Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Memulai Aksi


__ADS_3

Dia tertawa. "Kau tunggu di situ! Akan ku ambilkan sarapanmu!" kata Kirara


Seperti biasa mereka akan antri, berbeda dengan Kirara. Ketika dia berjalan untuk mengambil makanan, maka mereka akan sukarela memberikan antriannya. Sampai menuju meja berisi menu sarapan mereka. Kirara mengambil dua piring penuh dengan makanan, lalu kembali menghampiriku dan duduk bersamaku di atas tikar di taman belakang.


Aku pun makan sambil menikmati keindahan taman belakang yang di penuhi bunga-bunga, tempat ini satu-satunya tempat untuk mengobati luka hati.


(Pov Angga)


Aku sudah berkemas untuk kembali ke Amerika dengan tujuan mencari informasi tentang Chira, yang menurut informasi ada di New York City.


Sungguh kebetulan yang nyata buatku. saat ini aku sedang berkuliah di Cornell university New York.


Aku membuka lemari pendingin, sungguh sangat mengenaskan tak ada persediaan makanan di dalamnya.


semenjak aku sibuk mencari bukti-bukti dari kasus Nafizah, aku tak pernah masak dan mengecek makanan yang ada di lemari pendinginku. Jika aku lapar, maka aku memesan makanan dari aplikasi online, karena tak tak punya banyak waktu untuk memasak.


Aku tertawa ketika aku lihat di dalamnya hanya terdapat satu telur dan roti saja. Akhirnya aku membuat telur mata sapi sebagai pelengkapnya, roti lapis telor mata sapi sudah siap di santap.


Setelah menyantap sarapan pagi, aku mengambil dan menyeret koperku keluar Apartemen dengan langkah lebar. Aku masuk ke dalam lift yang membawaku ke lantai dasar, setelah itu aku pun masuk ke dalam taksi yang telah aku pesan sebelumnya.


Setelah aku masuk ke dalamnya, taksi itu pun berjalan meninggalkan apartemen menuju bandara. Selama satu jam perjalanan akhirnya aku sampai ke bandara.


Aku keluar dari taksi menuju terminal keberangkatan lalu melewati pemeriksaan kemudian masuk dalam pesawat dan memasang sabuk pengaman ku. Beberapa saat kemudian pesawat pun lepas landas, aku memejamkan mata untuk istirahat, karena beberapa hari ini kurang istirahat, sebab harus mencari titik terang kasus Nafizah.


Aku pun mengumpat dalam hati, 'Sialan, si Hardian itu juga gak sadar-sadar dari komanya. Jika dia sadar, masalah gak akan serumit ini.'


Aku memejamkan mataku, berharap bisa melepas kepenatan otakku sesaat. Waktu berjalan dengan cepat, setelah menempuh perjalanan 24 jam aku pun sampai di bandara Internasional John F Kennedy.


Aku pun turun dari pesawat, kemudian berjalan menuju terminal. Kedatangan lalu memesan taksi yang mengantarku ke apartemen.


Setibanya di apartemen, aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu berganti pakaian. Aku sudah cukup beristirahat di pesawat hingga ku putuskan untuk langsung melaksanakan aksiku.


Aku berjalan menuju basement masuk dalam mobil kemudian kujalankan melaju di jalanan kota New York, hingga sempai di depan apartement Chira, aku menunggu sampai mobilnya terlihat.


Aku bersyukur punya sahabat seperti Joy yang dapat dengan mudah memberikan aku informasi. Atas keahliannya pria misterius itu, aku sangat terbantu. Aku sendiri tidak tahu identitasnya secara pasti. sangat tersimpan rapi.


Setelah cukup lama aku menunggu, akhirnya muncul juga. Aku pun mengikutinya, ternyata dia ke supermarket aku menunggunya lagi sambil berfikir cara untuk mendekatinya.

__ADS_1


Dia keluar dari supermarket dengan membawa buah-buahan. Aku pun bisa mengira bahwa dia akan mengunjungi Ibunya di rumah sakit.


Aku mengikutinya hingga sampai di rumah sakit New York Presbyterian. Aku pun mulai bermain siasat.


Gadis itu keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah sakit, aku pun segera keluar dari mobil dan mengikutinya.


Saat mulai agak dekat dengan kamar rawat ibunya aku menyenggolnya hingga buah-buahan itu hampir terjatuh dan aku menahan dengan memegang pinggangnya.


"Maaf aku sedang menerima telepon penting jadi tidak melihatmu, mari aku bantu! Kau mau kemana?" tanyaku sembari mengambil paper bag yang berisi buah-buahan itu.


"Aku tidak biasa bicara dengan orang asing," katanya sambil menolak bantuanku.


Aku tersenyum. "Orang yang dekat berasal dari orang asing, namaku Angga, nama Anda siapa? Aku berharap bisa berkenalan dengan wanita secantik Anda," kataku mulai mencuri perhatiannya.


"Sudah saya bilang, tidak suka berbicara dengan orang asing," katanya lagi


Aku terkekeh. "Anda sedang berbicara dengan saya saat ini."


"Anda benar-benar menyebalkan, panggil aku Chira," katanya sambil terus berjalan.


Aku tersenyum. 'Target sudah terkunci, tinggal di mainkan,' pikirku


Kulihat dia tersenyum, aku berjalan di sampingnya kembali mengambil alih bawaannya, dia tidak menolak. Akhirnya kami sampai di kamar perawatan ibunya.


"Dia mengidap kanker otak, dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Mu kira aku akan di jaga oleh pria yang telah dijodohkan oleh orang tuaku, ternyata dia memilih wanita lain," katanya sambil menatap sang ibu.


"Apa kau bekerja di sini Nona Chira?" kataku dengan sangat hati-hati.


"Ya, aku menjalankan butik ibuku, hanya itu yang ku punya saat ini dan saham di Shahila Corp yang tak seberapa," jawabnya.


"Hai, sebenarnya tujuanmu mau kemana?" tanyanya padaku


"Aku akan menjenguk sahabatku tetapi tersangkut di sini karena senyuman manis mu," kataku padanya.


"Dia tertawa. "Kau pandai merayu, berapa banyak wanita yang kau rayu?" tanyanya


Aku tertawa. "Baru kamu, karena kau indah di mataku."

__ADS_1


"Aku salut pada Anda, usaha yang perlu diacungin jempol," katanya tersenyum sinis.


"Apa ibumu sudah lama di rawat sini?" kataku pada gadis itu.


"Dua tahun yang lalu," jawabnya kembali.


"Aku mempunyai beberapa hotel di sini, jika tidak keberatan aku meminta nomer telponmu, mungkin aku bisa memesan seragam karyawanku kepada mu," kataku padanya.


Dia pun memberikan nomer telponnya kepadaku, lalu aku berpamitan untuk menjenguk temanku yang sakit.


Aku keluar dari ruangan itu, berjalan keluar rumah sakit menuju mobilku lalu masuk kedalam, kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang menuju kantor Joy, sebuah perusahaan IT yang baru dirintinya.


Tak seberapa lama aku sampai dan memarkirkan mobilku, lalu keluar serta berjalan menuju lobby menemui resepsionis.


"Saya mau bertemu dengan Tuan Joy?" tanyaku pada resepsionis itu.


"Dengan Tuan Angga?" tanyanya padaku dan aku mengangguk.


"Sudah di tunggu Tuan Joy di atas, silakan langsung saja!" jawab wanita itu.


Aku pun mengangguk dan berjalan menuju lift yang mengantarku kelantai atas. setelah tiba di sana aku langsung menuju ruangan Joy sahabatku itu.


Aku menyerahkan handphone padanya aku berharap bisa di perbaiki.


Joy tertawa. "Kau kira ini tempat perbaikan handphone, kau ke sini hanya untuk ini? Sungguh kau mempermalukan diriku. Perusahaan sebesar ini kau suruh memperbaiki ini."


Aku tertawa. "Aku tidak tahu harus ku bawa kemana? Pekerjamu pasti ada yang bisa, anggap saja kerja sampingan," kataku enteng.


"Baiklah akan ku perbaiki bayaranku tidak murah, tapi hanya ku ambil data-data yang ada di sini lalu akan ku kirim padamu, jika bisa di perbaiki tidak akan lama bertahan," kata Joy padaku.


"Baiklah tinggal sebut berapa, nanti kukirim ke rekeningmu," kataku padanya.


"Buatkan aku makan siang saja besok," katanya padaku


"Kau kira aku istrimu, kau suruh buat makan siang untuk mu Joy," sarkasku padanya.


Dia tertawa. "Kalau begitu suruh chefmu hotelmu masak untukku. Hanya itu yang ku mau, kau tahu 'kan kesukaanku apa."

__ADS_1


"Ya, Baiklah, tuan Joy terhormat," jawabku masih dengan tertawa.


BERSAMBUNG....


__ADS_2