
"Aku tidak lapar, bang," katanya padaku.
"Tapi aku lapar, Naf, tadi pagi aku hanya makan roti dan kita langsung harus menguras emosi kita untuk mencoba menyadarkan calon suamimu itu dari komanya," kataku padanya.
Cemas juga butuh tenaga, oleh sebab itu kita harus mengisi perut dulu, Naf. Kamu itu bukannya tidak lapar tapi kamu itu sedang tidak bernafsu makan karena apa? Kecemasanmu pada calon suamimu itu. Sudah kukatakan Gilang tak akan diam, dia pasti melakukan sesuatu andainya pun ada yang tidak baik-baik saja, pasti ada penanganan dokter yang baik percayalah padaku!" kataku padanya.
Setelah berputar-putar cukup lama di jalan raya, akhirnya kutemukan sebuah restoran Jepang di depan jalan raya, kami pun masuk kedalam restoran dan memilih tempat di pojok ruangan, agar kami leluasa untuk sekedar berbincang-bincang, sambil mengisi perut kami yang kosong.
Aku pun makan dengan lahap karena memang aku sangat lapar, kemarin baru saja datang dari Amerika aku belum sempat belanja apapun, hanya membeli beberapa roti dan keju saat pulang dari pertemuan dengan Pak Erwan.
Kulihat Nafizah, hanya memakan sedikit dari makanannya, sepertinya makanan yang enak saja, tidak bisa menggugah gairah makannya karena sedang memikirkan calon suaminya tadi, yang membuat asistennya panik.
Aku mengambil alih piringnya lalu menyuapkan makan di mulutnya "Ayo makanlah! Nanti akan ku cari tahu apa yang terjadi, Kalau kau seperti ini aku tak akan mau mengurus kasusmu," gertakku padanya.
__ADS_1
akhirnya makanan yang ada di piringnya pun habis, masuk semua ke dalam perutnya.
Setelah merasa cukup kenyang, kami pun keluar dari restoran masuk ke dalam mobil lalu berjalan lagi menembus jalanan.
Cuaca begitu tariknya karena hari sudah cukup siang aku melajukan mobil menuju masjid, kami pun juga sebentar untuk melaksanakan sholat zhuhur. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju lapas karena Nafizah sudah tidak ingin lagi melanjutkan perjalanannya.
Mungkin aku sedikit keterlaluan tapi itu demi dirinya jika hal ini tidak aku lakukan maka persoalan ini pun juga tidak akan pernah selesai.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai ke lapas, Nafizah keluar dari mobil lalu berkata, "Sampai di sini saja Bang, aku akan masuk sendiri, trimakasih apa yang Abang lakukan untukku." Dia pun berjalan masuk melalui ruang tunggu.
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang, di saat itulah aku mendapatkan notifikasi dari Gilang. Aku tersenyum puas dan berharap Peninjauan Kembali kasus Nafizah segera di setujui serta sidang segera di buka kembali.
Aku terus melajukan mobilku dan berhenti di supermarket, untuk berbelanja beberapa bahan makanan, agar aku bisa memasak sendiri di apartemen.
__ADS_1
Setelah semua kebutuhan kemasukan dalam keranjang, aku pun membawanya ke kasir untuk membayar semua belanjaanku.
Setelah itu, aku pun keluar dari supermarket dan masuk ke dalam mobilku kembali dan melajukannya memecah padatnya lalu lintas saat ini, karena hari sudah mulai sore banyak pekerja yang pulang kantor.
Sehingga lalu lintas sedikit agak terhambat.
Setengah jam kemudian aku sampai di tempat tinggalku dan keluar dari mobil serta membawa semua belanjaanku ke dalam apartemenku.
Melewati lobby dan masuk ke dalam lift lalu keluar lagi akhirnya aku sampai pada apartemenku.
Aku menata semua belanjaanku ke dalam lemari pendingin. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar lalu ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku kemudian melaksanakan ibadah sholat ashar.
Setelah itu aku pun kembali ke dapur, untuk menyiapkan makan malam, memasak sesuatu makanan yang sederhana, untuk nanti malam.
__ADS_1
Sambil menunggu makan adzan magrib, aku memutar tayangan video Nafizah yang ada di pantai tadi.
Aku pun tersenyum, melihatnya yang masih begitu mencemaskan calon suaminya, Apakah aku terlalu berlebihan padanya, yang tidak mau memberikan kabar terkini dari kondisi calon suaminya, Aku hanya tidak ingin apapun yang terjadi, diketahui orang luar sehingga rencanaku yang sudah sangat matang akan menjadi sia-sia saja.