Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Dasar Curang!


__ADS_3

(Pov Rudi)


Aku memeluk wanita yang selama ini aku kagumi, bahkan aku tak mengira akan mendapatkan tawaran seindah itu dari mantan suami bosku.


Tadi pagi tepatnya aku sah menjadi suami dari Kayla Rianti. Kami berada di kamar yang selama ini di tempati wanita ini. Setelah ke dokter untuk program menunda kehamilan kami pun pulang.


Istriku tak pernah tahu bahwa yang di suntik tadi adalah obat penyubur kandungan. Aku ingin memiliki anak darinya, sedikit bermain curang apa boleh buat tuan Erwan yang menginginkan aku menikahinya.


Setelah sholat isya' aku di kamar ini bersama istriku yang cantik. Umurku yang lebih muda sepuluh dengannya membuatku lebih bergairah untuk segera menyentuhnya.


Beberapa menit yang lalu Istriku menerima telpon dari matan suaminya, saat menelpon aku mengganggunya. Tanganku mulai melepaskan kancing piyamanya, sambil mencium bahu yang putih mulus. Tanganku mulai menyusup diarea yang benar-benar sangat kusukai, dia tertawa manja membuat si penelphon memutuskan sambungnya sepihak wanita itu tertawa.


Dia menoleh ku. "Kau membuatnya marah," katanya padaku.


"Biarkan, Nyonya. Nyonya saya mencintai Anda sejak dulu, bolehkah saya menyentuh Anda sekarang?'' kataku sedikit gugup karena melihat keindahan tubuhnya.


Dia tertawa. ''Kau sudah menyentuhku, Rud."


"Maksud saya lebih dari ini, boleh?" kataku lagi sambil menikmati wajah meronanya karena tersipu pada ku.


Dia mengangguk. "Jangan panggil Nyoya, membuatku merasa seperti bercinta dengan pelayanku."


"Baiklah cantik," kataku sambil melepas seluruh pakaiannya juga pakaianku dan mulai mencumbunya.


Aku mencumbuinya dengan gairah cinta yang menggelora dari leher hingga seluruh tubuhnya, membelainya dengan sentuhan kehangatan. Kurasa sudah saatnya ku masukan senjata kebanggaanku di lembah cintanya.


Suara nyanyian merdu terdengar dari bibir wanitaku, setiap kali terjadi penyatuan. Ku cium bibir indahnya. Aku seperti menemukan surga dunia di diri wanitaku.

__ADS_1


Aku berhenti sesaat melihat wajah kelelahan juga kenikmatan, ''Aku telah menyerahkan keperjakaanku pada mu cantik," kataku padanya.


Dia terkekeh. "Kau sungguh perkasa, hampir 19 tahun lamanya aku tidak disentuh, apa aku bisa mengimbangimu?" katanya padaku.


"Aku yang akan mengimbangimu, karena kau kebahagiaanku," kataku sambil mencumbunya kembali


Malam semakin larut gelora asmara kami pun semakin membara. Aku mengulangnya lagi dan lagi hingga waktu subuh menghentikan aktivitas ku.


Aku masuk kedalam kamar mandi membersikan diri setelah selesai kusiapkan air hangat lalu kutuangkan sabun cair dan aroma terapi, kemudian aku keluar menghampiri istriku yang sedikit terlelap karena kelelahan.


Aku menggendong tubuh istriku yang polos lalu kumasukan perlahan ke dalam bathub dan berbisik, "Mandi dulu dan sholat subuh, sayang."


Masih dengan mata terlelap dia mengangguk. Lalu aku sedikit bermain dengan bagian depan, hingga membuat dia tersentak kaget.


''Rudi!''


Aku mengganti pakaian dengan baju koko dan sarung. Setelah itu, menyiapkan mukenanya dan menunggunya keluar dari kamar mandi.


Kulihat dia berjalan perlahan masuk ke dalam walk in closet dan kembali dengan pakaian yang sederhana tetapi anggun. Ku ikuti gerak langkahnya dengan ekor mataku, lalu dia berjalan menuju shaf yang telah kusiapkan.


Kami pun sholat berjamaah setelah selesai kubantu melepaskan mukenanya, lalu kubaringkan di atas ranjang.


Saat akan menyiapkan sarapan ada telpon dari ponsel istriku, ku terima telpon tersebut dan memberi tahu kalau istriku tidur.


Pak Erwan yang berbicara denganku lewat telepon tertawa, dia hanya ngatakan akan mengajak kami makan siang dengan nona Nafizah dan aku sanggupi.


Aku membuat sarapan spesial untuk istriku tercinta, rasanya aku ingin hidup lebih lama lagi bersama bidadariku tercinta.

__ADS_1


Kulihat jam dinding menunjukkan jam 09.00, aku membangunkan sang istri.


"Cantik bangun yuk," kataku sambil mencium bibirnya dan mencumbunya lama baru kulepas saat benar-benar kami kehilangan pasokan udara.


Dia memukul dadaku. "Kau lebih nakal dari dirinya," katanya padaku


"Aku akan selalu berusaha melebihinya, sayang," kataku padanya lalu menggendongnya dan mendudukannya di atas kursi meja makan.


Kami pun makan dengan tenang, lalu aku bercerita bahwa kami di undang makan siang dengan nona Nafizah dan pak Erwan.


Selesai makan ku gendong kembali ke kamar dan mendudukannya di atas ranjang, karena aku ingin berbicara sambil bermesraan.


"Cantik maukah kau tinggal di rumahku yang sederhana? Kita tinggalkan tempat ini, kita mulai dengan sesuatu yang indah di tempat yang baik. Sudah tidak ada yang harus kamu takuti," kataku padanya sambil membelai bukit indahnya.


"Terserah kau, sekarang kau adalah suamiku kemana kau tinggal di situlah aku tinggal dan aku akan patuh," katanya sambil memukul tanganku yang bertengger di dadanya sambil bermain di sana.


"Apa boleh minta lagi? Masih ada satu jam sebelum kita menemui Nona," kataku bernegoisasi, ia pun menggangguk


Aku kembali memberikan sentuhan kenikmatan pada istriku saling mencumbu dan saling meraba. Saat aku melakukan penyatuan dan semburan hangat kembali menyiram rahim istriku, aku selalu berdoa semoga menjadi keturunan yang baik.


Istriku terbelalak mendengar ucapanku, "Apa maksudnya Itu?"


"Maaf, yang tadi malam obat penyubur kandungan," kataku terkekeh.


"Dasar curang!" katanya sambil memukul dadaku.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2