
''Mereka sedang mencari cara untuk bisa rujuk. Bisa atau tidak, yang paling penting mereka bisa hidup bahagia. Meski bersama ataupun tidak," jawabku pada Kirara.
"Lalu bagaimana perasaan mu pada Papimu?" tanyaku padanya.
"Entahlah, setelah aku memaafkan beliau, hatiku sedikit lega," kataku pada Kirara
"Kau seringkali dapat kunjungan, sedangkan aku tidak pernah sama sekali. Gerakhir dari adikku, tapi entah kenapa dia sekarang tidak pernah mengunjungiku?'' Kirara berkata sambil tersenyum.
"Mungkin saja adikmu sibuk, tidak bisa mengunjungimu," kata ku padanya
"Tahanan 343 ada kunjungan," kata petugas padaku.
"Wah ada panggilan kunjungan lagi," celetuk Kirara.
"Sebentar ya aku tinggal dulu," kataku pada akhirnya, sambil mengikuti petugas yang mengantarku kembali ke ruangan penerimaan tamu.
Aku berjalan dengan menunduk hingga sampai ke ruangan itu. Kutengadakan wajahku menatap ke depan, dan kulihat Pak Angga tersenyum dan mengucapkan salam padaku. Lalu aku pun menjawabnya, ''Bagaimana kabar mu, Zah?" tanyanya padaku.
"Seperti yang Anda lihat ini, Pak. Keadaan saya ya seperti ini," jawabku.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakan, bahwa besok aku akan kembali ke Amerika. Ada yang perlu, aku pastikan di sana. Setelah semuanya siap, aku akan datang kemari untuk pengajuan membuka kasus mu lagi. Aku meminta doamu Nafizah, agar segera menemukan titik terang dari kasus mu," kata Pak Angga padaku.
''Terimakasih banyak, Pak. Doa saya selalu untuk Anda. Anda sangat baik pada saya, semoga anda segera mendapat jodoh Pak," kataku pada pak Angga
Angga pun tertawa. ''Jika calon suamimu itu, tidak segera bangun dari komanya, akulah yang akan menikahimu," kata pak Angga padaku.
Aku tertawa, "Anda pandai bercanda Pak Angga," kataku padanya
"Aku tidak sedang bercanda Zah," kata pak Angga padaku.
"Terserah Anda Pak,'' kata Nafizah sambil tertawa
Lalu, kami berbincang-bincang sebentar dan aku pun kembali ke tempatku.
Aku berjalan meninggalkan Angga yang masih di ruangan itu. Aku sungguh bersyukur karena mempunyai dosen yang begitu baik seperti dia. Aku selalu berdoa setulus hati, agar dia mendapatkan wanita yang diidamkan itu.
Tak berapa lama aku sudah kembali di tempat di mana aku bersama Kirara beristirahat. "Siapa?" tanyanya padaku begitu aku duduk di sebelahnya.
''Pak Angga, dia berpamitan padaku kalau besok akan kembali ke Amerika.''
__ADS_1
Waktu menunjukkan jam makan siang, seperti biasanya Kirara lah yang mengambil makananku, dia adalah wanita yang ditakuti di sini. Jadi tidak ada yang berani untuk mengusirnya.
'Gadis Aneh,' Batinku sambil melihat kelakuannya itu saat mengambil makanan.
Setelah mendapatkannya dia pun berjalan menuju ke arah ku dengan membawa dua piring nasi dan lauknya, lalu kami makan sambil berbincang-bincang dengan Kirara.
Bagi kami sebuah senyuman dan tawa adalah penghalau kesedihan kami. Penguat kerapuhan hati kami saat sedang merindu akan keluarga, kebebasan yang hakiki.
Kadang terdengar tawa mereka yang menggelegar, bukan karena mereka bahagia hidup di sini. Akan tetapi, mereka menertawakan diri sendiri bagi orang yang benar-benar bersalah.
Bagi orang yang terdampar di sini dengan tuduhan palsu, tertawa adalah penghibur hati, penguat untuk tetap menapaki hidup.
Hidup bertahan di sini adalah bertahan untuk tetap waras, karena menahan rasa rindu, sedih serta tatapan tak berharga. Apalagi tuduhan yang benar-benar berat.
Aku menghela napas, menatap sekitarnya masih tetap sama tak ada yang berbeda. Perbedaan hanya waktu yang terus berputar hari ini akan berganti esoknya
"Hai kenapa bengong lihat dia tertawa? Selesaikan makannya! Habis itu kita ada pelatihan," kata Kirara menyenggol tanganku, dan aku menoleh padanya lalu tersenyum, kemudian menyelesaikan makan ku setelah itu, kami pun pergi ketempat pelatihan.
B3RSAMBUNG....
__ADS_1