
Aku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan kembali lagi lalu mengambil shaf di belakang suamiku.
Kami pun sholat ashar berjamaah setelah selesai berdoa dan berdzikir, aku mencium punggungnya dan suamiku itu mencium keningku.
Dia melipat sajadahnya dan menaruh di atas nakas lalu tanpa bicara ia menarik tanganku menuju balkon hotel.
"Kita lihat matahari terbenam dari sini dulu ya, sayang. Nanti kalau badan Mas sudah enakan kita jalan-jalan lagi, kemanapun akan ku turuti," katanya sambil melingkarkan tangannya di perutku.
"Iya gak apa-apa, Mas," kataku sambil mendongak keatas
"Maaf, yaa sayang harusnya Hari ini aku bisa buat kamu bahagia nyatanya malah jadi buat kamu panik," katanya padaku.
"Ya, gak apa-apa, Mas. Kamu itu terlalu ingin membuat aku bahagia, sampai gak menghiraukan tubuhmu sendiri," kataku padanya.
Suami semakin erat memelukku di sandarkan dagunya di atas bahuku. Ku belai pipinya, aku tak mengira sekarang aku berada di dekapan pengawalku yang selalu ada di dekatku.
Kami menikmati senja yang terlihat indah dengan kegundahan hatiku yang tidak di ketahui suamiku itu, aku tetap tertawa saat suamiku mulai nakal dengan tangannya yang tak mau diam, hingga adzan magrib berkumandang, dan kami masuk kedalam kamar.
Kami melaksanakan sholat magrib lalu dan sambil menunggu sholat isya itu suami melantunkan ayat suci Al-Quran dari mushaf kecil yang di bawahnya setiap saat.
Selama ini aku hidup dalam kepura-puraan, banyak orang yang mengira pemilik club adalah aku. Namun, tidak demikian kenyatannya. Club itu milik Yudit, dia tahu Mirna tak akan berhenti untuk mengacaukan hidupku sampai aku benar-benar terlihat buruk di mata mas Erwan.
Waktu isya pun tiba kami melaksanakan sholat isya bersama setelah itu kami makan malam, Setelah selasai aku pamit ke kamar mandi memberikan waktu pada suami untuk meminum obatnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku kembali kulihat suamiku tengah tersenyum padaku dan memintaku duduk di sampingnya. Aku pun datang padanya dan duduk di sampingnya
"Mas, lebih baik kamu tidur biar besok bisa beraktivitas lagi, kamu kan bilang lagi kecapean kan?" tanyaku padanya.
Dia menggangguk dan mulai membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya aku memeluknya agar dia segera tertidur.
Lima belas menit kemudian terdengar dengkuran halus dari bibir suamiku. Aku mengambil handphoneku dan melihat apakah ada pesan Wa atau tidak ternyata ada.
Aku membaca pesan Wa tersebut dan tertegun. Obat yang di miliki suamiku adalah obat untuk penderita kangker otak.
Rasa sedih ketika tahu sang suami menyembunyikan penyakitnya demi agar aku tidak sedih. Ku tatap wajah suamiku yang terlihat pucat,
padahal wajah itu biasa terlihat sangar dengan tatapan tajam, tetapi ketika tersenyum terlihat sisi lembutnya.
Sebuah tepukan halus di pipi membuatku terbangun ku lihat suamiku sudah duduk di sampingku dengan telah memakai baju koko dan sarung.
Dengan suara serak habis bangun tidur aku bertanya. "Jam berapa?"
"Sudah subuh sayang, mandi sana!" perintahnya padaku.
Aku pun bangun dan masih berjalan sempoyongan di tahanannya tubuhku lalu dengan cepat tiba-tiba melayang, dia menggendongku membawaku ke kamar mandi lalu ia mengambil wudhu setelah itu, keluar.
"Cepat mandi jangan terlalu lama! Aku tunggu!" titahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, aku pun keluar lalu berganti pakaian dan berjalan menuju shaf yang sudah dia siapkan mukenaku di sana. Aku mengambilnya dan mengenakannya, lalu berdiri di belakang suamiku. Kami pun melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai suami ku mengajakku berjalan-jalan kepantai sambil berburu kuliner, akan ada banyak kaki lima yang menjajakan makanannya di sana.
Benar juga di pagi hari warung-warung tenda sudah buka dengan menu makanan yang mengundang selera.
Kami pun makan di warung yang menawarkan ikan bakar yang dipenyet dengan sambal dan dihidangkan di atas cobek
Kami pun makan dengan menikmati suasana pantai di pagi hari kulihat suamiku terlihat segar hari ini.
Setelah makan aku berpamitan untuk melihat ombak pantai lebih dekat, sekali lagi ku buat alasan agar suamiku bisa meminum obatnya tanpa aku mengetahuinya.
Pantai ini ombak sangat besar sudah ada yang bermain selancar di pagi ini. Ombak besar tiba-tiba mengarah ke arahku dan tangan kokoh bertengger di perutku serta menarikku mundur.
"Jangan terlalu dekat, sayang.'' Suara merdu terdengar di telingaku, aku menoleh dan tersenyum.
"Ku kira masih di sana minum kopi dan merokok?" tanyaku pada Mas Rudi sambil tertawa.
"Nggak bisa menikmati itu, sayang, karena kau suka sekali membahayakan dirimu," katanya padaku.
Aku tertawa melihat wajah yang sedikit serius menguwatirkanku.
"Kau ingin kemana? Aku sudah sewa mobil untuk bepergian kemanapun kau inginkan," katanya padaku.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....