
(Pov Angga)
Setelah selesai urusanku dengan Joy Aku pun berpamitan pada sahabatku itu.
Aku keluar dari ruang kerja Joy, masuk kedalam lift menuju lantai Dasar lalu keluar dan berjalan menuju mobilku lalu masuk kemudian kulajukan menuju apartemen.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju basement dan berhenti. Aku pun keluar lalu memasuki lift menuju lantai atas kemudian aku keluar dan berjalan ke apartemenku lalu masuk kedalam setelah menempel cardlock pada pintu.
Aku langsung pergi ke kamar ku baringkan tubuhku di atas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai kelantai.
Hari ini begitu penat, semakin kesini semakin meluas, belum ada titik terang, saksi kunci dalam keadaan tidak bisa bersaksi.
Kondisi mbak Indah dalam keadaan shock, Hardian dalam keadaan koma, jika ada saksi ke tiga mungkin akan sedikit mudah.
aku bangun dari pembaringan, ku langkahkan kaki ke dalam kamar mandi, dan mengguyur tubuhku dengan shower, agar segala keruwetan yang ada di pikiranku bisa terurai.
satu per satu benang kusut memang harus diurai tapi bagaimana mengurainya tentu harus ada triknya agar ini segera selesai.
Aku mulai berfikir untuk bisa masuk ke apartemen Chira, tanpa dia curiga bahwa aku tengah menyelidikinya.
Waktu merambat begitu cepat, tak terasa sudah larut malam,
berkutat dengan kasus Nafizah yang pelik, setiap sujudku meminta untuk di mudahkan jalan bagi wanita malang itu.
Aku berjalan menuju kamarku setelah menunaikan kewajiban ibadahku, aku pun berbaring di atas ranjangku dan terlelap di antara kepenatanku.
Terjaga ketika pukul tiga dini hari kembali kulantunkan doa untuk wanita yang masih ku cintai saat ini, Aku masih setia di sajadah yang terhampar hingga waktu subuh.
Matahari mulai memancarkan sinarnya, aku pun sudah menyelesaikan sarapan pagiku
dan menghabiskan kopi hitam yang baru setengah jam kubuat.
__ADS_1
Ku sambar kunci mobil ku dan pergi meninggalkan apartemen menuju basement lalu masuk kedalam mobil kemudian melajukan dengan kecepatan sedang menuju apartemen Chira
'Berat juga menjadi ditektif dadakan dan gak pengalaman gini,' batinku.
Tak seberapa lama aku sampai di gedung apartemen Chira. Aku memakirkan mobilku di area parkir lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby lalu masuk kedalam lift yang membawaku ke lantai atas di mana apartement Chira berada.
Aku keluar dari lift dan berjalan menuju apartement Chira.
Aku memencet bel tak lama kemudian pintu terbuka lalu terlihat gadis keluar dari balik pintu.
"Loh, kamu, kok tahu apartement saya," kata gadis itu padaku
"Ini apartement kamu, bukan apartement Joy Lou?" tanyaku padanya
"Bukan, ini apartement saya," kata Chira
"Boleh masuk, aku capek nih sudah puter-puter cari apartement dia gak ketemu, malah ketemu cewek cantik di sini," kataku mencoba mencari alasan.
Gadis itu pun terkekeh, "Masuk lah!" katanya.
Aku pun menghela nafas. 'Bagaimana aku tahu dia terlibat atau tidak,' pikirku
"Nona Chira boleh aku menumpang ke kamar mandi?" tanyaku padanya
"Heem, toilet hanya ada di kamar saya, apa tidak apa-apa?" tanyanya padaku.
"Justru saya yang harus bertanya apa boleh saya masuk di kamar anda kalau tidak boleh terpaksa saya harus menahan," kataku sambil terkekeh.
"Jangan! Nanti anda bisa sakit, tidak apa-apa silahkan masuk saja," katanya padaku.
Aku pun masuk kedalam kamarnya, pandangan keseluruh ruangan, sambil berfikir bagaimana bisa masuk tanpa di ketahui Chira.
__ADS_1
Tiba-tiba saja mata memandang suatu titik di sebuah lemari kayu yang tertutup rapat tetapi ada yang terjulur keluar seperti sebuah gamis yang warnanya dan corak sama degan gamis milik Nafizah. Aku mengeluarkan bulpoin yang terdapat kamera di dalamnya lalu aku tekan dan terbidik.
Segera aku pergi ke kamar mandi, agar tidak menimbulkan curiga setelah beberapa menit aku pun kembali ke ruang tamu.
"Wah merepotkan Anda ini, saya," kataku pada Chira
"Oh tidak merepotkan kok Mas Angga, boleh saya panggil begitu?" tanya Chira pada Angga.
"Boleh, tapi jangan panggil aku adik karena usiaku lebih tua dari kamu, dan jangan Om karena usia tak setua itu," kataku terkekeh. Diapun tertawa mendengar candaanku
"Apa kau tinggal sendirian?" tanyaku padanya.
"Yaa, saya sendirian sebenarnya ini adalah hadiah dari orang tua Hardian padaku sebelum mereka kecelakaan," katanya padaku
"Apa kalian sudah bertunangan?" tanyaku padanya
"Belum, andai saja mereka tidak kecelakaan mungkin kami sudah bertunangan," katanya.
"Aku dengar CEO Shahila Crop akan menikah apa denganmu? tanyaku padanya
"Tidak dengan wanita yang mencelakai dia, sungguh dia benar-benar bodoh meninggalkanku hanya untuk wanita yang tak berlevel," katanya dengan amarah yang berlebihan.
"Maaf, mengingatkan luka lama Anda," kataku padanya.
"Iya, tidak apa-apa, saya yang suka terpancing amarah," kata gadis itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu yaa, trimakasih atas jamuan," kataku padanya lalu aku meninggalkan Apartemen itu.
Sambil berjalan aku mulai berfikir apa yang terjadi pada waktu itu, 'Aku telah melewati banyak hal,' pikirku
Terus berjalan dengan pikiran berkecamuk hingga tak terasa aku sudah di depan mobilku lalu aku masuk dan mengemudikan dengan kecepatan sedang membela jalan raya.
__ADS_1
Kujalankan mobilku menuju kantor Joy, saat ini aku betul-betul membutuhkan dia untuk memecahkan kasus ini.
Aku mau sebelum kasusnya di buka kembali aku telah mengantongi beberapa bukti agar memperkuat bahwa Nafizah tak bersalah.