Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Bayi Besar


__ADS_3

Pov Rudi)


Aku masuk kedalam rumah sakit menemui dokterku dan sekaligus temanku. Dengan langkah tegas Aku mengetuk


pintu di sebuah ruangan dan tak pintu terbuka.


Dokter Arseel menyuruhku duduk


"Silakan duduk Rudi!"


"Begini aku ingin di rujuk ke Jakarta, Seel," kataku pada Arseel


"Kenapa? Dulu kau minta di rawat di sini karena tak ingin terlihat lemah di hadapan nyonyamu paska kemoterapi," tanya Arseel.


"Nah itu dia, Nyonyaku sekarang jadi istriku aku kesulitan ijin untuk beberapa hari, apalagi kemarin waktu bulan madu aku pingsan Seel, dia mulai curiga aku mempunyai penyakit yang gak ringan," kataku pada Arseel


"Kalau dia sudah tahu aku juga gak bisa apa-apa, Rud. Paling tidak aku hanya kasih tahu kalau istrimu sudah tahu ke kamu selanjutnya terima saja apakah dia ingin merawatmu ataukah dia ingin cerai.


"Sialan kamu! Aku baru nikah hitungan hari tahu," kataku memakinya.


"Ok! Aku akan urus kepindahanmu di rumah sakit terbaik di Jakarta kau tidak usah kawatir kalau dia tahu akan ku nasehati dia agar meninggalkanmu," kata Arseel sambil tertawa.


"Kamu benar-benar menyebalkan Sell," makiku padanya.


"Ayoh, sekarang ruanganmu, dua jam lagi aku akan datang ke sana," kata Arseel.


Aku pun masuk ke dalam kamar perawatanku lalu mengganti pakaian dengan piayama agar lebih nyaman.


Dua jam kemudian seorang petugas medis membawa kursi roda memintaku untuk duduk disana dan memabawaku untuk menjalani serangkaian tes kesehatan. Setelah itu aku masuk dalam ruangan di mana aku mendapat kemoterapi yang ke dua kalinya.


Setelah selesai aku dibawa kedalam ruanganku, badanku terasa lemas dan sedikit mual.


Sampai di sana aku terkejut karena dia membawa seorang wanita yang tak lain adalah istriku.


"Dia sudah tahu Rud, jadi jangan lagi menyembunyikannya, aku tak mau berbohong dengan kondisimu, dia bilang akan menemani pengobatanmu sampai selasai dia ingin kau sembuh bukan mati, dengarkan aku semuanya bisa saja terjadi mungkin kau akan sembuh atau mungkin sebaliknya," kata Arseel dengan senyum yang menyebalkan.


"Ya, sudah saya tinggal dulu, jangan kawatir dia gak ada nafsu setelah melakukan kemoterapi, jadi Anda aman," kata Dokter Arseel lagi sambil tertawa dan pergi dari ruanganku.


"Sell, sialan kau!" teriakku dan istriku hanya tertawa.


"Kenapa kemari? Aku tidak ingin terlihat jelek di depanmu," kataku pada istriku.


Kayla tertawa sambil mengambil alih kursi rodaku dari perawat, dan membawaku ke ranjang, serta menyuruhku duduk di atas ranjang yang sudah di setel agar aku bisa duduk dengan nyaman.


Kulihat ada banyak makanan di atas meja. "Itu dari istri Dokter Arseel, bukankah kemoterapi kamu yang pertama juga dapat itu, 'kan?" kata istriku.


Ada Kelapa muda, sup, puding gelatin, dan bubur kacang hijau


"Kelapa muda dan bubur kacang hijau apa dari dia juga?" tanyaku padanya.


"Itu aku yang beli air kelapa muda katanya bagus untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, aku sengaja mencari kesempatan, agar kau tidak lagi berkelit lagi tentang penyakitmu," katanya padaku.


Dia memberiku minum, air kelapa muda dengan menggunakan sedotan.


"Baiklah, aku kalah," kataku padanya.


"Mau ini?" tanyanya padaku sambil membuka mangkuk plastik tempat menyimpan bubur kacang hijau.


Aku mengangguk, dia duduk di kursi depan ranjangku dan mulai menyuapiku.


"Harusnya kau katakan ini padaku, aku ini istrimu dan pernikahan ini bukan kau yang meminta tapi mantan suamiku, jadi kau tidak sedang menipuku jika ternyata kau sakit," kata Kayla pada ku.


"Bukan itu yang kukawatirkan, jika kau menganggap aku menipumu itu lebih baik, aku ingin kamu tersenyum," kataku lagi.


"Lihat! Aku tersenyum, 'kan? katanya padaku sambil tersenyum manis.


"Aku di sini sampai lima hari kedepan, kamu nginep di mana sayang?" tanyaku padanya


"Aku nginep di sini dong, mau nginep di mana lagi kan nungguin kamu, Mas?" katanya dan aku menghela nafas.


"Kenapa, Nggak boleh?" tanyanya padaku.


"Boleh, tapi mau tidur dimana? Ini juga kecil?" tanyaku sambil menatapnya sendu.


"Aku akan tidur di sofa, jangan pikirkan itu!" titahnya padaku.


Aku sangat terkejut akan kehadiran istriku, kemarin kukira dia percaya kalau aku hanya kecapaian biasa saja, ternyata diam-diam mencari tahu sendiri.

__ADS_1


Suapan bubur terakhir telah diberikan padaku dia akan beranjak dari tempat duduknya aku mencegahnya dengan memegang jemari tangannya


"Apa artinya kamu mau bersamaku? Setelah kau tahu aku sakit," tanyaku padanya


"Ya, aku ingin tetap bersamamu, Mas," jelasnya padaku.


Dia meletakan mangkuk kosong di atas nakas. "Istirahat, Mas!" katanya padaku sambil mengatur ranjangku agar nyaman untukku.


"Sayang!" panggilku.


"Ya, apa?" jawabnya sambil berjalan ke arah ku.


"Ini pakailah biar nyaman!" perintahku sambil memberikan bantal padanya. Dia menerimanya dan tersenyum lalu dia berjalan menuju ke sofa dan berbaring di sana


Aku memejamkan mataku entah perasaan apa ini, aku tak tahu yang jelas rasa takut kehilangan dan takut berpisah hilang sudah semangatku untuk tetap hidup semakin bertambah.


Aku menatap wanitaku yang berbaring di sofa ini seperti dejavu buatku. hanya saja dulu aku tidur di sofa dan memandangnya terlelap di ranjang. Sekarang aku di ranjang melihatnya terlelap.


Aku terkekeh. "Siapa yang sakit dan siapa yang harus istirahat?


Dia justru terlelap lebih dulu sedangkan aku belum bisa tidur sama sekali. Hingga akhirnya mataku pun terpejam.


(Pov Kayla)


Setelah kepulangan dari Lombok aku melihat dia begitu gelisah tidak tahu apa yang dipikirkannya Hingga akhirnya dia pun izin padaku untuk pergi ke Surabaya karena urusan pekerjaan dengan Yudit.


aku sedikit curiga bahwa yang sebenarnya, kepergiannya bukan karena tugas yang diberikan Yudit. Aku pun menelpon Yudit kebenaran dari kepergian suamiku ke Surabaya.


aku melihat perubahan dirinya biasanya dia selalu menggebu-gebu dalam urusan ranjang sekarang sepertinya gairahnya sedikit berbeda, setiap kali setelah sholat isya pasti dia cepat tertidur tanpa menggangguku dulu.


Terdengar olehku notifikasi dari handphonenya aku pun mengambilnya dan membaca pesan wa terpampang di layar tanpa membukanya fix suamiku


memang menderita kangker otak.


Hingga aku mengikutinya sampai di rumah sakit ini aku melihat dia masuk keruangan aku dengan sabar menunggu dia keluar kembali.


Setelah dia keluar aku pun menutup pintu ruangan itu terdengar suara menyuruhku masuk.


Aku membuka pintu kemudian masuk ke dalam ruangan itu, terlihat seorang dokter yang usianya sama dengan suami tersenyum dengan persilakanku duduk.


"Apa ada yang bisa saya bantu? katanya padaku


"Tuan Rudi maksud Anda lalu siapa Anda?" tanyanya padaku.


"Saya istrinya, beberapa hari yang lalu suami saya mengkonsumsi obat yang begitu banyak, padahal dia hanya kelelahan saja karena merasa curiga saya pun memeriksa obat itu di apotek ternyata obat itu untuk penderita kanker otak," jelasku padanya.


dokter itu pun tertawa dengan keras. "kalau begitu caranya, saya sudah tidak bisa berkelit kembali ini, Dia baru saja bilang untuk menyembunyikannya pada Anda tetapi bagaimana menyembuyikannya jika sudah tahu."


"Maaf jika saya merepotkan Anda, tetapi saya tidak mau suami saya berjuang sendirian," kataku padanya.


"Saya mengerti maksud Anda saya akan jelaskan kondisi suami Anda," katanya padaku.


"Perkenalkan nama saya dokter Arseel, pak Rudi mengidap kangker otak stadium Empat awal," katanya padaku


Dia menjelaskan banyak hal tentang suamiku dia mengajakku ke ruangan suamiku.


"Anda tunggu di sini saja nanti," katanya padaku.


Akhirnya aku di sini melihat kondisi suamiku yang baru saja di kemoterapi, dia begitu terkejut melihat kedatanganku.


Dari tadi dia melihatku dan tidak mau beristirahat akhirnya aku berjanji saja mataku mungkin juga berpikir bahwasanya aku sudah tertidur tapi tidak aku hanya pura-pura saja.


Lima jam kemudian aku mendengar dia memuntahkan seluruh makanannya di kamar mandi.


Aku begegas pergi ke kamar mandi memijit bahunya, dan membatunya berjalan menuju ranjangnya.


"Aku nampak lemah di hadapanmu," katanya padaku


"Tidak selalu harus terlihat kuat ini pun membuktikan bahwa kamu kuat bertahan dalam menghadapi penyakitmu," kataku padanya.


Dia pun masih kuat untuk menjadi imam sholatku dan bacaannya pun masih bagus walaupun terkadang kulihat dia meringis kesakitan.


Siang berganti sore diganti malam, aku selalu menguatkannya, agar terus berjuang untuk melawan penyakitnya, aku selalu bilang bahwa aku membutuhkannya dan dia pun tersenyum lalu memelukku dan mencium kening ku.


Aku tidak tahu bagaimana perasaanku tapi yang jelas aku senang berada di sisinya dan bisa merawatnya dengan baik


Suamiku kemoterapi setiap hari hingga lima hari kedepan. Setiap hari ku temani dia di ruang kemoterapi.

__ADS_1


Setiap selesai kemoterapi lima jam kemudian dia akan memuntahkan kembali makanan yang telah di makannya. Wajah terlihat sangat pucat.


Ini adalah hari terakhirnya dia melakukan kemoterapinya.


aku kembali mendampinginya di ruangan itu. Setelah mendapatkan kemoterapi melalui suntikan aku mendorong kursi rodanya kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar aku pun membantunya untuk berbaring di ranjangnya. Lalu kusuapi makanan yang di buatkan oleh istri dokter Arseel.


"Aku seperti bayi besar saja," katanya padaku.


Kemarin istri Dokter Arseel menemuiku dan bercerita banyak hal padaku


"Mbak, Aku senang kau tahu Kak Rudi mempunyai penyakit yang serius aku senang Mbak mau merawatnya, kak Rudi adalah di balik kesuksesan suamiku Mbak, tanpa dia Dokter Arseel tidak menjadi dokter, dia sudah seperti kakakku sendiri. Ini sudah ku tulis semua makanan yang harus kakak siapkan sehabis kemoterapi," katanya padaku.


Dia memelukku dengan erat dan berbisik, "Tolong jaga kakakku, Mbak!"


"Terimakasih telah menjaga asupan gizinya selama selama di rawat di sini," kataku padanya.


"Sama-sama kak," katanya kemudian pergi meninggalkanku, aku menatap punggung wanita itu sampai menjauh dari pandangan mata.


Aku kembali masuk ke dalam ruang rawat suamiku. Dia melihatku dan melambaikan tangannya padaku menyuruhku untuk mendekat, aku pun berjalan menuju ke arahnya dan duduk didepan ranjangnya.


"Aku sangat rindu padamu, maukah kamu memelukku," katanya padaku.


Lalu aku memeluknya, sambil berkata, "Sehatkan dulu tubuhmu nanti akan kuberi hadiah yang indah."


di malam hari dia pun terlelap dengan sangat cepatnya setelah kepeluk hangat dan besok suamiku sudah diperbolehkan pulang sehinga malam ini aku harus mengemasi semua pakaian suamiku dan aku tata dalam koper, Kami akan berangkat di pagi hari.


Setelah itu aku tidur kembali di ranjang suamiku memang sangat sempit tapi dia yang menginginkannya untuk ku peluk.


Kami terbangun di waktu subuh lalu menunaikan salat subuh berjamaah kemudian kami pun bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta


Dokter Arseel sudah membawakan sarapan pada kami saat hari masih sangat pagi.


"Tidak usah naik taksi nanti biar aku yang mengantar sampai ke bandara," katanya padanya kami.


"Nggak usah, Sell. Kami naik taksi juga nggak apa-apa," kata suamiku pada Dokter Arseel.


"Jangan menolak! Sebentar lagi Kamu tidak akan pernah bisa bertemu denganku, kalau aku tidak datang ke Jakarta," kata Dokter Arseel.


"Aku naik apa saja juga tidak apa-apa asal sama istriku," katanya sambil terkekeh.


"Yah, kekuatan cinta ya seperti ini kemarin saja masih lemas sekarang sudah lebih sehat, segar dan bugar," kata dokter Arseel.


"Kau bisa saja, Sell," kata suamiku pada dokter dan sahabatnya.


Kami akhirnya berangkat menggunakan mobil dokter Arseel, kami berada di tempat duduk bagian tengah sementara dia duduk di belakang kemudi.


"Ini benar-benar kayak supir taksi aku, kalian berdua di situ," kelakar dokter Arseel


"Kan kamu yang minta sendiri untuk mengantarkan kami? Lah kalau duduknya terpisah kan aku jadi lemes lagi nanti," kata mas Rudi pada temannya itu.


"Ya, Karena Anda Nyonya dia sekuat baja," canda Dokter Arseel.


Aku hanya tertawa saja mendengar perdebatan mereka, sungguh sesuatu pertemanan yang benar-benar hangat.


Selama Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai ke Bandara Juanda, aku dan suamiku keluar dari mobil Dokter Arseel.


"Sudah gak usah antar kedalam pasienmu masih banyak," kata suamiku pada sahabatnya


Dokter Arseel melambaikan tangannya pada kami, lalu menutup jendela mobilnya dan berjalan meninggalkan bandara.


Suamiku menyeret kopernya sambil menggamit pinggangku menuju ke terminal keberangkatan lalu melewati ruang pemeriksaan dan masuk dalam pesawat.


Aku dan suami duduk dalam deretan kursi yang sama lalu memasang sabuk pengaman, tak lama kemudian lepas landas.


Kami menempuh perjalanan selama dua jam, untuk sampai ke bandara. Setelah itu kami turun dari pesawat dan berjalan menuju ke terminal kedatangan, di mana taksi yang telah kami pesan, sudah menunggu di sana.


Setelah sampai di depan taksi yang kami pesan dan kami pun masuk ke dalam lalu taksi itu pun berjalan meninggalkan bandara.


Perjalanan selama dua jam kami tempuh untuk bisa sampai ke rumah suamiku, kami pun keluar dari taksi lalu masuk ke dalam rumah kami yang sudah satu minggu lebih tidak ditinggali.


Sampai di dalam aku pun menyiapkan air hangat dan juga sabun cair dan orama terapi.


"Mandi dulu Sudah aku siapkan air hangat," kataku pada suamiku.


Dia pun menghampiriku. "Nggak sama kamu, Cantik?" tawarnya padaku.

__ADS_1


Aku terkekeh. "Sehatkan dulu dirimu, Mas!"


Suami pun berjalan dan masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai menghilang dibalik pintu.


__ADS_2