Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Kenapa lama Sekali, Pih?


__ADS_3

Pintu terbuka terlihat Erwan tersenyum dan masuk ke ruanganku tanpa izin padaku, dia langsung mencium bibirku setelah agak lama ia melepaskannya.


"Kau ini, kebiasaanmu tak pernah berubah," kataku sambil memukul bahunya.


"Bagaimana aku bisa berubah, sayang. Bibirmu itu manis sekali hingga membuatku ingin terus menikmatinya sepanjang waktu. Ini akan terus kulakukan, sampai kau mau menerimaku. Andai kau tampar sekalipun aku tetap melakukannya," katanya padaku


Aku tertawa, "Kau selalu saja menggombal."


"Ayo kita pergi!" kata Erwan pada Kayla.


"Ini masih kepagian Er," kataku.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita kita bercinta saja," katanya sambil terkekeh


"Mau ku lempar pakai sepatu hak tinggi ini ya kamu, Mas!'' kataku sambil melotot ke arahnya.


Dia tertawa. "Namanya saja lagi usaha mam, barangkali mau, sudah lama gak nengok punyamu."


Aku cemberut semakin kesini semakin genit dia, ada aja yang di lakukan." "Sudah temani saya makan saja," kataku kepadanya.


"La!" Dia memanggilku


"Aku boleh panggil Mami, kangen dengan panggilan itu," katanya padaku dan aku mengangguk.


Kami pun keluar bersama dari tempat ini lalu masuk ke dalam mobil, Erwan langsung menjalankannya menuju suatu tempat entah aku tak tahu.

__ADS_1


Tak seberapa lama kami sampai di tempat yang tak asing bagiku, tempat ini adalah tempat dimana pertama kali dia mengajakku berkencan.


Kami pun keluar dari mobil berjalan masuk di rumah makan yang berada di dekat air terjun itu. Kami menuju saung yang dekat dengan air terjun. "Kamu duduk dulu disini, saya mau pesan makanan," katanya padaku.


Dia pun pergi sebentar lalu tak lama kemudian dia kembali lagi, dan duduk di depan ku. "Kamu tahu, Mam. Kenapa aku membawa kesini? Karena dulu ketika aku untuk pertama kalinya ingin kencan dengan mu aku mengajak ke sini dan sekarang saatnya aku ingin berusaha kembali dengan mu Mom.''


"Apa kau lupa, kau menjatuhkan talak tiga padaku Er, itu artinya aku tidak bisa rujuk denganmu sebelum aku menikah dengan orang lain," kataku padanya sambil menunduk tajam.


"Ck, aku lupa Mam, menikahlah dengan salah satu pengawalmu, kau pasti tidak diapa-apakan, setelah tiga bulan bercerailah, agar aku bisa menikahi mu, Mam," katanya padaku.


Aku tertawa lirih. "Kau ada-ada saja, Mas," kataku padanya.


"Mam, aku serius, aku ingin kembali padamu, tolong lah turuti kemauan ku!" katanya padaku.


"Nah, gitu loh, Ma, aku, 'kan seneng," katanya padaku.


Lalu kami makan dengan tenang, setelah selesai kami pun memutuskan untuk pergi ke lapas.


Kami, ke keluar dari rumah makan itu lalu masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil pun melaju dengan cepat menuju lapas. Sesampainya di sana kami menunggu di ruang penerima tamu tahanan.


Kulihat dari kejahuan Nafizah berjalan dengan menunduk menuju ke mari aku berdiri dan akan segera menyambutnya begitu juga Erwan. Dengan hati berdebar aku dan Erwan menunggunya.


Ketika sudah begitu sangat dekat ia mendongak dan terlihat terkejut ada isyarat tatapan tak suka ketika menatap mantan suamiku Erwan.


Dia mau berbalik badan tapi Erwan dengan cepat menarik tangan Nafizah dan memeluknya dengan sangat erat. "Tolong jangan pergi maafkan Papi, sayang. Akan Papi perbaiki semua, tolong maafkan Papi," kata Ewan terus memeluknya, hingga terdengar suara Nafizah bertanya, "Dengan apa Papi memperbaiki dan bagaimana? Bukankah Papi sudah punya keluarga baru sendiri?"

__ADS_1


Erwan mengurai pelukannya dan memegang kedua pundak putrinya itu lalu menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Papi sudah pisah dengannya dan akan balik dengan Mamimu, ku mohon jangan benci Papi lagi," katanya pada putrinya itu.


Ku dengar helaan nafas yang sangat berat dari bibir putriku."Duduk, Papi," pintanya pada Erwan.


Erwan pun duduk begitu pula dengan Nafisah putriku. Dia menatap kami saling bergantian, lalu dengan sedikit terdengar gemetar dia pun bertanya, "Apa kalian akan kembali bersama? Apa masih mungkin Pi? Papi ingat talak apa yang Papi berikan waktu itu?" Dia menatap wajah Erwan sambil menyipitkan matanya.


"Papi akan cari cara agar bisa kembali pada Mamimu," katanya pada putrinya sambil menatapnya dengan penuh kerinduan.


"Apa hanya untuk ini saja kalian datang menemuiku?" tanyaku pada mereka.


"Tidak!" jawab kami bersamaan dan putriku itu tersenyum dengan sangat manis.


"Papi merindukanmu dan takut kau menolak Papi, itu sebabnya Papi minta bantuan Mamimu untuk menemani ke sini," kata Erwan sedikit terbata-bata.


"Kenapa baru sekarang, Pi? Kenapa Papi butuh waktu yang lama untuk bisa menyadari semuanya? Andai Papi mau mendengar waktu itu," kata Nafizah


Erwan meraih jemari tangan putriku itu, lalu dia berbicara kembali. "Papi tidak bisa merubah apa yang telah terjadi, tapi Papi akan memperbaiki semuanya, tolong maafkan Papi, sayang."


"Nai, sudah maafkan Papi, Nai hanya kecewa begitu cepatnya Papi mengganti kami dengan yang baru, tapi sudahlah walaupun ku bahas seribu kalipun tak akan ada gunanya, sekarang semua terserah kalian aku hanya ingin kalian bahagia," kata Nafizah pada kami.


Waktu pun sudah habis untuk kami berbincang dan Nafizah akan kembali, kudengar Erwan kembali berbicara pada putrinya, sedikit berteriak karena Nafizah berjalan sudah sedikit jauh dari kami. "Setelah bebas maukah kau kencan dengan Papimu ini, kita akan habiskan waktu bersama berdua, Nak!"


Nafizah menoleh mengangguk dan berjalan kembali meninggalkan kami dengan tetap menatap punggungnya yang mulai jauh lalu menghilang di balik pintu.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2