Pov Mirna)


Setelah aku sembuh dari lukaku dan menikah dengan Peter aku kembali ke Indonesia. Namun aku terlambat, Nafizah sudah bebas dan Naura juga dalam keadaan aman, aku mengikuti mereka dengan mobil yang di sewa suamiku untuk beberapa hari.


Ternyata ada pernikahan, aku meminta suamiku berbelok arah. "Tidak jadi menemui mereka?" tanya suamiku.


"Tidak besok saja," kataku padanya.


Keesokan harinya kami datang sekitar jam sebelas masih ada acara, aku tidak berani menemui mereka, apa lagi Hardian melihatku sedikit curiga, kuputuskan kembali masuk kedalam mobil dan meminta suamiku berbalik arah.


"Kenapa?" tanya suamiku


"Kita pulang saja, biarkan mereka bahagia. Toh mereka sudah tidak mengenaliku, ku putuskan untuk menjadi Bellamu saja, kulepas masa laluku bersama tubuh Mirna yang jatuh ke jurang. Mari kembali ke rumah kita!" pintaku.


"Baiklah kalau itu yang kau mau, besok kita berangkat," jawab Peter.


(Pov Nafizah)


Xua bulan berikutnya Bang Angga kembali ke Amerika, aku tengah hamil, selisih dua bulan dengan mami.


Sebelas bulan selanjutnya, Papi menikah kembali dengan mami, setelah melahirkan putra Om Rudi, yang di beri nama Adnan Alfarizqi serta masa Nifas selesai. Sebulan kemudian menyusul Yusuf Naura menikah. Aku pun melahirkan tepat sehari setelah pernikahan adikku.


Seorang putri yang bernama Adeeva Aviqo Shahila hadir di kehidupan kami, dua bayi yang selisih dua bulan itu memberikan warna di kehidupan kami. Papi sangat senang kadang menggendong Adnan lalu berganti dengan cucunya.


"Bagaimana dek Yusuf, apa sudah gol?'' tanya suamiku berkelakar dengan Mas Yusuf yang menikah dengan adikku.


Dia hanya tertawa saja sambil melirik adikku.


Dulu aku memanggil Mas Yusuf karna kakak angkatku dan sekarang harus berubah menjadi adik Yusuf, terasa lucu tapi yaa memang harus begitu.


Setelah anakku berusia dua bulan kami pindah ke mansion suamiku, dan mas Gilang pindah ke apartemen mas Hardian bersama istrinya. Mas Hardian menyuruh menempati apartemennya.


.


.


Lima tahun kemudian, kami berkumpul di rumah Om Rudi, mami tidak mau kembali ke rumah besar itu justru rumah itu sekarang yang menempati adalah Bik sumi, Tini dan Bang Bejo. Bahkan rumah itu menjadi tempat usaha katering mbak Tini sekarang.


Kami berkumpul di ruang tengah beralaskan karpet bulu menu makanan tersaji di bawah Tiga krucaci sibuk membantu mengangkut makanan.


Adnan, Adeeva dan Alzam putra adikku berlarian dari dapur keruang tengah.


Setelah siap kami pun makan bersama sambil berbincang-bincang.


"Papi kapan kita ke makam Ayah Rudi?'' tanya Anand.


"Habis ini, sayang. Kita makan dulu," kata Papi. Adnan pun senang dan meneruskan makannya.


Setelah makan kami pun pergi ke makam om Rudi, setelah berjalan selama 15 menit kami pun sampai sekarang kami duduk di depan nisan bertuliskan Rudi Alfarizqi. Terdengar suara Adnan menyapa.


"Hello Ayah, aku datang lagi sama Papi, mami dan semua keluarga, semoga Ayah bahagia," doa Adnan


Setelah memberikan doa terbaik kami pun pulang, mereka berlarian menuju ke rumah.


Setiap kehidupan selalu ada badai yang siap menghempas dalam sedih dan tangis. Namun ketika tangan di satukan akan terasa ringan.

__ADS_1


Tamat.


Terimaksih buat kalian yg sudah baca karya author🙏🏻😘Jangan lupa mampir di karya author yang lain ya😘😘


__ADS_2