
(Pov Erwan)
Ditengah Akad Nikah Hardian dan Nafizah kami di kejutkan Rudi yang pingsan secara tiba-tiba, Aku dan Gilang langsung menggotong tubuh Rudi kedalam mobilku kamipun langsung pergi ke rumah sakit.
Begitu sampai rumah sakit Rudi langsung masuk ke ruang ICU.
Aku meminta semua pulang agar tidak terlalu ramai dirumah sakit.
Tak lama kemudian Bejo datang membawa makanan
"Loh, kemana yang lainnya tuan," tanya Bejo
"Ya, sudah tak suruh pulang, Jo?"
"Terus ini bagaimana Tuan? Saya bawa banyak," kata Bejo.
"Sudah kasihkan sama yang nunggu pasien, juga gak apa-apa Jo," kata Erwan
"Oh, yaa, terimakasih, Tuan," ucap Bejo sambil berjalan memberikan makanan pada orang yang ada di rumah sakit setelah meninggal dua kotak untuk Tuan dan Nyonyanya lalu ia pun pergi meninggalkan rumah sakit.
"Mi, makan dulu, kamu belum makan dari tadi, loh. Kalau kamu sakit bagaimana? Aku bilang apa sama Rudi?" kata Erwan mengarahkan sendok berisi makanan kearah mulutnya.
"Ayo lah, Mi!" pinta Erwan akhirnya mau tak mau dia pun mau membuka mulutnya.
Aku dengan telaten menyuapi mantan istriku itu hingga makanan dalam kotak akhirnya habis. Aku menghela nafasku, menatap Kayla tampak kuyu.
Aku membuka makananku dan mulai menyuapkan makanan dalam mulutnya hatinya begitu terasa berat, melihat orang yang di cintai dalam keadaan terpuruk.
Setelah selesai aku mengisi perut, aku menemui dokter yang merawat Rudi selama ini.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanyaku
"Sebenarnya tubuhnya sudah tak bisa menerima kemoterapi lagi,
kondisinya sudah mulai menurun sekitar satu bulan yang lalu," kata Dokter padaku.
"Apa istrinya tahu kondisi?" tanyaku lagi
"Tidak, Tuan Rudi untuk merahasiakan kondisinya," kata Dokter tersebut.
Aku menghembuskan nafasku dengan kasar. 'Apa yang akan ku katakan padanya?' batinku
"Mi, Ayo sholat dulu, doakan suamimu lekas sembuh,"kataku padanya. dia hanya mengangguk lalu berjalan mengikutiku menuju mushola rumah sakit.
Kami pun mulai melaksanakan sholat dhuhur. Setelah selesai kami pun kembali ke ruang ICU.
Waktu kami sampai aku melihat seorang pria muda seusia Rudi
Dia menoleh ke arah kami lalu menghampiri kami lalu menyapa mantan Istri ku.
"Nyoya Kay, maaf saya baru datang," katanya
"Tidak Apa-apa Dokter Arseel," katanya dengan senyum yang di paksakan.
"Maaf Anda siapanya Rudi tanya pada pria itu?" tanyaku pada pria itu.
"Aku Dokternya juga saudaranya yang di Surabaya, Dokter Arseel," katanya memperkenal diri.
"Erwan, bisa bicara dengan Anda?" kataku padanya.
"Tentu, Mari ikut saya," kata Dokter Arseel.
"Mami, duduk saja tunggu di sini!" kataku dan Kaila mengangguk
"Sebenarnya kondisinya bagaimana? Kata Kay baru stadium Awal, kenapa keadaannya semakin parah?"
"Sebenarnya kondisinya sudah mulai menurun waktu di Surabaya, tapi dia gak mau istrinya tahu kalau dia sudah dalam keadaan parah, aku juga pada saat itu juga gak tega mau ngomong yang sebenarnya," kata Dokter Arseel.
"Apa gak bisa di usahakan lagi, Dok?" kataku padanya.
Dokter Arseel hanya menggeleng.
"Baiklah terimakasih dok," kataku sambil pergi kembali menemani Kaila di kursi tunggu di luar ruangan.
kulihat Yusuf datang aku segera melambaikan tanganku, ia pun mempercepat langkahnya ke arahku.
"Ya, Papi, ada apa?" tanya Yusuf
"Tolong tanya apa ada kamar bisa disewa yang dekat ruang ICU!"perintahku padanya.
"Baik, Pi," jawabnya sambil berjalan pergi. Setengah jam kembali Yusuf datang membawa kabar.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanyaku
"Ada tuan di sana," kata menunjuk suatu kamar, lalu mendahului dan membuka kamar itu.
"Mi, ayo kesana, istirahat di seni lihat wajahmu pucat," kataku padanya sambil menuntun keruangan yang berdekatan dengan ruang ICU.
"Diapun tak keberatan, ia pun masuk dan beristirahat di dalamnya, dan aku pun keluar duduk di kursi tadi.
Aku pun berbincang dengan Yusuf, hingga larut malam,
Aku tidur di kursi di mana aku menunggu tadi.
Malam semakin larut belum ada kabar tentang Rudi, keadaan masih sama saat kami bawa di sini.
Aku menyalakan sebatang rokok untuk mengusir keresahan. Malam semakin larut dan dingin aku dan Yusuf tidur di kursi tunggu hingga adzan subuh terdengar, aku pun membangunkan Kayla untuk sholat subuh, lalu kami bertiga pergi ke mushola masjid.
Setelah selesai kami kembali dan Dokter Arseel menghampiri kami.
"Rudi sudah sadar ingin berbicara pada kalian," katanya pada kami.
"Baiklah," kataku pada Dokter Arseel.
Kami masuk kedalam ruangan dengan pakaian khusus lalu berdiri di depan ranjangnya dan dia mulai berbicara.
"Mami harus menurutiku, yaa?" tanyanya sambil menatap Kayla dan dia mengangguk.
"Setelah kepergianku, menikahlah dengan Tuan Erwan kembali, agar Mami ada yang menjaga dan aku pun tenang meninggalkanmu di sisi orang yang menyayangimu," kata Rudi
Aku ingin denganmu Rud," kata Kayla.
Rudi masih bisa tertawa walau keadaan lemah. "Aku juga ingin bersama mu, Mam. Siapa yang gak suka hidup dengan wanita secantik dirimu? Akan tetapi waktu tak mengijinkan kita dan aku tak akan ridho jika kau hidup sendiri, Mam," kata Rudi
"Tuan Erwan tolong jaga dia untukku jika dia ternyata hamil." dia terkekeh sebentar. " Aku sangat ingin memiliki anak dengannya, dan jika Allah mengabulkan keinginanku maka jagalah dia dan sayangi dia seperti anak Anda sendiri," katanya padaku.
"Tentu aku akan menjaganya seperti anakku," kataku padanya.
"Trimakasih," ucapnya padaku.
"Mam, aku ingin tidur, maukah membelai kepalaku?" pintanya pada Kayla.
Kayla mengangguk dan membelai rambut yan mulai menipis karena rontok, ku dengan ia melafalkan kalimat tauhid. Lalu memejamkan mata tak lama kemudian ia terlelap. Namun, ada yang terasa janggal tubuh semakin dingin dan tak terdengar tarikan nafas atau dengkuran orang tertidur, aku memanggil Dokter Arseel kemudian dia pun memeriksanya.
"Inalilahi wainalilahi rojiun," ucapku mengiringi kepergiannya.
Tidak ada teriakan menyebut nama suaminya hanya air mata yang menetes dan tangan terus membelai kepala Rudi hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan aku menangkapnya dia pun pingsan dalam dekapanku aku membopongnya ke kamar yang kami sewa dan membaringkannya di sana.
Dokter Arseel memeriksanya "Sepertinya Dia sedang hamil dan juga terlalu kecapean, setelah pemakaman periksakan dia ke dokter kandungan, dia ingin di makamkan di sini agar kalian bisa sering menjenguknya," kata dokter Arseel.
Aku menyuruh Yusuf untuk mengurus kepulangan jenasahnya. sementara aku menelpon Hardian dia menunggu agak lama beberapa kali melakukan panggilan akhirnya di jawab juga aku mengabarkan kepergian Rudi pada menantuku itu.
Semua urusan sudah selesai, mobil Ambulance pun telah siap
Jenazah Rudi telah di masukan dalam mobil Ambulance, sementara itu aku menggendong Kayla masuk kedalam mobil, lalu aku masuk dan mengemudikan dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman mendiang Rudi.
(Pov Hardian)
Setelah solat subuh aku mengulang momen kemesraan dengan istriku di ranjang, aku larut dalam sebuah kenikmatan yang halal, kami saling menyentuh tak hanya raga kami tapi hati kami.
Aku mendatangi istriku dengan gairah cinta menggebu tatapan saling beradu ciuman lembut mewarnai cinta kami saling berbalas satu dengan yang lainnya anggota tubuh yang lain ikut bermain memberikan rasa yang semakin mendalam memasuki kembali celah terindah dari tubuh istriku menari di antara nyanyian merdunya, beberapa kali telpon berbunyi tak ku hiraukan hingga tertuntaskan dan aku kembali menyemai kembali rahim istriku.
Tanpa melepaskan tautan aku mengambil handphone yang tak jauh dari jangkauan tanganku.
Ternyata papi mengabarkan om Rudi sudah meninggal. aku melepaskan tautanku dan mencium keningnya.
"Inalilahi wainalilahi rojiun," Om Rudi sudah meninggal, Naf. Kita mandi bersama kau di bathub dan aku di shower, biar cepat selesai dan kita segera pergi ke rumah mami.
Kami pun segera membersihkan tubuh kami, setelah selesai kami segera berganti pakaian, aku menelpon Gilang agar segera menjemput kami dari hotel menuju ke rumah mami Kayla.
Kami segera check out dari hotel dan menunggu Gilang menjeput kami, setengah jam kemudian Gilang pun datang kami segera masuk kedalam dan duduk di bangku tengah tak lama kemudian mobil berjalan meninggalkan hotel.
Perjalanan selama satu jam akhirnya tiba di rumah mami kayla yang sudah dipadati orang-orang yang sedang melayat.
Jenazah ternyata baru datang dari rumah sakit 15 menit yang lalu aku, Gilang dan Angga segera membantu memandikan jenazah.
Setelah jenazah di mandikan dan dikafani lalu disholatkan, kemudian dibawa ke pemakaman kami membatu memasukan jenazah di liang lahat, setelah prosesi pemakaman selesai kami memutuskan pulang papi memeluk mami Kaila memintanya untuk pulang tapi mami belum ingin pulang. Nafizah mencoba membujuk Maminya akhirnya dengan langkah gontai mami mau diajak pulang.
Kami berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Sesampainya di rumah suasana duka masih terasa.
Aku juga Nafizah mencium punggung tangan umi dan Abah yang baru saja sampai di antar seorang santri, kami berbincang-bincang hangat, terlihat Papi baru keluar dari kamar mami, karena mami pingsan lagi dan papi menggendong mami serta membaringkan di ranjangnya.
Papi menghampiri kami menyalami umi dan Abah.
__ADS_1
"Abah, Kayla hamil, almarhum memintaku menikahinya, setelah masa Iddah, masalahnya aku tidak tahu berapa hari masa Iddah orang yang tengah hamil," tanya papi pada Abah.
"Kalau seorang janda cerai hidup atau meninggal dalam ke adaan hamil tidak boleh dinikahi. Setelah melahirkan dan selesai masa nifasnya kamu boleh menikahinya," kata Abah
Papi menghela nafas panjang. "Kalian harus tinggal di sini menjaga Mamimu. Papi tak tega membiarkan mamimu sendirian di sini.
"Baik kami akan tinggal di sini menjaga, Mami. Papi gak usah kawatir, aku akan menjaga Mami dan juga Nafi," kataku pada Papi.
"Trimakasih Har," ucap Papi padaku
"Sama-sama, Papi," kataku pada Papi.
Setelah berbincang-bincang Abah dan umi pamit pulang, aku mengantarkan mereka hingga di luar halaman saat aku mengikuti lajunya mobil umi dan abah aku melihat pria dan wanita paruh baya melihat ke arahku setelah itu masuk kedalam mobil dan pergi begitu saja.
Angga dan Gilang masih berbincang-bincang dengan Papi, Nafizah menghampiri mereka, aku pun demikian. Saat berkumpul seperti itu, Nafizah meminta pertolongan agar Angga mau menolongnya terlepas dari hukum karena Kirara pada saat itu sedang membelah diri dan berusaha menolong adiknya yang akan di rudapaksa oleh ayah tirinya.
Angga pun menyanggupinya.
Nafizah memberikan penjelasan secara komplit pada Angga siapa Kirara. Angga mulai tertarik dengan kehidupan Kirara begitu pun papi merasa hutang budi gadis itu maka papi ingin menyediakan pengacara yang bagus untuk gadis itu.
Angga dan Gilang berpamitan pulang Angga mengantar Gilang sampai ke mansion Hardian di mana selama ini Gilang tinggal karena mobil di tinggal di rumah mami Kayla. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju apartemen.
----------------
(Pov. Angga)
Tiga hari kemudian Aku pun memutuskan untuk datang ke lapas menemui Kirara.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Aku meninggalkan apartemen menuju lapas.
Setelah masuk lift dan melewati lobby lalu ke area parkir, Aku masuk dan duduk di belakang kemudi serta melesatkan mobil dijalan raya selama satu jam perjalanan akhirnya Aku sampai di lapas lalu menemui petugas lapas untuk bisa bertemu dengan Kirara.
Aku pun duduk di sofa ruang tunggu sambil memainkan handphone-nya. Tak lama kemudian, suara seorang gadis terdengar di telingaku membuyarkan fokus ku pada handphone ku.
"Apa Anda mencariku? Ada perlu apa?" tanyanya padaku
Aku mendongak dan terpukau melihat kecantikan Kirara, timbul jiwa petualangannya untuk menaklukkan gadis lesbian ini.
"Duduk lah dulu agar bisa berbicara dengan santai," kataku padanya.
Dia pun duduk, setelah dia duduk aku ulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya. Dia pun menjabat tanganku
"Namaku Angga Pramuda." masih dengan menjabat tanganku dia sebutkan namanya. "Kirara Galih."
Aku terkekeh. "Namamu gagah sekali."
"Itu nama Ayahku," jawabnya ketus.
"Aku tertawa lagi. "Ku kira kau suka di panggil dengan sebutan yang sangat gagah," jawabku belum melepaskan jabatan tanganku padanya.
"Sampai kapan kau melepaskan jabatan tanganmu padaku?" kata Kirara
"Sampai selesai Akad," kata ku padanya.
"Maksudnya?" tanya dengan expresi kaget
Aku tertawa keras lalu melanjutkan kalimatku. "Aku memberimu penawaran, akan ku bantu kau sampai bebas dari penjara dan ini tidak gratis," kataku padanya.
"Aku tidak punya uang untuk membayarnya," jawabnya.
"Bayar dengan hidup mu," kataku dengan serius.
"Maksudnya?" Dia bertanya lagi
"Menikah denganku aku orang yang sedikit gila. Ku rasa cocok denganmu yang benar-benar gila," kataku padanya membuatnya terbengong.
Aku mengerak-gerakan tanganku. "Bagaimana? Deal?" kataku
"Apa gila dengan ku?" tanyanya padaku.
"Sudah ku bilang dari awal aku pria yang bagaimana?" tanyaku.
"Jangan lama-lama, segera putuskan! Tidak ada tawaran yang lebih menarik dari tawaranku ini," kataku padanya
"Baiklah, berarti aku hanya tukar tempat saja ini, setelah aku bebas dari sini aku akan menjadi tahanan mu seumur hidup," katanya padaku
"Betul tapi tempat yang ku tawarkan padamu lebih mengasikan dan akan memacu adrenalinmu, dan menantang jiwa gagah mu itu, aku ingin tahu seberapa gagahnya dirimu," jawabku padanya.
"Ok! kita deal! Dari tadi kau meledekku saja," katanya
"Deal! Aku sedang memujimu bukan meledekmu," kataku.
__ADS_1