Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Jadian


__ADS_3

Pov Gilang)


Pagi hari aku sudah berangkat menuju kantor karena pekerjaannya sangat banyak saat ini Mira adalah sebagai sekretarisku


Semua urusan yang menyangkut perusahaan menjadi wewenang ku untuk memutuskannya, ada yang menerima kerjasama atau tidak itu aku yang mengurusnya.


Perusahaan juga begitu banyak tawaran kerjasama hari ini, aku ada meeting keluar menemui klien di perusahaan X. Aku pun berani meninggalkan kantor untuk menemuinya di hotel.


Aku udah menemui klien di hotel tersebut bersama Mira kami berdiskusi bicarakan soal kontrak kerjasama dan lain sebagainya hingga siang hari. Setelah itu aku pun mengajak Mira untuk ke restoran.


Selama ini aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita itu sebabnya Ketikah tuan Angga menyuruhku untuk mendekati Mira rasanya seperti tidak mungkin karena aku tidak pernah bermanis-manis dengan seorang wanita untuk memulai nya saja rasanya aku bingung.


'Ah! Aku harus bagaimana untuk bisa mengetahui apakah Mira terlibat atau tidak,' pikirku.


"Apakah kau bisa membantuku untuk mengerjakan ini segera? Mungkin hari ini kita akan lembur, Apa kau tidak keberatan?" tanyaku


"Tidak Pak kalau memang ini harus diselesaikan segera, saya bersedia lembur," kata Mira.


"Terima kasih ya karena proyek kita itu banyak jadi saya butuh tenaga mu untuk mengerjakan ini, kalau saya semua bisa jadi besok saya akan pingsan kerena terlalu banyak," kataku padanya


Mereka pun mulai mengerjakan file -file yang ada di kantor sambil bertanya tentang bertanyaan tentang keluarga Mira.


"Mir, kamu ini anak nomor berapa Mi?'' tanyaku.


"Saya anak nomor satu pak jadi saya itu menjadi tulang punggung bagi adik dan orang tua," kataku


"Berapa adik mu Mir?" tanyaku


"Saya punya adik cuma satu pak itu pun masih kecil dia itu masih lima tahun dan yang mengasuh adalah nenek orang tua saya itu sudah meninggal," kata Mirna.


"Selama ini gaji kamu dapat cukup kan Mir kamu tidak merasa gajinya kecil kan," tanyaku


"Cukup pak gaji saya cukup untuk kehidupan saya. Gaji di sini besar sesuai dengan pekerjaan saya. Kenapa Bapak tanya?" tanya Mira.


"Kalau gajinya nggak cukup daya bersedia untuk menambah gajimu secara pribadi," kataku pada Mira


"Jangan pak! Saya nggak enak sama pacar bapak saya ke saya," kata Mira


"Saya tidak punya pacar kalau saya pingin kamu jadi pacar saya apa kamu mau?" tanyaku tiba-tiba punya nyali untuk menyatakan perasaannya pada Mira.


Dari hatiku ataukah karena kepentingan lain tapi entahlah saat ketika aku mengatakan itu hatiku bahagia.


"Beneran nih Bapak cinta sama saya? Tapi lucu saja, Bapak menyatakan cinta sambil bekerja. Harusnya bapak itu bawa saya ke restoran, walaupun tidak di restoran rumah makan," kata Mira.


Aku pun terkekeh. ''Nggak papa Mir, kamu jawab dulu deh rumah makannya belakangan." ujarku.


"Beneran nih bapak cinta sama saya? Ingin tahu jawaban saya apa? Saya suka sama bapak," tanya Mirna.


"Ya jelas dong Mira saya ingin tahu jawaban kamu. Sebenarnya kamu mau nggak jadi pacar saya?" kataku


"Bapak pengen tahu perasaan saya? Napak nggak bohong, Bapak suka saya?"tanya Mira.


"Ayo dong Mir jawab! Saya nunggu jawabanmu kelamaan jadi sakit perut Mir," kataku pafa Mira


"Bapak ternyata lucu ya berkebayang nih wajah serius tapi ngomongnya lucu," jawab Mira

__ADS_1


"Saya sebenarnya cinta sama Bapak dari dulu, cuman Bapak kan kayaknya nggak perhatikan sama saya. Jadi saya gak berani ngomong, lagi kan Bapak atasan saya juga, mana berani saya Pak," kata Mira


"Jadi bener kamu juga cinta sama saya? Wah ... saya senang. Jadi kalau saya menyatakan ulang di rumah makan, kamu pasti terima kan kamu udah bilang suka?" tanyaku pada Mira


'Waduh ini aksi menjerat jadi ke jarat nih, gimana dong,' kataku dalam hati


"Awas ya Pak kalau bapak bohong pasti Bapak saya kejar kemanapun," kata Mira


"Jadi alasan bapak untuk memberi saya lembur itu mau nyatain ini ke saya ide Bapak boleh juga, sayangnya nggak romantis,"kata Mira


"Romantisnya besok-besok aja Mir kalau di restoran di sini mana bisa romantis," kataku pada Mira


"Bisa Pak di sini juga bisa romantis. Bapak mau tahu gimana romantisnya, saya kasih tahu ya pak."


Tiba-tiba saja melepaskan tiga kancing kemaja atasnya. Lalu dia bangun dari tempat duduknya berjalan ke arahku, dengan kemeja yang menampilkan belahan dadanya membuatku jadi berkeringat.


'Ah gila kau Angga. Gimana jadinya menjebak jadi terjebak? Besok pagi kalau gue sampai gak perjaka loh tanggung jawab ya Ga,' kataku dalam hati.


"Karena kita sudah jadian saya panggil mas Gilang aja ya Mas," kata Mira


Sambil duduk di pangkuanku dia mulai membuat file-file jemari tangannya begitu lincahnya mengetik di tust komputer


''Mas Gilang kok diam saja sih?" kata Mira, padaku bingung.


"Lah pekerjaan, 'kan sudah kamu kerjakan mir," kataku mulai gelisah


"Lah Mas Gilang, 'kan sudah saya kasih komputer yang lain punya saya masa didiamkan," kata Mira tertawa.


Membuatku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


''Mir sebentar ya, saya ada telepon nih kerjakan dulu saya angkat telepon ini dulu yaa," kataku padanya.


Aku segera menelpon Angga. Tak berapa lama kemudian, diangkat, "Ada apa?"


''Kamu ke sini dong! Aku kejebak nih," kataku sambil melihat situasi


"Kejebak gimana, aku gak paham," kata Angga


"Itu tadi gue nyatain cinta sama tuh Mira.


Respon jadi luar biasa pakai ngeluarin bom, mana besar-besar lagi. Aku jadi bingung, Ga. Tolong kamu ke sini!'' jawabku


Saat Gilang masih sedang menelepon, Mira memanggil bahkan menghampirinya.


"Gimana Ga?" tanyaku


"Ya tinggal lo kancingin beres," kata Angga terkekeh.


"Sial lo Ga!" umpatku


"Kita gak jadi nglembur, Mir, ada telpon dari rumah sakit, kemeja loh kancingkan dulu deh, gak enak lihat begitu malam-malam," kata Gilang menunggu Mira mengambil tas dari dalam kantor.


"Ayo saya antar kamu pulang dulu ke rumah baru, nanti saya ke rumah sakit ," kata Gilang sambil berjalan dengan lebar, hingga Mira pun harus berlari menyusul langkah Gilang lalu menarik tangan Gilang agar tidak terlalu cepat.


"Katanya Mira pacarnya Mas Gilang kok malah ditinggal begitu aja? Jalannya cepat lagi, kan capek Mas," protes Mira

__ADS_1


"Dengar ya! Mas, mggak suka yang tadi jangan kau ulangi lagi!" kataku.


"Iya, Mira kan cuma goda Mas Gilang," kata Mira


Kami pun masuk ke dalam mobilku melajukan dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian mobil pun sampai di rumah Mira. Dari situ keluar dari mobil Aku masuk ke dalam rumahnya dan lebih besar pun menghilang di malam menuju ke rumah sakit di mana Hardian berada.


Ku menatap sang majikan sambil menciptakan kejadian tadi yang benar-benar membuat dia mati kutu


"Bos kamu kapan bangun sih? Karena kamu coba kalau nggak ada acara untuk mikat orang, nggak akan kejadian seperti ini.''


'Hari ini aku jadian sama Mira karena Anda, coba kalau Anda tidak terluka mungkin hari ini tidak terjadi suatu hal yang membuat saya harus memikat wanita itu. Ayolah Bos bangunlah! Biar kita tidak susah-susah untuk mencari siapa yang menusuk kamu, kamu tinggal bilang siapa, tapi bagaimana kamu bilang kalau kamu coma seperti ini.'


"Bos hari ini saya benar-benar marah jadi kalau Bos nanti bangun saya akan marah sama bos," kataku


"Itu Angga kenapa harus juga curiga sama Mira kan jadinya aku harus pura-pura suka.''


'Pakai ngancam lagi. Kalau aku bohong, dia pasti kejadian aku selamanya.'


Hari semakin larut aku pun tidur disebelah majikannya itu merebahkan Badannya di sebelah Hardian.


Malam semakin larut, aku justru tidak bisa tidur karena kejadian tadi di kantor masih membuat dia shock sampai sekarang


Aku keluar dari kamar Rumah sakit Tempat perawatan dia duduk di kursi tunggu hingga melihat bintang-bintang bertaburan di langit, menjadikan membuat hati terasa damai saat cahayanya menyinari kita. Walau sangat begitu jauh dan tak akan bisa memberikan sinar terang, tetap saja di malam hari selalu dirindukan kehadirannya di malam itu.


'Nona, semoga yang saya lakukan tadi akan membantu anda untuk mendapatkan keadilan. Dan saya berharap, kita tidak melakukan apapun. Menurut anda pelakunya semakin meluas bukan malam.'


Setelah puas menghilangkan kegundahan hati, aku masuk kembali ke dalam kamar perawatan lalu membaringkan tubuhku di dekat ranjang majikanku. Kupejamkan mata dan akhirnya aku pun terlelap.


Menjelang pagi bangun aku masuk ke dalam kamar mandi rumah sakit dan membersihkan tubuhku serta mengganti pakaianku yang aku bawa dari rumah, kemudian menemui sang dokter untuk menitipkan dan meminta penjagaan ketat.


Aku berjalan keluar rumah sakit dan menaiki mobilku duduk di belakang kemudi ialu berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman Mira, Terlihat olehku bila mengenakan atasan hem putih serta rok yang ketat dan pendek.


lagi-lagi Aku dibuat shock oleh Mira. "Kamu ngapain pakai itu? Sana ganti! Kalau nggak ganti nggak usah kerja!" kataku menyuruh Mira untuk berganti pakaian yang biasa digunakannya ketika waktu kerja.


Mira pun masuk untuk mengganti pakaiannya lama, kemudian Mira pun kembali lagi dengan balutan selutut hem putih berlengan pendek dan tiga kancingnya di atas dibiarkan terlepas. Aku menghela nafas panjang lalu dengan cepat mengancingkan baju atasan Mira.


Mira pun terkekeh masuk kedalam duduk di sebelah ku. ''Mas Gilang itu bagaimana? Saya itu pakai tadi supaya mas itu kerja semangat, karena tak kasih yang indah-indah, kok malah lari?''


"Kamu itu kalau pakai begini Itu, lebih rapi dan indah. Aku suka yang begini. Aku nggak suka yang kemarin, ngerti kamu Mir!''


"Iya aku ngerti. Aku nurut ndak goda Mas gilang lagi, tapi aku gak janji, kalau gerah ya bakal dilepas kancingnya," kata Mira sambil ketawa.


Mobil terus berjalan menuju tempat kerja mereka aku menggantikannya di area parkir Shaila crops.


Setelah itu mereka pun turun berjalan menuju kantornya dengan melewati masuk ke dalam lift hingga lantai teratas, lalu berjalan menuju ruangan terbesar sekali memasuki ruanganku. Aku pun mulai sibuk dengan file-file yang ada di mejaku. Ku lihat


Mira pun juga sibuk dengan pekerjaannya mengoreksi file-file yang akan ditandatangani nanti.


Setelah sibuk file-file Mira dengan tumpukan file berjalan di mejaku dan memberikan berkas-berkas itu untuk ditandatangani. Setelah itu kami harus menemui klien di sebuah restoran yang tidak jauh dari Shaila Crops. Tak seberapa lama kami pun pergi menuju hotel di mana kami harus bertemu dengan klien.


Mobil pun berangkat dari kantor restoran yang telah dipesan lebih dahulu. Dua orang pria nampak menunggu kami untuk melakukan rapat bersama dalam pengajuan kerjasama mereka yang telah disepakati waktu itu.


Meski keadaan berubah mereka tetap harus menyelesaikan project mereka sampai selesai. Awalnya ketika tahu majikanku mengalami, maka banyak sekali dari mereka yang ingin untuk mudur akhirnya.


Aku berusaha untuk memajukan perusahaan bosku kembali dengan melakukan kerjasama baru yang sama-sama menguntungkan bagi pihak kami dan Mereka.

__ADS_1


Ternyata mereka masih memberikan kepercayaan kepada kami, supaya kami bisa mengelola apa yang diberikan pihak pengelola untuk kami bisa bertahan dalam dunia bisnis. Itu sebabnya aku dengan Mira meyakinkan bahwa perusahaan kita baik-baik saja.


BERSAMBUNG....


__ADS_2