
Beberapa menit kemudian aku sampai kembali di kantor Joy tanpa mengetuk pintu aku masuk dan terkejut dia sedang making out dengan seorang wanita.
"****!" teriakku dan kembali keluar dari ruangannya.
Aku menunggu beberapa menit pintu terbuka dia kembali berciuman sebelum si wanita itu pergi.
Dia menatapku lalu terkekeh. "kenapa gak mengetuk pintu?" katanya padaku
"Kau ini tidak pernah berubah sama sekali, setidaknya kunci pintu," kataku padanya.
"Ku kira ngak akan ada yang masuk ke sini lagi pula hanya kau yang melihatnya, bukan anak kecil, 'kan?" katanya sambil masuk kedalam dan aku mengikutinya.
"Bagaimana yang kemarin sudah bisa kau buka?" kataku padanya
"Aku sudah mengirimkan datanya kepadamu, apa tidak kau lihat?" katanya padaku
"Betulkah aku belum melihatnya sama sekali hp-ku sedang mode silent," kataku padanya.
ku pun membuka handphoneku lalu kulihat video yang dikirimkan oleh Joy. Aku terpaku dan baru tahu kalau kejadiannya seperti itu.
"Tetapi di video itu tak akan kuat," kata Joy
__ADS_1
"Jangan putus asah pasti ada jalan untuk memecahkan kasus
ini, " kata Joy padaku.
Aku menghela nafas lalu aku kembali menceritakan temuan yang ada di rumah Chira.
"Aku akan kirimkan anak buahku ke sana semoga ada titik terang," kata Joy padaku
Setelah berbincang-bincang aku berpamitan untuk pulang.
Aku keluar dari ruangan Joy dan masuk ke dalam lift yang membawaku ke lantai dasar lalu berjalan keluar menuju mobilku setelah itu masuk dan mengemudikan dengan kecepatan sedang.
Aku terus berjalan sampai di basement. Aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam lift dan keluar lagi lalu berjalan menuju apartement ku.
Saat ini dalam keputusasaan, aku mendapatkan video yang begitu mencengangkan buatku.
Aku tersenyum. 'Mungkin ini kartu terakhir jika segala cara sudah di tempuh,' pikir ku
Aku mengambil handphoneku lalu menghubungi temanku seorang psikiater yaitu Revan teman ku. Aku menunggu sampai beberapa saat kemudian. Akhirnya tersambung juga.
"Assalamualaikum, Van. Bagaimana dengan mbak Indah apa ada kemajuan saat berada dalam perawatanmu?" tanyaku
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Progresnya sangat bagus, selama ini dia selalu dapat tekanan orang-orang yang sering datang kerumahnya itu sebab membuat dia semakin tertekan, setelah kejadian itu di tambah tekanan dari pihak butik tempat bekerjanya," kata Revan padaku.
"Kira-kira dalam satu Minggu apa dapat pulih seperti sedia kala? Aku ingin dia menjadi saksi saat nanti kasus Nafizah di buka kembali, apa dia bisa menjadi saksi kunci di persidangan nanti?"
"Selama tidak ada yang menekannya di persidangan nanti, kesaksiannya bisa akan membantu untuk menyingkap kejadian yang sebenarnya. Selama ini dia mendapat tekanan-tekan dari pihak tertentu," kata Revan.
"Andai di persidangan nanti ada yang menekan bagaimana?" tanyaku pada Revan sahabatku itu.
"Nah itu yang aku kawatirkan, saat mendapat tekanan maka jiwanya menjadi terguncang kembali, jika itu terjadi keterangan yang benar pun tidak bisa di gunakan untuk menjadi bukti kejahatan karena orang yang mental dalam keadaan tidak sehat tidak bisa menjadi saksi atas kejahatan seseorang," kata Revan padaku
Aku menghela nafas panjang dan di dengar Revan. Kembali suara Revan menasehatiku.
"Jangan putus asah aku akan mencoba untuk menghilangkan rasa ketakutannya, semoga dalam waktu satu Minggu dia dapat pulih kembali. Aku jadi penasaran wanita seperti apa yang membuat Angga Pramuda mati-matian membela dan mengusahakan agar dia bebas," katanya sambil tertawa.
Aku pun tertawa. "Yang jelas dia cantik dan juga sangat cerdas, sayangnya calon pengantin pria lain bukan aku," kataku tertawa
"Hai pria bucin selamat berjuang membuktikan wanita pujaan hatimu tidak bersalah dan jangan lupa siapkan hati, saat dia hanya bisa mengucapkan terimakasih kepadamu," katanya meledekku.
"Ahh, sialan, kau sendiri bagaimana? Sampai sekarang kau belum mejalin hubungan dengan yang lain setelah putus darinya," kataku padanya
"Aku beda kasus, dia sudah menikah, sedangkan ini masih bisa kamu perjuangankan. Andai kau bisa karena dia belum menikah," katanya padaku
__ADS_1
"Kau ini membuat jiwa jahatku muncul saja, berharap calon suaminya tidak sadarkan diri selamanya dan aku bisa menikahinya," kataku pada Revan sambil terkekeh.