
(Pov Kayla)
Setelah lama menunggu akhirnya suamiku itu membuka matanya, pertama yang di tatapnya adalah aku, lalu melihat sekelilingnya.
"Kenapa aku ada di sini?" tanyanya padaku
"Kau pingsan aku takut sekali," kataku padanya.
"Apa kata dokter?" harus ada pemeriksaan lengkap untuk bisa tahu apa yang membuatmu pingsan.
"Jangan cemas aku tidak apa-apa hanya kecapekan saja," katanya padaku.
"Jangan bohong, Mas. Kamu sebenarnya sakit apa?" tanyaku padanya.
"Aku gak bohong, sayang. Aku cuma capek kamu gak usah kawatir dan cemas," katanya padaku.
"Bagaimana aku gak cemas tiba-tiba saja kamu pingsan, Mas," kataku sambil menatapnya sendu.
"Sebentar, Mas. Aku mau ke toilet, tadi dokternya akan kesini kalau Mas, sudah sadar," kataku padanya.
Aku pun pergi ke toilet untuk buang air kecil, setelah selesai aku pun membenahi penampilanku, agar tidak kucel di hadapan suamiku.
Ku rasa sudah cukup aku pun kembali dan kulihat suamiku berbincang-bincang dengan dokter tetapi ketika melihat ku suami ku seperti memberi tanda serta dokter itu pun mengangguk.
Aku mendekati mereka. "Bagaimana dengan keadaan suami saya, Dok? Apa sekarang harus menjalani pemeriksaan lengkap?" tanyaku pada dokter tersebut.
__ADS_1
"Belum diperlukan untuk pemeriksaan lengkap, Pak Rudi, hanya kecapekan saja," kata Dokter itu padaku.
Aku sedikit curiga sepertinya suamiku menyimpan sesuatu dan aku tidak boleh tahu. Aku menghargai keinginannya itu.
'Ok! Jika itu yang kau inginkan aku akan cari tahu sendiri dan tanpa sepengetahuanmu, Mas,' pikirku.
"Apa suami saya akan dirawat inap atau bisa pulang, Dok," tanya kepada dokter.
"Pak Rudi sudah bisa pulang setelah cairan infusnya habis," kata dokter itu.
Sekitar jam tiga sore mas Rudi sudah pulang, aku pun memesan taksi untuk mengantar kami ke hotel tempat kami menginap.
Sesampainya di sana aku menggandeng suamiku berjalan dan masuk dalam lift lalu keluar dan berjalan menuju kamar kami, ku tempelkan keycard dan kami masuk kedalam, kemudian ku tutup pintu kamar ku, kututun mas Rudi sampai ke ranjang, dia duduk di bibir ranjang.
"Tidur, Mas! Kamu masih lemas," kataku pada suamiku itu.
"Kamu itu jangan ngeyel, wajah pucat begitu kamu bilang baik-baik, Ayo berbaring!" kataku padanya.
Aku memaksanya berbaring dan menyelimutinya. aku pun pamit pergi ke kamar mandi, aku nyalakan shower agar dia mengira aku ada di kamar mandi.
Ada dinding menghadap kedepan sedikit sebagai pembatas antara kamar mandi dan ruang tidur aku berdiri di balik dinding melihat apa yang di lakukan suamiku saat aku tidak di sampingnya.
Kulihat dia berjalan terseok-seok kearah meja dan mengambil tas kecilnya karena memang masih begitu lemas badannya, tetapi selalu menutupi dariku.
Aku terus mengamati apa yang di lakukan oleh suamiku itu, dia mengeluarkan obat-obatan begitu banyaknya dalam tas kecilnya itu lalu mengambil air dan di minumnya satu persatu.
__ADS_1
Setelah itu, ia kembali masukannya lagi dalam tas kecilnya.
Aku kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, lalu aku keluar dengan hanya mengenakan balutan handuk sebatas dada dan pahaku.
Saat suamiku melihatku dia ingin menghampiriku, aku mencegahnya, dengan menatap tajam dan ia pun kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
Setelah aku berganti pakaian di hadapannya, aku menghampirinya dan berkata, "Aku sudah siapkan air hangat di bathtub."
"Terimakasih biar aku sendiri, sayang tidak usah dituntun, badanku ini besar dan aku lebih kuat dari pak Erwan," katanya dia sambil tertawa
"Kuat apanya tadi saja pingsan padahal hari juga belum siang betul," kataku mengejeknya dan dia hanya tertawa.
Setelah memastikan dia masuk ke dalam kamar mandi, aku pun mengambil tas kecilnya, yang selalu di bawah kemana-mana, kemudian aku membukanya mengambil satu-persatu obatnya dan memasukkan kedalam plastik aku menelpon layanan kamar.
Seorang petugas hotel menemuiku, aku meminta tolong untuk mengecek obat di apotek terdekat, obat apa itu sebenarnya dan memberikan nomer handphoneku memintanya untuk mengirimkan hasil di nomer Wa kemudian memberikan tiga lembar uang ratusan ribu.
Aku pun masuk kedalam dan suamiku telah selesai mandi dan sedang berganti pakaian.
"Dari mana, sayang?" tanyanya padaku
"Gak dari mana-mana cuma depan pintu saja, mau lihat sunset dari sini tapi ternyata ngak enak lihat sendirian," jawabku memberi alasan.
"Sudah sholat?" tanyanya pada ku
"Belum, aku menunggumu," kataku padanya.
__ADS_1
"Kalau begitu Ayo!" ajaknya padaku